Thursday, 29 October 2009

Goes to Kuala Lumpur & Singapore

Sabtu, 24 Oktober 2009, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Informatika kembali ke Tanah Air sepulang dari melakukan lawatan Studi Komparatif dan Misi Pariwisata ke Kuala Lumpur dan Singapore. Rombongan yang ketuai oleh Ketua Program Studi PTI Supratman Zakir, M. Pd., M. Kom berjumlah 34 orang mahasiswa dan 3 orang Dosen Pemdamping, Zakaria Aziz, M. Pd., dan Noviardi, ST., MA. Rombongan bertolak ke Kuala Lumpur Pada Hari Senin Tanggal 19 Oktober 2009 dengan Penerbangan Air Asia,

Selasa Tanggal 20 Oktober 2009, rombongan mengunjungu Fakulti Teknologi dan Sains Maklumat Universiti Kebangsaan Malaysia, kunjungan ini dilakukan dari Jam 09.00 sampai 13.00 Waktu Setempat, setelah kunjungan resmi rombongan menuju Kawasan Putra Jaya.

Rabu, 21 Oktober 200, rombongan bertolak ke Fakulti Saians Komputer dan Teknologi Maklumat, University of Malaya, acara berlangsung dari jam 09.00 s/d 13.00 waktu setempa. Setelah kunjungan resmi selesai rombongan berangkat menuju KLCC kawasan Menara Kembar (Petronas).Pada Jam 07.00 Malam rombongan bertolak ke Singapore.

Sekitar jam 08.00 waktu setempat rombongan sampai di Singapore. To be Continue untuk Mahasiswa angkatan 2008











Serah terima kenang-kenangangan kepada Pejabat Dekan Fakulti Teknologi dan Sains Maklumat Universiti Kebangsaan Malaysia Prof. Dr. Abdullah Mohd. Zin.











Lagi di Putra Jaya













di Singapore











Fhoto Bersama Pejabat Dekan Fakulti Computer Science & Teknologi Maklumat University of Malaya Prof. Dr. David Lee

Tuesday, 23 December 2008

Ketika Tradisi tanpa Evaluasi

TRADISI TANPA EVALUASI
“Untuk orang-orang yang merasa peduli”


Tulisan ini merupakan sebuah refleksi yang beranjak dari keinginan untuk menjadikan "kampusku" tidak lagi sebagai sebuah Perguruan Tinggi yang termarginalkan akan tetapi menjadi sebuah perguruan tinggi yang “orang” di dalamnya (Dosen – Mahasiswa – Karyawan) ” merasa bangga menjadi bagian dari "kampusku". Tapi keinginan tersebut makin hari makin terkikis, makin pupus dan hampir tenggelam ketika melihat kondisi, ketika melihat perilaku yang berkiblat pada “tradisi” tanpa adanya evaluasi apalagi edukasi.
Kondisi tersebut dicoba untuk diterobos dengan melakukan inovasi-inovasi dalam rangka membuka mata, telinga dan hati dengan maksud perilaku “tradisi” dapat berubah menjadi perilaku yang profesional dan proporsional. Tidak heran beberapa SDM “bergizi” istilah kami di kampus kita yang tercinta ini, satu persatu mulai menjauh, dan tidak menutup kemungkinan yang lain akan mengikuti jejak yang sama. Situasi ini jelas akan merugikan kita semua, terutama "kampusku" secara institusi.
Kondisi akan semakin parah jika komponen SDM masih memiliki pola pikir “PNS lama” – maju atau mundurnya "kampusku", gaji juga sebanyak itu – jika pola pikir ini telah dan masih akan menjadi pegangan, maka otomatis "kampusku" akan tetap seperti dulu, sekarang dan akan datang, dan parahnya akan “kuadrad” jika para pimpinan masih tetap mempertahankan kondisi dan “tradisi” ini.
Sebanarnya masih banyak orang-orang yang memiliki idealisme dan kompetensi untuk membesarkan "kampusku", akan tetapi komunikasi yang kurang, koordinasi yang tidak jelas, administrasi yang “kadaluarsa” itu semua menjadikan kita terhambat, terjebak dalam “guyonan” bahkan cemoohan “lapau”.
Refleksi di atas beranjak dari pengalaman, yang membuat rintihan dan gejolak hati sehingga akhirnya melahirkan jiwa pemberontakan. Hal itu dikarenakan “kebijakan - policy” tradisi, dan kalau boleh disebutkan dengan istilah “kebijakan usang” yang justru di kampus ini seolah kebijaka baru. Ingat, Kita sudah heterogen, memiliki pengalaman yang berbeda. Apakah kita harus “berkeringat” sehingga putus urat leher kita mempertahankan “tradisi” yang sebenarnya boleh kita katakan “kuno, usang, tidak update”, dan seperti telah diuraikan di atas hanya akan menjadi bahan “guyonan” bahkan “cemoohan”.


Sebenarnya masih banyak lagi kebijakan “tradisi” yang harus kita pertanyakan lagi, tapi dasar ngantuk sudah mendera, maka sampai disini dulu, dan sebentar lagi edisi mahasiswa akan hadir. Tunggu ya….!
Oh ya , yang terakhir nih, bulan November dan Desember adalah bulan kesukaan kampus kita, karena pada kedua bulan tersebut buanyak sekali kegiatan. Dosen pelatihan, mahasiswa pelatihan, pokoknya semuanya. Akhirnya kuliah terbangkalai.

Udah sekian dulu, semoga bermanfaat. Tetap semangat. Maju Kampusku

Wednesday, 6 August 2008

Polisiku....oh ....Polisiku - 2

Kejadian sebelumnya mengingatkan saya pada kejadian beberapa tahun silam. ketika itu Plaza Andalas Padang baru saja beroperasi, yang mengakibatkan beberapa jalan berubah arah. salah satunya adalah jalan yang ada di sepanjang bantaran tepi laut (Jalan Samudera).

pada salah satu jalan yang sebelumnya boleh lewat, saat itu tdk boleh dilewati. kejadian yang membuat citra polisi semakin buruk, kelam, jelek adalah ada beberapa orang polisi yang berdiri tepat dibawah rambu dilarangan lewat (karena memang masih dalam tahap sosialisasi).

lucunya, si Polisi sepertinya sengaja membiarkan saya untuk melewati jalan yang dilarang lewat, ketika saya sudah melewati jalan tersebut barulah si polisi memberhentikan saya, serta mengambil SIM dan STNK saya, lalu meminta uang Rp. 39.000.

akhirnya... terpaksa uang Rp. 40.000 lenyap di telan oleh polisiku....

apasih salahnya ketika kita tidak tahu, lalu memberitahu pengguna jalan untuk melewai jalan yang seharusnya dilewati, bukannya membiarkan lewat pada jalan yang dilarang lalu menilang dan meminta uang..????
Mana semboyan, mengayomi, melindungi, melayani masyarakat....???
BOHONG, PENIPU, PERAMPOK UANG RAKYAT

Polisiku....oh ....Polisiku

Beginilah Polisiku....!

Kisah ini terjadi ketika kami Dinas luar kota (ke Kota Padang, kami dari Bukittinggi). ketika lewat depan Matahari Plaza Padang, kami di stop oleh dua orang polisi...oooo memang kiranya kami lupa menggunakan sabuk pengaman. habis... kami baru jalan sekitar 5-10 meter dari tempat kami berhenti.

setelah menanyakan prosedur baku (SIM, STNK), si Polisi (AFRINAL), mulai melakukan negosiasi dengan sopir kami, pertama si sopir minta pendapat kami. Ya..udah minta saja surat tilang, Si Polisi, tdk mau malah dia minta UANG Rp. 69.000., akhirnya si sopir konasultasi dengan kami lagi. Nggak usah minta saja surat tilang pesan kami sama sopir. Tapi akhirnya... mungkin si sopir tidak mau repot. sipolisi minta UANG rP. 50.000, tapi si sopir hanya memberi Rp. 25.000. dan itupun di terima oleh SI AFRINAL, si polisi kita.... polisis...polisi....!

Tuesday, 29 July 2008

Anakku suka memilih

Ketika Anakku Bertanya Tentang "ALLAH" -5

Suatu ketika kami menyuruh anak kami Sefza Auma Tiang Alam untuk mengerjakan PR-nya. kebetulan ketika itu saya sedang capek-capeknya pulang kerja. ketika disuruh mengerjakannya dengan Bundanya, dia malah minta sama saya..

Sefza.. sama bunda aja ya..? kata bundanya. nggak... sefza pingin sama ayah..katanya.
akhirnya ya .. dia mengerjakan PR-nya sama saya.

suatu ketika lagi, Bundanya sedang sibuk buat Program Komputer, lalu saya memintanya untuk membaca Al-Qur'an. Sefza baca Al-Qur'an sama ayah ya.. Tidak... katanya..sefza mau sama Bunda.. waduuuuh..anakku.

Ayah...Allah dimana Yah..?

Ketika Anakku Bertanya tentang "ALLAH" - 4


Kisah berikut terjadi setelah beberapa hari anakku "diwisuda" TK. Ayah.. katanya. Allah itu dimana sih..?. Allah itu selalu dekat kepada orang yang rajin Shalat, rajin mengaji, rajin belajar, jawab saya.
Sefzakan rajin belajar, tapi kok Sefza nggak pernah lihat Allah..? ketusnya lagi. Sayapun mulai bingung bagaimana menjawab pertanyaan tersebut yang sesuai untuk konsumsinya.

Sefza.. Allah itu tidak bisa kita lihat, tapi Allah bisa lihat kita, Allah itu Tuhan yang menciptakan kita semua, manusia, semua binatang, tumbuhan dan semua yang ada di Bumi. Anakku hanya diam... apakah dia mengerti atau tidak dengan jawaban saya

Sunday, 27 July 2008

Jangan bunuh Makhluk Allah

Ketika Anakku bertanta tentang "ALLAH" - 3

Suatu ketika anakku sedang mengejar kucing dan ingin melemparnya dengan batu, tapi tiba-tiba bundanya melarangnya, dengan berkata : Sefza, jangan dilempar nanti kucing itu mati bagaimana, kita tidak boleh membunuh makhluk Allah.

maka diapun tidak jadi melempar kucing tersebut, lalu dia langsung menghampiri bundanya.
Bunda...katanya, nyamuk itu makhluk Allah ya...?, ular itu apa juga makhluk Allah ya..?. Lalu bundanya menjawab.. iya itu semua makhluk Allah.

lalu dia bertanya lagi.. tapi kenapa kita boleh membunuh nyamuk...? dan ular kata teacher saya di sekolah juga boleh dibunuh

Setan Tidak Lari

Ketika Anakku Bertanya Tentang "ALLAH" -2

Suatu hari saya mengajak anak saya Sefza Auma Tiang Alam untuk sholat Ashar, tapi dia maleeeees bangat..lalu Bundanya bilang, sefza kalo malas coba baca A'uzubillahiminas Syaithanirrajiim...
lalu dia membaca yang yang disuruh oleh bundanya.

tapi dasar anak kecil, lalu dia bilang..tuh.. setannya nggak lari.. sefza malas nih sholat, berarti setannya kan nggak lari...
kami berdua senyum-senyum sambil gelang kepala.

Ketika Anakku Bertanya


Ketika Anakku Bertanya tentang "ALLAH" - 1


Anakku Sefza Auma Tiang Alam, yang lahir 5 tahun yang lalu tepatnya tanggal 8 Oktober 2002, sering membuat kami (saya dan isteri) kebingungan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang memang sulit untuk dijawab. Untuk menjawab pertanyaannya yang "notebene" juga sulit dijawab jika ditanyakan oleh orang dewasa.


Suatu hari, anakku bertanya....

Yah...... planet itu dimana....? lalu saya menjawab.... nak.. planet itu banyak ada bumi, ada mars ada pluto... sekarang kita berada di planet bumi...dan planet yang lainnya jauh sekali

Kalo Power Ranger di planet Mars ya yah....?, sambungnya lagi...
Power Ranger itu hanya Film, hanya cerita saja...

tapikan Power Ranger punya pesawat terbang, jadi bisa ke mars sambungnya lagi.
iya..tapi Power Ranger itu hanya di film. trus... banyak orang tidak di Planet Mars..? sergahnya lagi..
Di planet mars tidak ada yang hidup, tdk ada orang, tidak ada binatang...jawab saya. Kenapa tidak ada yah...? sergahnya dengan cepat...?
waduhnya, saya saya makin kewalahan dengan pertanyaan-pertanyaan anakku.

Tuesday, 6 May 2008

KNOWLEDGE DISCOVERY PROCESS

A ROUGH SET-BASED KNOWLEDGE
DISCOVERY PROCESS

Oleh : SUpratman Zakir

Knowledge Discovery from Database (KDD) merupakan tahapan atau fase yang menyertai tahapan numeric, seperti Preperasi data, pencarian hipotesis untuk digeneralisasi, formasi pola, evaluasi knowledge, representasi serta manajemen. Proses yang multi fase tersebut merupakan methodology yang sangat penting untuk menemukan pengetahuan dalam data yang sesungguhnya.

Teory Rough set merupakan basic bagi KDD dan digunakan dalam KDD. Istilah knowledge discovery in databases (KDD) dan data mining sering kali digunakan secara bergantian untuk menjelaskan proses penggalian informasi tersembunyi dalam suatu basis data yang besar. Sebenarnya kedua istilah tersebut memiliki konsep yang berbeda akan tetapi berkaitan satu sama lain. Dan salah satu tahapan dalam keseluruhan proses KDD adalah data mining. Proses KDD secara garis besar dapat dijelaskan sebagai berikut

Data Selection
Pemilihan (seleksi) data daru sekumpulan data operasional perlu dilakukan sebelum tahap penggalian informasi dalam KDD dimulai. Data hasil seleksi yang akan digunakan untuk proses data mining, disimpan dalam suatu berkas, terpisah dari basis data operasional.

Pre-processing/ Cleaning
Sebelum proses data mining dapat dilaksanakan, perlu dilakukan proses cleaning pada data yang menjadi fokus KDD.
Proses cleaning mencakup antara lain membuang duplikasi data, memeriksa data yang inkonsisten, dan memperbaiki kesalahan pada data, seperti kesalahan cetak (tipografi).
Juga dilakukan proses enrichment, yaitu proses “memperkaya” data yang sudah ada dengan data atau informasi lain yang relevan dan diperlukan untuk KDD, seperti data atau informasi eksternal.

Transformation
Coding adalah proses transformasi pada data yang telah dipilih, sehingga data tersebut sesuai untuk proses data mining. Proses coding dalam KDD merupakan proses kreatif dan sangat tergantung pada jenis atau pola informasi yang akan dicari dalam basis data

Data mining
Data mining adalah proses mencari pola atau informasi menarik dalam data terpilih dengan menggunakan teknik atau metode tertentu. Teknik, metode, atau algoritma dalam data mining sangat bervariasi. Pemilihan metode atau algoritma yang tepat sangat bergantung pada tujuan dan proses KDD secara keseluruhan.

Interpretation/ Evaluation
Pola informasi yang dihasilkan dari proses data mining perlu ditampilkan dalam bentuk yang mudah dimengerti oleh pihak yang berkepentingan. Tahap ini merupakan bagian dari proses KDD yang disebut dengan interpretation. Tahap ini mencakup pemeriksaan apakah pola atau informasi yang ditemukan bertentangan dengan fakta atau hipotesa yang ada sebelumnya.


Proses KDD secara garis besar memang terdiri dari 5 tahap seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Akan tetapi, dalam proses KDD yang sesungguhnya, dapat saja terjadi iterasi atau pengulangan pada tahap tahap tertentu. Pada setiap tahap dalam proses KDD, seorang analis dapat saja kembali ke tahap sebelumnya. Sebagai contoh, pada saat coding atau data mining, analis menyadari proses cleaning belum dilakukan dengan sempurna, atau mungkin saja analis menemukan data atau informasi baru untuk “memperkaya” data yang sudah ada.


KDD mencakup keseluruhan proses pencarian pola atau informasi dalam basis data, dimulai dari pemilihan dan persiapan data sampai representasi pola yang ditemukan dalam bentuk yang mudah dimengerti oleh pihak yang berkepentingan. Data mining merupakan salah satu komponen dalam KDD yang difokuskan pada penggalian pola tersembunyi dalam basis data.


Generalized Distribution Table and Rough Set System
GDT merupakan sebuah sistem induksi yang mudah untuk menemukan aturan-aturan pengklasifikasian dari database dengan data yang tidak lengkap dan tidak pasti (Zhong, dkk., 1998, Dong dkk., 1999a). Sistem tersebut didasarkan atas hibridisasi dari Tabel Distribusi Generalisasi (GDT, Generalization Distribution Table) dan metodologi Rough Set. Dari data pelatihan yang tidak lengkap, system GDT-RS dapat menghasilkan sekumpulan aturan dengan panjang deskripsi yang minimal (semi minimal), yang mempunyai kekuatan yang besar dan mencakup semua contoh-contoh.

Terdapat dua jenis atribut dalam sebuah database yaitu atribut kondisi dan atribut keputusan yang kadang disebut atribut kelas. Atribut kondisi digunakan untuk menggambarkan contoh-contoh yang memungkinkan dalam GDT, sedangkan atribut keputusan berhubungan dengan konsep-konsep (kelas-kelas) yang tergambar dalam sebuah aturan. Biasanya, sebuah atribut keputusan yang tunggal sudah merupakan semua yang dibutuhkan.
Sebuah GDT terdiri dari tiga komponen, yaitu contoh-contoh yang memungkinkan, generalisasi yang memungkinkan dari contoh-contoh, dan hubungan probabilitas antara contoh-contoh yang memungkinkan dan generalisasi-generalisasi yang memungkinkan.

Contoh-contoh yang memungkinkan, yang digambarkan di puncak baris GDT, ditetapkan oleh semua kombinasi yang memungkinkan dari nilai-nilai atribut dari suatu database. Generalisasi-generalisasi yang memungkinkan dari contoh-contoh, yang digambarkan oleh kolom kiri dari sebuah GDT, semuanya merupakan kasus-kasus yang memungkinkan dari generalisasi untuk semua contoh-contoh yang memungkinkan.

Hubungan-hubungan probabilitas antara contoh-contoh yang memungkinkan dan generalisasi-generalisasi yang memungkinkan , yang digambarkan dengan entri-entri Gij dari sebuah GDT yang diberikan, ditentukan dengan menggunakan distribusi probabilitas yang menggambarkan kekuatan hubungan antara contoh-contoh manapun dan generalisasi yang memungkinkan manapun. Distribusi utama diasumsikan menjadi seragam jika latar belakang pengetahuan tidak tersedia. Karena itu, hal ini dibatasi dengan
dimana Pij adalah j-th contoh yang memungkinkan, PG adalah i-th generalisasi yang memungkinkan, dan Npg adalah jumlah dari contoh-contoh yang memungkinkan yang memenuhi i-th generalisasi yang memungkinkan tersebut, contoh:

dimana Pgi{l} adalah nilai dari atribut l-th dalam generalisasi yang memungkinkan Pgi, dan nk adalah angka dari nilai-nilai dari atribut k-th. Pastinya, kita mempunyai EjGij =d1 untuk i apasaja.

Lebih jauh lagi, penemuan aturan tersebut dapat didesak oleh tiga tipe bias yang berhubungan dengan tiga komponen GDT, sehingga pengguna dapat memilih deskripsi-deskripsi konsep yang lebih umum dari sebuah level yang lebih tinggi atau konsep yang lebih khusus dari sebuah level yang lebih rendah, menyesuaikan kekuatan dari hubungan antara contoh-contoh dan generalisasinya, dan menentukan/memilih contoh-contoh yang memungkinkan (Zhong dkk., 1998).

Penyederhanaan Tabel Keputusan dengan GDT-RS
Proses penemuan aturan terdiri dari pemrosesan tabel keputusan termasuk seleksi dan pengurangan dari atribut-pelengkapan (fitur-fitur) yang relevan, dan penghasilan aturan keputusan yang tepat. Aturan-aturan keputusan yang relevan dapat disebabkan oleh aturan-aturan minimal (yaitu dengan panjang minimal dari sisi-sisi kirinya mengenai discernibility antara keputusan-keputusan) dengan menyetelnya (contohnya, menurunkan beberapa kondisi untuk mendapatkan aturan-aturan yang lebih general yang lebih baik dipredisposed untuk mengklasifikasian objek-objek yang baru walaupun objek-objek tesebut tidak mengklasifikasian dengan baik beberapa objek dari kumpulan pelatihan). Aturan –aturan yang relevan dapat disebabkan oleh kumpulan semua aturan-aturan yang minimal tersebut, atau dari sub-kumpulannya yang mencakup kumpulan objek-objek dari sebuah tabel keputusan yang diberikan. (Komorowski dkk., 1999; Pawlak dan Skowron, 1993). Sebuah pendekatan yang representatif untuk masalah dari generasi tersebut yang biasa disebut reducts relatif lokal dari atribut kondisi merupakan satu-satunya yang akan mewakili pengetahuan yang akan memelihara kedapatan dilihat antara objek-objek dengan menggunakan fungsi-fungsi kedapatan dilihat (Pawlak, 1991; Skowron dan Rauszer, 1992).

Jelas bahwa dengan menggunakan GDT satu contoh dapat dipasangkan dengan beberapa generalisasi-generalisasi yang memungkinkan, dan beberapa contoh-contoh dapat di generalkan ke dalam satu generalisasi yang memungkinkan. Penyederhanaan sebuah tabel keputusan dengan menggunakan sistem GDT-RS tersebut membawa pada satu kumpulan generalisasi minimal (atau sub-minimal) yang mencakup semua contoh-contoh. Tujuan utamanya adalah untuk menemukan sesuatu yang relevan (yaitu: minimal atau semi-minimal yang berkenaan dengan ukuran gambaran) yang mencakup tentang contoh-contoh yang masih membolehkan kita untuk memecahkan konflik-konflik antara aturan-aturan keputusan yang berbeda yang mengenali objek-objek baru. Langkah pertama dalam sistem GDT-RS untuk generasi aturan keputusan didasarkan pada penghitungan reduct-reduct relatif lokal dari atribut-atribut kondisi dengan menggunakan metode matrik kedapatan dilihat (Bazan dan Szczuka, 2000; pawlak, 1991; skowron dan Rauszer, 1992).

Lagipula, dari pada mencari atribut-atribut yang dapat dikeluarkan, lebih baik mencari atribut-atribut yang relevan yang menggunakan sebuah metode bottom-up. Contoh-contoh yang cocok dengan generalisasi apapun dengan keputusan yang berbeda-beda sebaiknya dicek dengan (6). Jika level suara lebih kecil daripada satu nilai treshold, seperti sebuah generalisasi dianggap sebagai sesuatu yang masuk akal. Jika tidak, generalisasi tersebut akan bertentangan.

Lebih jauh lagi, sebuah aturan dalam GDT-RS dipilih menurut prioritasnya. Prioritas tersebut dapat dibatasi dengan jumlah contoh-contoh yang dicakup oleh sebuah aturan (yaitu semakin banyak contoh-contoh yang dicakup, semakin tinggi prioritas tersebut), atau dengan kekuatan aturan (Zhong dkk., 1998).

Mencari Algoritma Untuk Satu Kumpulan Yang Optimal Dari atribut
Sekarang kita membuat outline ide mencari algoritma untuk satu kumpulan aturan yang dikembangkan (Dong dkk., 1999a) dan didasarkan atas metodologi GDT-RS. Kita menggunakan sebuah tabel keputusan sampel yang terlihat dalam Tabel 1 untuk menggambarkan ide tersebut. Biarkan suara menjadi sebuah nilai treshold.




Langkah 1. Buat GDT tersebut
Jika latar belakang pengetahuan sebelumnya tidak tersedia, distribusi suatu generalisasi terdahulu dikalkulasikan dengan menggunakan persamaan (1) dan (2).

Langkah 2. Pertimbangkan kelas-kelas ketidakdapatan dilihat menurut atribut kondisi kumpulan C (seperti U1, U3 dan U5 dalam database sampel dari Tabel 1) sebagai satu contoh, yang disebut contoh gabungan (seperti U1=[U1] IND (a,b,c) dalam tabel berikut). Kemudian generalisasi-generalisasi kemungkinan dapat dikalkulasikan dengan benar.

Langkah 3. Untuk contoh U’ gabungan apapun (seperti contoh U’ dalam contoh di atas), biarkan d(U’) menjadi kumpulan kelas-kelas keputusan terhadap contoh-contoh dalam yang mana U’ berada.

Langkah 4. Pilih satu contoh dari U’. Dengan menggunakan ide matriks kedapatan dilihat, buat sebuah vector kedapatan dilihat (yaitu, baris atau kolom mengenai U dalam matriks kedapatan dilihat) untuk u. Sebagai contoh, vector kedapatan dilihat untuk contoh u2:aobici adalah sebagai berikut:

Langkah 5. Hitung semua yang disebut reducts relatif lokal untuk contoh u dengan menggunakan fungsi kedapatan dilihat.

Langkah 6. Bangun aturan-aturan dari reducts lokal untuk contoh u, dan revisi kekuatan dari masing-masing aturan

Langkah 7. Pilih aturan-aturan terbaik dari aturan-aturan (untuk u) yang didapat dalam Langkah 6 berdasarkan prioritasnya (Zhong dkk., 1998).

Langkah 8. kemudian kembali ke Langkah 4. Kalau tidak, terus ke Langkah 9.

Langkah 9. Jika aturan manapun dipilih dalam Langkah 7 mencakup satu contoh dengan tepat , lalu BERHENTI, kalau tidak, dengan menggunakan metode dari Bagian 2.3, pilih satu kumpulan aturan-aturan minimal yang mencakup semua contoh dalam tabel keputusan.

Rough Set with Heuristics (RSH)
RSH adalah sebuah sistem untuk seleksi sub-kumpulan sebuah atribut. Ini didasarkan atas kumpulan-kumpulan yang sulit dengan Heuristik (Dong dkk., 1999b). Perkembangan RSH tersebut didasarkan atas observasi berikut: (i) sebuah database selalu mengandung banyak atribut yang tumpang tindih dan tidak penting untuk penemuan aturan; (ii) jika atribut-pelengkapan yang tumpang tindih ini tidak dibuang, tidak hanya kompleksitas waktu dari penemuan aturan akan meningkat tapi juga kualitas dari aturan-aturan yang ditemukan dapat turun secara signifikan.

Tujuan dari seleksi atribut adalah untuk menemukan sebuah sub-kumpulan optimal dari atribut-atribut menurut beberapa kriteria sehingga satu penggolong dengan kemungkinan keakuratan tertinggi dapat disebabkan oleh sebuah algoritma belajar induktif yang menggunakan informasi tentang data yang tersedia hanya dari atribut-atribut sub-kumpulan.

Beberapa konsep dari rough set yang berhubungan dengan seleksi atribut dalam pra-pemrosesan (Pawlak, 1991). Biarkan C dan D menunjukkan kondisi dan kumpulan-kumpulan atribut dari tabel keputusan T, secara berurutan. Daerah C-positif dari D merupakan kumpulan dari semua objek-objek dari semesta U yang dapat diklasifikasikan dengan kepastian untuk kelas-kelas U/D yang mempekerjakan atribut-atribut dari C, yaitu


Dimana CX menunjukkan perkiraan yang rendah dari kumpulan X tentang C, yaitu kumpulan dari semua objek dari U yang dapat diklasifikasikan dengan pasti sebagai elemen-elemen dari X berdasarkan pada atribut-atribut dari C.
Sebuah atribut dapat dikeluarkan dalam sebuah tabel keputusan T, jika = jika tidak, atribut c dapat dikeluarkan dalam T. Satu kumpulan atribut … disebut sebuah reduct dari C jika ini merupakan sebuah sub-kumpulan atribut minimal yang memelihara kondisi Lebih jauh, kumpulan dari semua atribut yang tidak dapat dikeluarkan dalam C ditunjukkan oleh CORE( C ). Kita mempunyai

Dimana RED (C) adalah kumpulan dari semua reducts C.
Kualitas dari suatu sub-kumpulan atribut R dalam GDT-RS bergantung pada kekuatan dari aturan-aturan yang ditemukan dengan menggunakan sub-kumpulan ini. Semakin tinggi kekuatannya semakin baik sub-kumpulannya. Mencari atribut-atribut yang bermanfaat untuk mendapatkan aturan-aturan dengan rata-rata sampul yang besar dan kekuatan didasarkan atas strategi seleksi yang digambarkan.

Wednesday, 12 December 2007

Nggak lupa dong Jalan-jalan ke Borobudur

Lihat Foto aja dulu ya

Saat mengikuti Training Profesional Linux Operating Sistem di INIXINDO Yogyakarta

Saturday, 29 September 2007

Posisi Iptek


POSISI IPTEK DALAM DAKWAH
Oleh : Supratman Zakir, S. Kom,. M. Pd


Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia
(Q.S. Ali Imran : 110)


A. PENDAHULUAN

Ilmu dan Teknologi berkembangan sejalan dengan kehidupan manusia itu sendiri. Tidak ada satu bagianpun dari kehidupan manusia yang luput dari sentuhan Ilmu dan Teknologi. Dengan bekal akal pikiran yang dimiliki, manusia senantiasa berinovasi menuangkan fantasi yang ada dalam pikirannya menjadi suatu realita yang berguna bagi kehidupan. Dalam banyak hal, inovasi teknologi lahir dari sebuah tantangan .

Teknologi berasal dari kata Yunani yaitu Teknikos yang berarti dibuat dengan Keahlian. Secara luas, teknologi meliputi semua manifestasi dalam arti materil yang lahir dari daya cipta manusia untuk membuat segala sesuatu yang bermanfaat guna mempertahankan kehidupannya. Teknologi bertopang kepada ilmu-ilmu alam dan eksakta yang mewujudkan ilmu-ilmu perencanaan, konstruksi, pengamanan, tepat guna. Sedangkan dalam teknik modern meliputi bidang Industri, manajemen, perekonomian, kedokteran, fisika/kimia nuklir, kebudayaan, kesenian, politik, sosiologi, dll.

Al-qur’an tidak sedikit berbicara tentang teknologi dalam konteknya dengan aktivitas manusia lainnya, karena memang semua yang ada di dunia ini bersumber dari Al-Qur’an.

Industri kapal Nabi Nuh lahir dari sebuah tantangan bagaimana menyelamatkan kaumnya yang beriman dari banjir besar, hingga sekarang teknologi perkapalan tersebut begitu berkembang dari kapal penangkap ikan, transportasi sampai ke Kapal Perang. Teknologi manufaktur Nabi Daud dan Dzulqarnaian berupa peleburan timah dan besi untuk securitas dan berbagai keperluan seperti pembuatan baja besi dan senjata. Suatu revolusi besar terjadi dalam peradaban manusia setelah ditemukannya logam dan besi yang digunakan untuk kemaslahatan manusia mulai dari peralatan yang kecil seperti jarum sampai pada pesawat super canggih seperti Hercules, F16, Concord, Sukhoi, dan lain sebagainya. Kemajuan teknologi kaca dan Marmer dimulai semenjak zaman Nabi Sulaiman, sementara teknologi Kelautan dijelaskan bagaimana Allah menganugerahkan samudra beserta isinya. Teknologi Antariksa juga kita temukan indikasinya dalam Al-Qur’an dalam Surat Ar-Rahman : 55, Allah menantang manusia untuk menejelajahi ruang angkasa dengan syarat manusia harus memiliki serta menguasai ilmu tentang itu. Semua yang dijelaskan Al-Qur’an merupakan rujukan bagi manusia untuk berupaya meningkatkan pengetahuanya dalam mengembangkan teknologi guna kemaslahatan dan kelangsungan kehidupan manusia itu sendiri. Akankah ilmu dan teknologi tersebut saat ini masih berorientasi pada “Realita yang Berguna” bagi kehidupan manusia ?.


B. PERMASALAHAN

Kemajuan Ilmu dan Teknologi begitu berkembang pesat. Manusia yang dianugerahkan Allah akal pikiran merupakan pelaku sekaligus objek dari teknologi itu sendiri, akan tetapi saat ini manusia hampir (sudah) tidak lagi berada pada posisi garis orbitnya. Hal tersebut karena manusia sudah merasa mampu merencanakan, memproses bahkan menciptakan apa yang ia rasakan (inginkan), sehingga lupa dengan kekuatan yang berada diatasnya (ALLAH). Manusia lebih mementingkan Kecerdasannya (Intelekktualitas/IQ) dan melupakan tugasnya sebagai hamba di dunianya (Spritualitas/SQ) serta lupa dengan sesamanya (Emosional/EQ).

Dengan perkembangan ilmu dan teknologi dan perubahan cara pandang manusia yang tidak lagi pada garis orbitnya, akankah ilmu dan teknologi tersebut masih berorientasi pada “Realita yang Berguna” bagi kehidupan kita ?. Mampukah kita berorientasi pada “Realita yang Berguna” bagi kehidupan terhadap ilmu yang kita miliki sehingga berada pada posisi orbitnya ?. Dimana Posisi Teknologi dalam Pergerakan Mahasiswa Islam ?


(Masih adakah dunia ini jika Matahari, Bulan dan Galaksi-galaksi tidak lagi
berada pada garis orbitnya …?)



C. PEMBAHASAN

Semenjak Allah menciptakan Adam, pertama kali yang diberikan kepadanya adalah Ilmu yaitu Allah mengajarkan Nabi Adam al-asmaa’ dimana tidak satupun ciptaan Allah yang diajarkan ilmu tersebut kecuali kepada Adam. Ini mengindikasikan kepada kita bahwa yang pertama harus dipelajari oleh manusia adalah pembelajaran disamping mengetahui Tuhannya (Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Q.S. Al-Mujadilah : 11). Setelah nabi Adam berada di bumi lalu berkembang biak, beliaupun mengajarkan ilmu kepada anak-anaknya diantaranya, kepada Habil diajarkan ilmu bercocok tanam (pertanian), kepada kepada Qabil beliau mengajarkan ilmu berternak (perternakan) sehingga kedua anak beliau berhasil pada bidangnya masing-masing.

Ilmu pengetahuan dan Teknologi senantiasa memperbaharui teori dan analisis yang lampau dan berlangsung terus menerus sesuai dengan kemajuan zaman. Sampai saat ini ilmu pengetahuan dan Teknologi masih dalam keadaan antara kurang dan lengkap, antara samar-samar dan jelas, antara keliru dan mendekati kebenaran. Pada mulanya ilmu pengetahuan bersifat perkiraan; kemudian meningkat menjadi meyakinkan. Tetapi kebenaran ilmu pengetahuan itu bersifat nisbi. Tidak jarang pula kaidah-kaidah ilmiah yang pada mulanya dianggap akurat dan benar, kemudian ternyata menjadi goyah; yang pada mulanya dianggap mantap, kemudian menjadi goncang.

Dewasa ini, perkembangn Iptek tak ada yang mampu menghalanginya, dengan Teknologi Informasi, manusia saat ini seolah tidak dibatasi oleh lautan yang luas gunung yang menjulang dan jarak yang jauh. Internet, sebuah teknologi spektakuler yang dilahirkan oleh manusia telah mampu merobah sifat, prilaku bahkan kebiasaan manusia itu sendiri. Manusia hampir (tidak)lagi ber-Ilah kepada sang Pencipta yang menciptakan teknologi tersebut, kita hampir kehilangan roh, jiwa bahkan jati diri diakibatkan hasil karya kita sendiri, diakibatkan ilmu yang kita miliki dan kita seolah telah bertuhan kepada hasil cipta dan ilmu yang kita miliki.

Mencermati perkembangan sejarah dalam kaitannya dengan IPTEK, sebagai Mahasiswa yang telah mengikrarkan diri sebagai Mahasiswa Islam, memiliki komitmen dalam pergerakan dan perjuangan, memiliki Visi dan Misi yang jelas, tentu kita tidak ingin terjebak dengan kondisi dan cara pandang kebanyakan orang terhadap Teknologi.

Sebagai insan yang mampu menganalisis, mencermati dan sebagai “decision maker”, kita selayaknya dan bahkan sudah merupakan suatu keharusan, untuk menggunakan teknologi-teknologi yang telah dilahirkan manusia tersebut untuk kepentingan dan kemaslahatan ummat. Kezaliman makin merajalela yang dicover oleh teknologi, teknologi fisika/kimia nuklir digunakan untuk pemusnah massal, teknologi informasi tidak hanya digunakan hanya untuk silaturrahmi dan percepatan informasi, tapi sudah lama digunakan untuk penipuan, media perampokan dan bahkan sebagai media kejahatan terkoodinir. Tidak sedikit kezaliman di Internet, tidak sedikit penipuan via alat komunikasi (telpon, HP). Teknologi Industri Baja tidak lagi hanya untuk membuat alat transfortasi seperti pesawat, mobil, kapal tapi sudah digunakan untuk senjata pemusnah dan lain sebagainya.

Kita tidak bisa menghindar dari Teknologi, karena teknologi bagaikan angin, tiada hambatan dan tiada rintangan. Tapi, kenapa kita harus menghindar ?. Bahkan, sebaliknya kita harus memanfaatkan teknologi tersebut sebagai alat pergerakan dan perjuangan, sebagai media pengcover propoganda-propoganda yang dilancar Neo-Zionisme dan Neo-Orientalisme.

Selama ini telah dibentuk sebuah opini, adanya pemisahan antara dunia (Iptek) dengan Akhirat, dan opini tersebut secara tidak sadar dibenarkan oleh kita sehingga terjadilah kondisi seperti yang sekarang ini. Dunia barat (non Islam) dengan Teknologi-teknologi canggihnya, rata-rata mereka hidup makmur, memiliki tingkat kemampuan SDM yang tinggi, tingkat Intelegensia yang tinggi tapi rendah dalam bidang Spritualitas. Dunia Islam sibuk dengan ilmu Akherat dan melupakan Ilmu dunia (Teknologi) dan kita bisa lihat Dunia Islam mana yang mampu membendung kehendak-kehendak dunia barat ? (Al-Haqqu Bila Nizaam Yughallibul Bathil Bin Nizaam).

Sampai saat ini kita hanya bisa didekte oleh mereka-mereka yang menguasai Teknologi, padahal kita punya kekuatan yang Maha Dahsyat, dalam diri kita ada semangat jihad yang tidak mereka miliki. Tapi sayang kita tidak memiliki Teknologi sehingga kita tetap berada dalam posisi yang lemah. Kita telah melupakan sejarah Industri kapal Nabi Nuh, kita telah melupakan sejarah industri senjata Nabi Daud, kita telah melupakan sejarah Ilmu Pertanian Anak Nabi Adam, kita telah melupakan sejarah kekuasaan Nabi Sulaiman. Sejarah hanya tinggal untuk dibaca tapi tidak lagi memberi atsar (dampak) dan motivasi kepada kita untuk berbuat.

Untuk mengimbangi propaganda-propoganda yang dilancarkan Neo-Zeonisme dan Neo-Orientalesme tersebut, kita lihat kembali cara pandang kita terhadap Teknologi.
1. Kita harus meghapus dikotomi Ilmu (Dunia & Akherat) dan dijadikan satu Formula yang sama-sama penting sebagai Pemimpin di dunia ini dan sebagai hamba-Nya
2. Kita harus mampu melihat bahwa Teknologi merupakan suatu media yang harus digunakan dalam pergerakan dan perjuangan dengan menguasai teknologi.

Untuk menghindari terjadinya Crime Technology atau kejahatan teknologi, perlu diseimbangkan antara Tingkat kemampuan Intelegensia (Intellectual Quotient-IQ), Tingkat kemampuan berinteraksi sesama manusia (Emotional Quotient-EQ) serta tingkat kempuan berkomunikasi dengan Tuhan (Spritual Quotient-SQ), sehingga Teknologi tidak lagi menjadi alat penghancur, pemusnah, penipuan bagi manusia tetapi teknologi akan kembali ke garis orbitnya yaitu “realita yang berguna” bagi kehidupan manusia.

Islam, agama yang universal, memiliki pandangan yang luwes, fleksibel terhadap Teknologi, bahkan merupakan anjuran dan tantangan bagi manusia untuk menguasai teknologi, dan untuk menghindarai dari timbulnya sifat manusia yang selalu merasa diri benar, besar dan meraka berkuasa sehingga apa yang telah diraihnya akan mendatangkan mudharat bagai yang lainnya maka islam telah memberi formula yang sangat ampuh diantara, Rukun Iman dan Islam (lampiran).

Selama ini kita hanya hafal akan Rukun Iman dan Rukun Islam tapi tidak pernah menggunakan rukun iman dan Islam tersebut sebagai barometer dalam memandang kehidupan khususnya yang berkaitan dengan Teknologi guna mengimbangi kemajuan Ilmu dan Teknologi.

Kita sudah berhasil, memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, tapi kita tidak memiliki loyalitas, komitmen, kejujuran dan kepekaan serta tingkat komunikasi kita dengan Tuhan rendah maka hati kita akan buta dan dari sinilah akan timbul orang-orang yang berkhianat, orang-orang yang lupa dengan sesamanya. Sebaliknya Tingkat Kemampuan Intelektualitasnya Tinggi, punya komitmen, punya loyalitas serta punya kepekaan yang tinggi tapi lupa dengan Tuhannya maka akan timbul orang-orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Tuhan yang akhirnya koruptor dan dictator akan mencuat. Begitu juga Tingkat kepekaan sesama sangat bagus, tingkat hubungan dengan Tuhan sangat tinggi tapi tidak memiliki tingkat kemampuan Intelegensia yang memadai maka akan timbul orang-orang petapa, yang melupakan kehidupan dunia, melupakan inovasi, melupakan perubahan, padahal sebaik-baiknya manusia adalah yang manusia yang bermanfaat bagi manusia yang lain. Manusia yang parupurna yaitu manusia yang memiliki tingkat Intelegensia yang memadai, tingkat kemampuan berinteraksi dengan sesama yang baik serta manusia yang memiliki hubungan dengan Tuhan yang harmonis. Manusia-manusia inilah yang akan mampu mengimbangi propaganda-propoganda yang dilancarkan oleh dunia non islam saat ini dan dimasa-masa akan datang.



D. KESIMPULAN
1. Mantapkan komitmen tiada hari tanpa belajar dan dakwah
2. Kuasai Teknologi untuk media pergerakan dan Perjuangan
3. Hilangkan Dikotomi pemisahan Ilmu dalam mempelajarinya dan mantapkan bahwa kedua-duanya harus dikuasai.
4. Jadikan Rukun Iman dan Rukun Islam sebagai barometer dalam proses pencapaian Ilmu dan teknologi
5. Tingkatkan Kemampuan Intelektul dengan terus belajar. Kemampuan berinteraksi dengan loyalitas, kejujuran, kepekaan sesama serta meningkatkan kualitas dan kuantitas kemampuan berhubungan dengan Allah.

Friday, 28 September 2007

Perguruan Tinggi Non Akreditasi


PERGURUAN TINGGI DENGAN STATUS
NON AKREDITASI

(Solusi strategis dari Pandangan Pendekatan Sistem)
Oleh : Supratman Zakir


I. PENDAHULUAN

Bila dilihat kondisi objektif Pendidikan Tinggi hari ini, terjadi kenaikan kuantitas yang tajam baik dalam hal jumlah mahasiswa, dosen, maupun tenaga administratif. Kondisi ini telah membawa dampak pada pengelolaan Perguruan Tinggi kearah pengelolaan secara kuantitatif sehingga mendorong tumbuhnya universitas atau mass university yang “kuantitatifisme” yang pada gilirannya akan menimbulkan beragam permasalahan diantaranya sulitnya menegakkan etika akademis seperti :1). Jumlah dosen dan mahasiswa yang terlalu besar akan memperlemah hubungan keakraban yang pada akhirnya sulit untuk membentuk dan menghidupkan suasana ilmiah. 2). Terdapat persaan bangga, baik dari kalangan dosen maupun mahasiswa yang tergabung dalam universitas besar karena prestasi teman sejawatnya yang terkemuka (bukan dirinya) yang ditopang keterkaitan akademis dan masyarakat ilmiah lebih luas. 3). Harapan masyarakat terhadap Perguruan Tinggi atau universitas akan output yang berprestasi dan berdedikasi. 4). Setelah diadakan penilaian ternyata banyak Perguruan Tinggi yang belum terakreditasi atau masih mendapat nilai “D” dalam artian sebenarnya tidak boleh beropersi. 5). Perguruan Tinggi menjadi lahan bisnis yang konsumtif yang menawarkan gelar-gelar simbolik. 6). Manajemen yang amburadul membuat kualitas (mutu ilmiah) Perguruan Tinggi terpuruk lebih dalam.

Melihat hal tersebut di atas tenyata tidak sedikit Perguruan Tinggi di Indonesia baik Perguruan Tinggi Negeri Umum maupun Perguruan Tinggi Negeri bidang keagamaan yang belum terakriditasi apalagi perguruan Tinggi Swasta. Hal ini berarti begitu banyak perguruan tinggi yang tidak boleh beroperasi dalam penilaian BAN. (http://www.ban-pt.or.id)
Kebanyakan di negara berkembang, Perguruan Tinggi belum sepenuhnya dikatakan sebagai “Instrumen Pembangunan” dalam arti yang sebenarnya, tetapi masih banyak menjadi “Simbol Pembangunan” itu sendiri. Stigma kian memasyarakat dan semakin kuat karena Perguruan Tinggi masih terlalu dikontrol oleh negara maju, Pemerintah atau pihak Yayasan (Perguruan Tinggi Swasta) sehingga ia sulit menjadi jati dirinya sendiri yang dikarenakan intervensi yang berlebihan dari pihak-pihak yang merasa berhak untuk ikut campur tangan.

Manajemen yang tertutup (close management) sering kali menjadi kendala kemajuan bagi sebuah Perguruan Tinggi, karena kekuatan finansial lebih unggul dari kualitas Perguruan Tinggi itu sendiri. Kepemimpinan yang bersifat kekeluargaan dan fasilitas yang kurang diperhatikan sering menjadi sorotan BAN dalam penilaian yang akhirnya menjatuhkan vonis non Akreditasi atau hanya memberi nilai “D” pada Perguruan Tinggi yang bersangkutan.
Dari penjelasan di atas maka dapat diidentifikasi berapa permasalahan yang mengakibatkan beberapa atau bahkan banyak perguruan tinggi di Indonesia yang belum atau tidak terakreditasi atau hanya mendapat nilai “D” dengan artian perguruan tinggi tersebut dinilai tidak boleh beroperasi oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN).

Beberapa aspek yang menjadi acuan bagi BAN dalam melakukan penilaian dalam proses akreditasi perguruan tinggi adalah sebagai berikut : 1). Kualitas Lulusan, 2) Profesionalisme dosen dan Karyawan, 3) Fasilitas (Sarana dan Prasarana, 4). Dana, 5). Manajemen, 6). Gaya Kepemimpinan, 7). Birokrasi, 8.) Yayasan keluarga, 9). Lingkungan, 10). Input Mahasiswa, 11). Kurikulum dan 12). Penggunaan Teknologi Informasi. (http://www.ban-pt.or.id/)

Dari beragam aspek di atas, seyogyanya dapat dikaji peraspek secara mendalam dan konfrehensif. Akan tetapi dalam artikel ini hanya membahas secara umum yang kiranya dapat meyentuh semua aspek yang menjadi bahan acuan bagi BAN dalam menilai sebuah perguruan tinggi untuk mendapatkan status akreditasi yang menyatakan kredibelitas perguruan tinggi yang bersangkutan.

II. KAJIAN TEORITIS

a. Perguruan Tinggi

Pendidikan tinggi merupakan suatu proses dimana pembelajar atau mahasiswa dianggap sebagai keluaran (output) yang mempunyai nilai atau harga (value) dalam pasaran kerja, dan keberhasilan itu sering diukur dengan tingkat penyerapan lulusan dalam masyarakat dan kadang-kadang diukur juga dengan tingkat penghasilan yang mereka peroleh dalam karirnya sehingga Perguruan tinggi sering diartikan sebagai penghasil tenaga kerja yang bermutu (qualified manpower).

Barnet (1992) dalam http://www.ban-pt.or.id/id_konsep-akreditasi.htm (diakses tanggal 23 Mei 2007) menjelaskan bahwa Perguruan tinggi sebagai organisasi pengelola pendidikan yang efisien. Dalam pengertian ini perguruan tinggi dianggap baik jika dengan sumber daya dan dana yang tersedia, jumlah mahasiswa yang lewat proses pendidikannya (throughput) semakin besar.

Dari beberapa pengertian di atas dapat dipahami bahwa Indikator sukses kelembagaan terletak pada cepatnya pertumbuhan jumlah mahasiswa dan variasi jenis program yang ditawarkan. Rasio mahasiswa-dosen yang besar dan satuan biaya pendidikan setiap mahasiswa yang rendah dipandang sebagai ukuran keberhasilan perguruan tinggi.

b. Konsep Dasar Akreditasi

Akreditasi dipahami sebagai penentuan standar mutu serta penilaian terhadap suatu lembaga pendidikan (dalam hal ini pendidikan tinggi) oleh pihak di luar lembaga pendidikan itu sendiri. (http://www.ban-pt.or.id/id_konsep-akreditasi.htm.

Penilaian tersebut, khususnya di Indonesia dilakukan oleh sebuah badan yang independen yaitu, Badan Akreditasi Nasional (BAN) dan di perguruan tinggi disebut dengan BAN-PT.
BAN-PT berdiri pada tahun 1994, berlandaskan UU No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan PP No. 60 tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi. BAN-PT memiliki wewenang untuk melaksanakan sistem akreditasi pada pendidikan tinggi, baik untuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Perguruan Tinggi Swasta (PTS), Perguruan Tinggi Agama (PTA) dan Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) serta kerjasama dengan insitiusi pendidikan tinggi di dalam negeri, yang ditawarkan oleh institusi pendidikan tinggi dari luar negeri.
http://www.ban-pt.or.id/.

Fungsi utama BAN-PT menurut peraturan perundangan yang ada (UU RI No. 20 tahun 2003, PP RI No. 60/1999, SK Menteri Pendidikan Nasional No. 118/U/2003), pada dasarnya adalah: membantu Menteri Pendidikan Nasional dalam pelaksanaan salah satu kewajiban perundangannya, yaitu penilaian mutu perguruan tinggi, yaitu Perguruan Tinggi Negeri, Kedinasan, Keagamaan, dan Swasta. Tugas utama tersebut meliputi (1) meningkatkan mutu pendidikam tinggi, (2) memperkenalkan serta menyebarluaskan "Paradigma Baru dalam Pengelolaan Pendidikan Tinggi", dan (3) meningkatkan relevansi, atmosfir akademik, pengelolaan institusi, efisiensi dan keberlanjutan pendidikan tinggi. (Tadjudin, 2000 dalam http://www.ban-pt.or.id/)


c. Pengertian Sistem

Menurut Hamalik (2002) Sistem secara teknis berarti seperangkat komponen yang saling berhubungan dan berkerja sama untuk mencapai suatu tujuan. Dan pendidikan merupakan sebuah system.
Sedangkan menurut Mudyaharjo (1993, dalam Hamalik, 2002) sistem didefinisikan sebagai suatu kesatuan dari berbagai elemen atau bagian-bagian yang mempunyai hubungan fungsional dan berinteraksi secara dinamis untuk mencapai hasil yang diharapkan.

Dari definisi di atas suatu sistem yang lain akan muncul karena mimiliki elemen-elemen tersendiri, dimana elemen tersebut juga merupakan sebuah system tersendiri. Artinya sebuah system dapat terdiri dari sub system–sub system yang pada gilirannya sampai kepada sebuah system yang amat besar dan dinamakan dengan supra sistem.

d. Pendekatan sistem

Pendekatan system dalam pendidikan merupakan satu cara yang memandang pendidikan secara menyeluruh dan sistemik, tidak parsial atau fragmatis. Pendidikan sebagai suatu system merupakan satu kesatuan yang utuh, dengan bagian bagian-bagiannya yang berinteraksi satu sama lain.

Pendekatan system mengandung dua aspek, yaitu aspek filosofis dan aspek proses. Aspek filosofis merupakan pandangan hidup yang mendasari sikap siperancang system yang terarah pada realita. Sedangkan apek proses meruapakan suatu proses dari implementasi system yang telah dirancang.


e. Beberapa Model pendekatan Masalah

Dalam pemecahan masalah beberapa model dapat digunakan di antaranya model System Approach yang ditawarkan oleh Aristotle (Ismail Pulungan, 2001). System Approach terdiri dari delapan langkah yaitu Analisis kebutuhan (Needs), Penentuan Tujuan (objective), Analisis hal-hal yang mendasar (Constraint), Pemilihan beberapa alternative (Alternative), pemilihan alternative (select), Penerapan Alternatif (Implement), Evaluasi program (Evaluate) dan memodifikasi program jika diperlukan (Modify).

Model Aristotle di atas banyak digunakan dalam pemecahan masalah sehingga model tersebut sangat di kenal dengan “model pendekatan system”.

Selain model Aristotle, Deming menawarkan sebuah model yang dinamakan dengan “Total Quality Management” . TQM terdiri dari Perencanaan (Plan), Pelaksanaan (Do), Aksi (Act) dan Penilaian (Check). (Ismail Pulungan, 2001)


III. PEMBAHASAN

a. Pemecahan Masalah

Bagaimana Perguruan Tinggi yang belum terakreditasi atau hanya mendapat nilai “D” dari BAN-PT keluar dari masalah ini ?. untuk menjawab pertanyaan tesbut perlu adanya solusi yang tepat untuk menyelesaikannya. Beberapa langkah yang dapat ditempuh oleh Perguruan Tinggi dapat mempedomani langkah yang kemukakan oleh Lehman pada simposium 1967 (dalam Ismail Pulungan, 2001) yang diadopsi dari teori Aristotle yang mengemukakan pendekatan-pendekatan beberapa system malalui delapan langkah pendekatan :

1. Menentukan Needs

Untuk langkah pertama adalah menentukan kebutuhan apa yang dibutuhkan oleh Perguruan Tinggi yang bekum terakreditasi atau hanya mendapat nilai “D” sehingga perguruan tinggi yang bersangkutan dapat kembali beroperasi dan selalu meningkatkan status akreditasinya dikemudian hari

2. Penjabaran Objektif

Setelah mengetahui needs maka ditentukan dahulu “real need” (kebutuhan nyata) mana yang mungkin dipenuhi dan mana yang tidak mungkin terpenuhi. Tentu tujuan utama adalah solusi terhadap nilai Perguruan Tinggi

3. Mempelajari Konstrain

Perencanaan dapat saja berubah, oleh karena itu akan tidak salah konstrain (hal-hal yang mendasar) dipelajari terlebih dahulu dalam menelusuri solusi masalah, seperti faktor internal dan eksternal Perguruan Tinggi

4. Menyiapkan Alternatif

Banyak alternatif yang bisa diambil, tapi semua itu belum tentu dapat dikerjakan.


5. Seleksi

Setelah beberapa alternative diambil maka penyeleksian juga perlu dilakukan, dalam hal ini alternatif yang diajukan setelah penyeleksian adalah :
a. Rekrutmen melalui seleksi yang ketat
b. Pengembangan dosen melalui :
1. Tugas belajar (S2 atau S3)
2. Seminar / Lokakarya
3. Penelitian
c. Melengkapi Fasilitas
1. Ruang Kuliah
2. Perpustakaan
3. Laboratorium Teknologi Informasi
4. Laboratorium Penunjang
5. Perkantoran
6. Aula
d. Melalui Open Management yang objektif terhadap pihak yayasan dan transparan


6. Implementasi
Setelah alternatif diseleksi, ini semua akan tidak berarti bila tidak diimpelemtasikan dengan tindakan nyata.


7. Evaluasi
Setelah tahap impelemtasi maka untuk mengetahui keefektifan dan keefesienan harus dilakukan evaluasi terhadap proses problem solving

8. Modifikasi
Kemungkinan untuk memodifikasi alternatif yang telah dipilih bila dibutuhkan

b. Analisa Keuntungan dan Kelemahan

KEUNTUNGAN
KELEMAHAN
1. Sistem Rekruitmen :
a. Terpilihnya dosen yang kualified, profesional dan pengembangan kedepan
b. Tersaringnya input yang berkualitas

2. Pengembangan Dosen
a. Tugas Belajar
— Meningkatkan kualitas dosen
— Mampu berkompetitif dengan PTN dan PTS lainya

b. Seminar / Lokakarya
— Peningkatan Wawasan
— Pertukaran Informasi
— Kredit Point
— Promosi
c. Penelitian
— Penemuan baru
— Informasi yang up to date
— Pengembangan PT
— Pengembangan Needs Assessment
-
II. Melengkapi Fasilitas
a. Kelancaran proses perkuliahan
b. Kemudahan mendapatkan referensi dan literatur
c. Pengujian, keterampilan, praktek
d. Promosi
e. Pelayanan Administrasi yang prima
f. Memperlancar kegiatan akademik

III. Sistem Yayasan
(Open Management)
a. Cepat maju
b. Dapat dipertanggung jawabkan secara moral dan material
c. Mudah melakukan pembinaan
d. Memfungsikan unsur akademisi


— Membutuhkan Biaya / Waktu yang banyak
— Proses Rumit
— Tidak banyak tenaga yang tersedia sesuai dengan kualifikasi
— Dana Besar
— Waktu Panjang
— Dana besar
— Birokrasi agak rumit




-
— Dana
— Biaya
— Lokasi
— Tenaga Kerja

— Dana
— Waktu
— Tenaga Profesional

— Penyimpitan intervensi keluarga
— Hilangnya unsur KKN
— Tidak bisa menguasai segi akademik maupun segi finansial
— Berkurangnya hak feto
— Keputusan harus mengikut sertakan akademisi


c. Alternatif Pilihan dan Alasan Pemilihan
Open Management dari pihak yayasan sangat diperlukan, karena dengan Open Management akan mengurangi keragu-raguan, menepis ketidak percayaan masayarakat kepada pengelolaan administrasi pada Perguruan Tinggi tersebut, terutama hal-hal yang menyangkut manajemen dan pertanggung jawaban keuangan. Setelah itu pelaksanaan Open Management dapat memenuhi tuntutan perkembangan IPTEK dalam era Teknologi Informasi.


IV. KESIMPULAN DAN SARAN
Beberapa model pendekatan dapat digunakan dalam pemecahan masalah seperti “System Approach” dari Aristotle, Total Quality Management dari Deming.

Untuk meninjau permasalahan pendidikan maka tidak dapat dilakukan secara pragmatis dan parsial, akan tetapi harus dilihat secara integral dan utuh sehingga dapat menemukan solusi yang menyeluruh, lengkap dan holistik .
Perguruan tinggi yang belum terakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) supaya dapat merespons dengan serius beberapa system yang terkait dengan mutu, seperti system rekruitmen, fasilitas, kualitas tenaga pengajar/dosen serta manajen pengelolaan.


DAFTAR KEPUSTAKAAN



Ansyar, M, (2001), Kurikulum Menyonsong Otonomi Pendidikan di Era Globalisasi : Peluang, tantangan, dan Arah”, Forum Pendidikan, No. 2 (26), Juni 2001.
Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Konsep Akreditasi,
http://www.ban-pt.or.id/id_konsep-akreditasi.htm, diakses tanggal 23 Mei 2007.
----------, Pengantar BAN-PT,
http://www.ban-pt.or.id/id_konsep-akreditasi.htm, diakses tanggal 23 Mei 2007.
Dewi Padmo, (editor), Teknologi Pembelajaran - Upaya Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Sumber Daya Manusia, Universitas Terbuka, Jakarta, 2003
Dewi Salma Prawiradilaga & Eveline Siregar, Mozaik Teknologi Pendidikan, Prenada Media, Jakarta, Edisi I, 2004
IGAK Wardhani, Program Tutorial dalam Sistem Pendidikan Tinggi Terbuka dan Jarak Jauh. Jurnal Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh, 1(2), hal. 41-45.
Indra Djati Sidi, Menuju Masyarakat Belajar, Paramadina & PT. Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 2001
Ismail Pulungan , Manajemen Mutu Terpadu, PAU-PPAI-UT, Universitas Terbuka, Jakarta, 2001
Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, PT. Bumi Aksara, Jakarta, 2002
Paulina Panen, Pendidkan sebagai Sistem, PAU-PPAI-UT, Universitas Terbuka, Jakarta, 2001
Yusuf Hadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Prenada Media, Jakarta, Edisi I, 2004

Jadikan Kesedihan Penghiburmu


Kuingat ......
ketika kesedihan menjadi sahabatku
ketika kesedihan selalu setia menemaniku
keteka kesedihan selalu hadir dalam detak jantungku

tapi....
senyum tetap ada dibibirku
hatiku tetap kaya
kaya akan nikmat Tuhan
Kusyukuri karena aku masih bisa merasa sedih
Kusyukuri karena aku masih bisa menangis
Kusyukusi karena aku masih bisa tersenyum

Kawan...
Ingatkah engkau, ketika kita ingin masak tapi tidak memiliki beras
Ingatkah engkau, ketika kita ingin makan, tidak ada yang dimakan
Ingatkah engkau, ketika anak kita ingin minum susu, dibujuk dengan air putih
Ingatkah engkau, ketika anak kita ingin jajan, dibujuk dengan bualan kosong

tapi......
Ingatkah engkau, senyum tetap menghiasi bibir kita
Ingatkah engkau, tawa tetap setia keluar dari mulut kita
karena kita telah sepakat, menjadikan kesdihan sahabat kita..

Kawan...
Lihatlah, saudara kita yang tidak mampu makan, padahal makanan banyak
Lihatlah, saudara kita yang tidak mampu tidur diatas kasur yang empuk
Lihatlah, saudara kita yang haus di atas air yang melimpah
Lihatlah, saudara kita yang miskin di atas uang yang melimpah.

Kawan...
Lihatlah, Saudara kita yang tidak makan hari ini
Lihatlah, saudara kita yang tidak minum hari ini
Lihatlah, anak saudara kita yang hanya minum air mentah
Lihatlah, kawan.....

Kampus Ku Surga Ku...???



Tulisan ini hanya sebatas keinginan dari seorang anak manusia yang memiliki cita-cita terciptanya suasana dan iklim yang "menyejukkan" di kampus ku tercinta STAIN Bukittinggi. Hasrat tersebut timbul semenjak dioperasikannya Kampus II di Gurun Aur Kubang Putih Kab. Agam Sumatera Barat. Akankan hal tersebut dapat tercapai...???

Optimistis perlu tetap dipegang teguh, walaupun kondisi terjal yang harus dilalui. Kampus yang asri, halaman yang bersih, gedung yang bersih, pakaian mahasiswa dan dosen yang rapi, tegur sapa dan salam yang selalu dibudayakan..... akankah itu dapat kita nikmati..???

Semuanya tersebut akan dapat kita nikmati, jika semua elemen disini bersatu tangan, satu langkah dalam rangka menuju kampus yang madani. Kamar mandi dan toilet yang bersih, halaman yang sejuk tanpa sampah, gedung indah dan bersih.....Ku Yakin itu akan dapat kunikmati di Kampusku yang tercinta

Usaha Guru Mengatasi Anak yang Bermasalah dalam Belajar


USAHA GURU DALAM MENGATASI
ANAK YANG BERMASALAH DALAM BELAJAR


I. PENDAHULUAN

Mengajar itu memang rumit. Bukan saja guru harus tahu banyak tentang bahan pelajaran dan menguasainya, tetapi juga harus faham tentang murid-muridnya dan proses belajar-mengajar. Kecuali itu guru juga harus memiliki atau mengembangkan bakat untuk mengajar – suatu aspek seni. Bukan saja guru harus mengajar di depan kelas, tetapi juga menyiapkan dan mendesain bahan pelajaran, memberikan tugas-tugas, menilai proses dan hasil belajar murid, merencanakan kegiatan-kegiatan lain dan menegakkan disiplin. Disamping itu guru harus menyimpan dan memelihara catatan-catatan tentang muridnya, mengatur dan mengelola kelas, mengembangkan kegiatan-kegiatan belajar, berbicara kepada orang tua murid dan bahkan melakukan kegiatan bimbingan dan konselling bagi murid-muridnya.


Mengajar ialah melatih keterampilan, menyampaikan pengetahuan, membentuk sikap dan memindahkan nilai-nilai. Mengajar adalah membuat perubahan pada diri murid. Mengajar dapat dilakukan dengan cara ceramah, persuasi, demonstrasi, membimbing dan mengarahkan usaha dan aktifitas murid atau dengan kombinasi cara tersebut. Mengajar dapat hanya melibatkan pengetahuan dan keterampilan guru sendiri atau dapat memanfaatkan bahan-bahan yang telah disiapkan oleh pihak lain seperti film, perangkat komputer, manusia sumber aau kombinasi antara bakat, keterampilan dan pengetahuan yang telah dimiliki murid.

II. MENGAJAR

Mengajar dikatakan efektif apabila meliputi tiga langkah, yaitu langkah sebelum mengajar, langkah pelaksanaan mengajar, dan langkah sesudah mengajar. Langkah sebelum mengajar, meliputi, menentukan tujuan pengajaran, baik tujuan jangka panjang maupun jangka pendek. Langkah pelaksanaan mengajar, langkah ini berupa pelaksanaan strategi-strategi yang telah dirancang untuk membawa murid mencapai tujuan pengajaran. Langkah ini meliputi komunikasi, kepemimpinan, motivasi dan kontrol (pembinaan disiplin dan pengelolaan). Langkah sesudah mengajar langkah ini berupa pengukuran dan penilaian hasil mengajar sehubungan dengan tujuan yang telah ditetapkan guru sebelum mengajar. Dari proses penilaian ini dapat diketahui efektif tidaknya proses mengajar, tepat tidaknya tujuan pengajaran, seberapa tinggi tingkat kesiapan murid, tetap tidaknya strategi mengajar yang digunakan dan bahkan derajat relevansi dan ketepatan prosedur penilaian yang ditempuh.

III. PERANAN GURU

Peranan guru yang dianggap penting adalah :

1) Guru sebagai Pembuat keputusan
Guru harus selalu membuat keputusan-keputusan bahan pelajaran dan metode mengajar. Keputusan-keputusan ini didasarkan atas banyaknya factor seperti bahan inti yang harus diajarkan, kemampuan murid dan apa yang diperlukan olehnya dan tujuan yang akan dicapai.

2) Guru sebagai motivastor
Murid tidak berhasil dengan sendirinya, melainkan dengan peran guru sebagai motivator. Ada beberpa pelajaran yang di sampaikan guru tidak menarik minat dan perhatian murid. Memulai memngajar dengan penuh semangatpun tidak merupakan jaminan bahwa minat dan konsentrasi murid dapat berlangsung lama.
Banyak keputusan yang dibuat guru berpengaruh terhadap motivasi murid. Cara memberikan nilai misalnya, dapat mendorong murid belajar lebih giat atau malah menjadikannya putus asa. Bahkan pelajaran yang dipilih yang sejalan dengan minat dan kemampuan murid dapat membantu mendorong mereka belajar. Maslahnya ialah bagaimanakah guru dapat mempertahankan minat dan perhatian murid selama proses belajar mengajar berlangsung.

3) Guru sebagai Menejer
Waktu yang di pergunakan guru untuk berinteraksi secara verbal dengan murid rata-rata antara 20 sampai 30persen setiap harinya. Selebihnya di pergunakan untuk kegiatan pengelolaan, seperti supervisi, organisasi pelajarn,menyiapkan ujian, memeriksa dan menilai pekerjaan murid, menghadiri rapat, mengadakan pertemuan dengan orang tua murid dan sebagainya.

4) Guru sebagai pemimpin
Meskipun guru harus menangani kebutuhan murid orang perorang, tetapi kenyataannya jarang berbuat demikian. Mengajar nyatanya adalah memimpin sekelompok murid. Guru yang efektif adalah pemimpin yang efektif, yaitu memanfaatkan potensi kelompok untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan individual. Dalam peranannya sebagai pemimpin kelompok, guru diharapkan menjadi wasit, pelerai kecemasan, detektif, pencegah timbulnya perasaan bermusuh dan frustasi, teman dan orang kepercayaan, pengganti orang tua, sumber kasih saying dan pemberi semangat.

5) Guru sebagai konselor
Sebagai konselor, guru harus menjadi pengamat yang peka terhadap tingkah laku dan gerak gerik murid. Guru harus berusaha memberikan tanggapan yang konstruktif apabila murid mengalami kelesuan dalam belajar. Dia harus tahu apabila ada murid perlu dikonsultasikan kepada ahli kesehatan mental misalnya. Disetiap kelas tidak jarang murid mengadukan persoalan pribadinya kepada guru.

6) Guru sebagai insinyur atau perekayasa lingkungan
Guru diharapkan menjadi desainer yang dapat menata ruang kelas dengan baik sehingga menimbulkan suasana belajar yang kondusif.. Bukankah penataan ruangan kelas dapat membantu atau mengganggu proses belajar ? Perubahan tata ruang kelas itu mungkin saja tidak menyolok, seperti menggantungkan gambar di depan kelas atau menyuruh murid duduk dalam posisi lingkaran untuk keperluan diskusi dan sebagainya.

7) Guru sebagai Model
Guru juga berperan sebagai model atau contoh bagi muridnya. Gairah murid terhadap suatu mata pelajaran timbul karena pelajaran itu diberikan oleh guru yang penuh gairah dengan menggunakan metode demonstrasi. Sebaliknya gairah terhadap suatu mata pelajaran memudar karena mata pelajaran itu diberikan dengan metode ceramah yang gersang. Dengan demikian guru tersebut dengan sengaja berperan sebagai model. Demonstrasi dalam mata pelajaran fisika, kimia dan kesejahteraan keluarga adalah contah permodelan langsung (direct modeling). Tetapi dalam banyak hal yang lain, guru tidak begitu menyadari peranannya sebagai model. Sebagai contoh, guru selalu berperan sebagai model dalam mendemonstrasikan cara berfikir memecahkan masalah. Apabila guru dapat melibatkan muridnya berfikir melalui berbagai macam alternatif pemecahan masalah, besar kemungkinan muridnya menjadi sadar bahwa mereka mampu memecahkan masalah dalam berbagai macam situasi.


IV. PROBLEM-PROBLEM YANG DIHADAPI GURU

Semakin meluasnya tujuan pendidikan, maka akan semakin menambah beban tanggung jawab guru dan menimbulkan problem serius bagi pelaksanaan oekerjaannya. Adapun factor penyebab timbulnya kesulitan yang dihadapi guru di dalam kelas dan pada situasi lain di sekolah adalah sebagai beikut :

1) Kurang memadainya pengetahuan guru tentang murid
2) Kurang memadainya apresiasi guru terhadap tujuan asasi pendidikan.
3) Kurang terampil melakukan diagnosis
4) Tidak pandainya guru menggunakan metode mengajar yang baik dan cara yang mengelola kelas.

Tetapi secara fundamental, problem yang dihadapi guru meruapakan akibat dari :
1) Sikap pribadi dan sikap social yang tidak konstruktif
2) Kurang percaya pada diri sendiri.
3) Emosi yang tidak stabil.

Kecakapan mengajar yang efektif dan sikap yang baik tidaklah diperoleh secara kebetulan saja. Pengalaman kerja mungkin merupakan factor yang penting, tetapi bertahun-tahun mengajar bisa saja malah menambah rumit kesulitan terdahulu keculi apabila guru dipersiapkan dengan baik sebelumnya.


V. KESULITAN BELAJAR ANAK

Aktifitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit mengadakan konsentrasi.

Demikian antara lain kenyataan yang sering kita jumpai pada setiap murid dalam proses belajar mengajar. Setiap individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar murid. Dalam keadaan murid tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut “kesulitan belajar”

Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan factor intelegensi yang rendah (kelainan mental), akan tetapi dapat juga disebabkan oleh factor non intelegensi. Dengan demikian, IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar. Karena itu, dalam rangka memberikan bimbingan yang tepat kepada murid, maka guru perlu memahami masalah yang berhubungan dengan kesulitan belajar.

Faktor penyebab kesulitan belajar
1) Faktor Intern
2) Faktor External

Faktor intern, disebabkan oleh dua hal, Pertama sebab yang bersifat fisik, yaitu (1) karena sakit (2) karena kurang sehat (3) karena cacat tubuh. Kedua sebab kesulitan belajar karena rohani, yaitu (1) Intelegensi (2) Bakat (3) Minat (4) Motifasi (5) factor kesehatan mental (6) tipe khusus seorang murid.

Faktor external, disebabkan oleh tiga hal, Pertama Faktor Keluarga, yaitu (1) factor orang tua (2) Suasana rumah/keluarga (3) keadaan ekonomi keluarga. Kedua Faktor Sekolah, yaitu (1) guru (2) factor alat (3) Kondisi gedung (4) kurikulum (5) waktu sekolah dan disiplin kurang. Ketiga Faktor Mass Media dan lingkungan social, yaitu TV, Surat Kabar Majalah, Buku Komik, teman bergaul, lingkungan tetangga, aktivitas dalam masyarakat.


VI. ANAK BERMASALAH

Seorang murid dikategorikan sebagai anak yang bermasalah apabila ia menunjukkan gejala penyimpangan perilaku yang lazim di lakukan oleh anak-anak pada umumnya. Penyimpangan perilaku ada yang sederhana ada juga yang ekstrim. Penyimpangan perilaku yang sederhana, misalnya mengantuk, suka menyendiri, terlambat datang. Sedangka ekstrim adalah sering membolos, memeras teman, tidak sopan.


VII. MENGENAL MURID YANG BERMASALAH BELAJAR

Beberapa gejala pertanda adanya kesulitan belajar antara lain :
1) Menunjukkan prestasi yang rendah/di Bawah rata-rata yang dicapai oleh kelompok kelas
2) Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan. Ia berusaha dengan keras tetapi nilainya selalu rendah.
3) Lambat melaksanakan tuga-tugas belajar. Ia selalu tertinggal dengan kawan-kawannya dalam segala hal, misalnya dalam mengerjakan soal-soal latihan dsb.
4) Menunjukkan sikap yang kurang wajar seperti acuh tak acuh, berpura-pura dusta, dll.
5) Menunjukkan tingkah laku yang berlainan, misalnya mudah tersinggung, murung, pemarah, bingung, cemberut, kurang gembira, selalu sedih.


VIII. USAHA MENGATASI ANAK BERMASALAH

Secara sistematis, langkah-langkah yang perlu diambil dalam usaha mengatasi anak bermasalah adalah :
1) Memanggil dan menerima anak yang bermasalah dengan penuh kasih sayang
2) Dengan wawancara yang dialogis diusahakan dapat ditemukan sebab-sebab utama yang menimbulkan masalah.
3) Memahami keberadaan anak dengan sedalam-dalamnya
4) Menunjukkan cara penyelasaian masalah yang tepat untuk di renungkan oleh anak kemudian untuk dikerjakannya.
5) Menemukan segi-segi kelebihan anak agar kelebihan itu diaktualisisr guru megatasi kekurangannya
6) Menanamkan nilai-nilai spritual yang benar.


DAFTAR BACAAN


Feinberg. R, Mortimer, dkk, Psikologi Manajemen, alih bahasa R. Turman Sirait, Mitra Utama, Jakarta, 1994

Kartono, Kartini, Pemimpin dan Kepemimpinan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, cet. ke-VIII, 1998

Prasetya, Falsafah Pendidikan, Pustaka Setia, Jakarta, 1997

Siagian. P, Sondang, Manajemen Sumber Daya Manusia, Bumi Aksara, Jakarta, 1993

Sugiarto, Endar, Psikologi Pelayanan dalam Industri Jasa, PT. Gramedia Grafindo Persada, Jakarta, 1990

Sudjana, Nana, Teori-teori Belajar untuk Pengajaran, Fakultas Ekonomi Uiversitas Indonesia, Jakarta, 1991

Suryabrata, Sumadi, Psikologi Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, cet. ke-IX, 1998

Tirtaraja, Umar, dkk, Pengantar Pendidikan, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 1998


Thoha, Miftah, Kepemimpinan dalam Manajemen, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995

Wilis Dahar, Ratna, Teori-teori Belajar, Depdikbud Dirjend Pendidikan Tinggi PPL Pendidikan Tenaga Kependidikan, Jakarta, 1980

Manajemen Berbasis Sekolah



STRATEGI PENGEMBANGAN KOMPETENSI SISWA DENGAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
Oleh : Supratman Zakir, S. Kom., M. Pd



PENDAHULUAN


Dunia pendidikan Indonesia saat ini setidaknya menghadapi empat tantangan besar yang kompleks. Pertama, tantangan untuk meningkatkan nilai tambah (Added value), yaitu bagaimana meningkatkan nilai tambah dalam rangka meningkatkan produktivitas, pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, sebagai upaya untuk memelihara dan meningkatkan pembangunan yang berkelanjutan.
Kedua, tantangan untuk melakukan pengkajian secara komprehensif dan mendalam terhadap terjadinya transformasi (perubahan) struktur masyarakat, dari masyarakat yang agraris ke masyarakat industri yang menguasai teknologi dan informasi, yang implikasinya pada tuntutan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM).
Ketiga, tantangan dalam persaingan global yang semakin ketat,yaitu bagaimana meningkatkan daya saing bangsa dalam meningkatkan karya-karya yang bermutu dan mampu bersaing sebagai hasil penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (Ipteks).
Keempat, munculnya kolonialisme baru di bidang iptek dan ekonomi menggantikan kolonialisme politik. Dengan demikian kolonialisme kini tidak lagi berbentuk fisik, melainkan dalam bentuk informasi. Berkembangnya teknologi informasi dalam bentuk computer dan internet, sehingga bangsa Indonesia sangat bergantung kepada bangsa-bangsa yang telah lebih dulu menguasai teknologi informasi. Inilah bentuk kolonialisme baru yang menjadi semacam virtual enemy yang telah masuk keseluruh pelosok dunia ini. Kemajuan ini harus dapat diwujudkan dengan proses pembelajaran yang bermutu dan menghasilkan lulusan yang berwawasan luas, professional, unggul, berpandangan jauh ke depan (Visioner), memiliki percaya dan harga diri yang tinggi. Untuk mewujudkan hasil diatas diperlukan strategi yang tepat, diantaranya adalah bagaimana strategi mengembangkan kompetensi siswa berdasarkan kemampuan, sikap, sifat serta tingkah laku siswa sehingga membuat siswa menyenangi proses pembelajaran.
Peningkatkan kompetensi siswa tidak bisa dipandangan secara pragmatis, terpisah dari bagian-bagiannya yang utuh. Peningkatan kompetensi siswa harus dilihat secara pendekatan sistem, menyeluruh, utuh dan tidak terpisah-pisah dari bagian-bagiannya sehingga dapat dilihat progress reports terhadap laju perkembangan kompetensi siswa seperti yang diharapkan. Selain dari pada itu, pengembangan kompetensi siswa dengan konsep pendekatan system terutama system manajemen berbasis sekolah akan sangat mudah dan efektif untuk mengevaluasi system apa yang perlu ditinjau, dimodifikasi ataupun dirobah menurut kebutuhan. Manajemen berbasis sekolah merupakan sebuah sistem yang memberikan hak atau otoritas khusus kepada pihak sekolah untuk mengelola sekolah sesuai dengan kondisi, lingkungan dan tuntutan ataupun kebutuhan masyarakat dimana sekolah tersebut berada.
Berdasarkan analisa diatas, bagaimanakah wujud masyarakat Indonesia baru yang seharusnya ?. Jawabannya adalah masyarakat yang berpendidikan (Educated Sociaty). Oleh karena itu setiap lembaga pendidikan, khususnya dalam menghadapi masa depan harus ditujukan pada reformasi kelembagaan secara total, agar pendidikan nasional memiliki kemampuan untuk melaksanakan peran, fungsi dan misinya secara optimal.
KAJIAN TEORI
a. Kompetensi
Kompetensi meliputi pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai, sikap dan minat. Dalam konsep pelatihan yang berbasis kompetensi dijelaskan bahwa kompetensi merupakan gabungan antara kerterampilan, pengetahuan dan sikap. Kompetensi digunakan untuk melakukan penilaian terhadap standar, memberikan indikasi yang jelas tentang keberhasilan dalam kegiatan pengembangan, membentuk sistem pengembangan dan dapat digunakan untuk menyusun uraian tugas seseorang.
Standar kompetensi disusun sedemikian rupa mengacu kepada kesepakatan internasional tanpa harus mengabaikan berbagai aspek dan budaya yang bersifat lokal atau nasional. Standar konpetansi yang telah ada hendaknya dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak terutama dunia pendidikan dalam hal peningkatan kemampuan dasar siswa serta penyusunan kurikulum.
b. Manajemen Berbasis Sekolah
Menurut Malen, Ogawa & Kranz, 1990 dalam Abu-Duhou manajemen berbasis sekolah secara konseptual dapat digambarkan sebagai suatu perubahan formal struktur penyelenggaraan, sebagai suatu bentuk desentralisasi yang mengindentifikasikan sekolah itu sendiri sebagai unit utama peningkatan serta bertumpu pada redistribusi kewenangan.
Manajemen sekolah yang selama ini terstruktur dari pusat telah menghambat kran komunikasi atau setidaknya terjadinya distorsi informasi antara pusat dan daerah, sehingga menimbulkan mis- implementation pada tataran riil di sekolah. Hal inilah yang menjadi bahan dilahirkannya sebuah system manajemen yang mampu menanggulangi permasalah tersebut, yaitu suatu manajemen yang diberi kewenangan penuh kepada sekolah untuk mengatur dirinya sendiri dalam batas-batas yang rasional.
Candoli, 1995 dalam Abu-Duhou, menjelaskan bahwa Manajemen berbasis sekolah merupakan suatu cara untuk "memaksa" sekolah mengambil tanggung jawab atas apa yang terjadi menurut justifikasi sekolah. Konsep ini menerangkan bahwa ketika sekolah diberi tanggung jawab penuh dalam mengembangkan program-program kependidikannya yang bertujuan melayani kebutuhan-kebutuhan para "stakeholder" maka pihak sekolah akan "dipaksa" untuk memenuhi kebutuhan-kebetuhan tersebut.
c. Otoritas Sekolah Dalam Manajemen Berbasis Sekolah
Secara khusus hal-hal yang di desentralisasikan adalah yang secara langsung berhubungan dengan para peserta didik, seperti keputusan tentang program pendidikan, alokasi waktu, dan kurikulum. Tetapi menurut Caldel dan Spinks, 1992 dalam Abu-Duhou, membagi beberapa hal yang menjadi otoritas sekolah dalam MBS, diantaranya yaitu :
  1. Pengatahuan (Knowledge); otoritas keputusan berkaitan dengan kurikulum, tujuan dan sasaran pendidikan.
  2. Teknologi (Technology); otoritas mengenai srana dan prasaran pembelajaran
  3. Kekuasaan (Power); kewenangan dalam membuat keputusan.
  4. Material (Material); kewenangan mengenai penggunaan fasilitas, pengadaan dan peralatan alat-alat sekolah.
  5. Manusia (People) kewenangan atas keputusan mengenai sumber daya manusia, pengembangan profesionalisme dan dukungan terhadap proses pembelajaran.
  6. Waktu (Time); kewenangan mengalokasikan waktu
  7. Keuangan (Financial); kewenangan dalam mengalokasikan dana pendidikan.
Sedangkan Thomas, 1997 dalam Abu-Duhou, mengelompokkan kewenagan sekolah dalam manajemen berbasisi sekolah dalam empat hal, yaitu :
  1. Penerimaan (admission); kewenangan untuk menentukan siswa mana yang akan diterima diseklolah.
  2. Penilaian (Assessment); kewenangan untuk menentukan berapa siswa yang akan dinilai.
  3. Informasi (Information); kewenangan untuk menseleksi data mengenai kinerja sekolah dan mempublikasikannya.
  4. Pendanaan (Funding); kewenangan untuk menentukan uang masuk bagi penerimaan siswa.
PEMBAHASAN
a. Kompetensi Siswa
Untuk merespon bebagai kondisi sebagaimana yang telah diuraikan pada pendahuluan di atas, maka salah satu kebutuhan yang sangat penting adalah tersedianya system pendidikan dan pelatihan yang mampu menghasilkan SDM yang berkualitas setara dengan standar internasional. Untuk melaksanakan system pendidikan yang baik dibutuhkan suatu standar kompetensi yaitu kemampuan yang harus dimiliki oleh seseorang untuk melakukan pekerjaan sebagai patokan kinerja yang diharapkan.
Salah satu bentuk system pendidikan yang mampu meningkatkan kompetensi siswa adalah system manajemen berbasis sekolah yang memberi hak sepenuhnya atau otonomi kepada sekolah untuk mengelola sekolah sesuai dengan kondisi, lingkungan dan kebutuhan tempat dimana sekolah berada.
b. Strategi Pengembangan Kompotensi Siswa
Dunia pendidikan dewasa ini yang semakin banyakj menghadapi tantangan, salah satu diantaranya ialah bahwa pendidikan itu berlangsung dalam latar lingkungan yang dibuat-buat, karena pendidikan itu harus membina tingkah laku yang berguna bagi individu dimasa akan datang dan bukan waktu sekarang. Akibat dari latar lingkungan yang dibuat adalah terjadinya suasana pembelajaran yang tidak menyenangkan.
Masalah lain yang dihadapi dunia pendidikan adalah sekolah masih menggunakan cara yang bersifat aversif, dimana para siswa menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya terutama untuk menghindari stimulus-stimulus aversif seperti kecaman guru, ejekan dimuka kelas, menghadap kepala sekolah jika tidak membuat tugas di rumah. Untuk memecahkan masalah untuk perbaikan pendidikan itu pernah diusulkan beberapa pemecahan masalah yang diantaranya :
  1. Mendapatkan guru yang berkualitas
  2. Mencari terobosan baru untuk menandingi sekolah unggul
  3. Menaikkan standar pembelajaran
  4. Mereorganisasi kurikulum.

Akan tetapi pemecahan masalah yang pernah ditawarkan tersebut tidak menyentuh esensi permasalahan dunia pendidikan itu sendiri. Menurut Skinner satu hal yang perlu dilakukan untuk memecahkan kebuntuan tersebut adalah bagaimana guru bertanggung jawab mengembangkan pada siswa tingkah laku verbal (kompetensi) atau kemampuan siswa yang merupakan pernyataan keterampilan dan pengetahuan mata pelajaran.

Konkritnya Skinner menjelaskan yang harus dilakukan dalam rangka meningkatkan kemampuan siswa atau kompetensi siswa adalah : Membangun khazanah tingkah laku verbal dan non verbal yang menunjukkan hasil belajar.
Menghasilkan dengan kemungkinan yang besar, tingkah laku yang disebut minat, antusiasme dan motivasi untuk belajar.


Sehingga dengan tugas seperti ini pembelajaran itu berfungsi memperlancar pemerolehan pola-pola tingkah laku verbal dan non verbal yang perlu dimiliki setiap siswa. Menurut B. Weiner, dengan teori atribusinya, satu sumbangan penting untuk pendidikan adalah berkenaan dengan analisa terjadinya interaksi di kelas. Hal yang penting diperhatikan dalam interaksi di kelas dalam konteks proses pembelajaran serta dalam rangka meningkatkan kemampuan atau kompetensi siswa ialah ciri siswa, ciri-ciri siswa yang perlu dipertimbangkan ialah perbedaan perseorangan, kesiapan untuk belajar dan motivasi :

  1. Perbedaan Perseorangan, Dalam hal ini yang perlu diperhatikan ialah tingkat perkembangan siswa dan tingkat rasa harga diri siswa. Untuk mengimbangi adanya perbedaan perseorangan dalam proses pembelajaran dianatarany dapat dilakukan pengajaran dengan kelompok kecil (Cooperative Learning), tutorial, dan belajar mandiri serta belajar individual.
  2. Kesiapan untuk belajar Kesiapan seorang siswa dalam kegiatan pembelajaran sangat mempengaruhi hasil pembelajaran yang bermanfaat baginya. Karena belajar sifatnya kumulatif, kesiapan untuk belajar baru mengacu pada kapabilitas, dimana kesiapan untuk belajar itu meliputi keterampilan-keterampilan yang rendah kedudukannya dalam tata hirarki keterampilan intelktual.
  3. Motivasi, ciri khas dari teori-teori belajar ialah memperlakukan motivasi sebagai suatu konsep yang dihubungkan dengan asas-asas untuk menimbulkan terjadinya belajar pada diri siswa. Konsep ini memusatkan perhatian pada dilakukannya manipulasi lingkungan yang bisa mendorong siswa seperti membangkitkan perhatian siswa, mempelajari peranan peransang atau membuat agar bahan ajar menarik bagi siswa.

Ketiga hal diatas harus diperhatikan yang dibarengi dengan penciptaan suasan kelas yang menyenangkan sehingga tingkah laku, respon yang dikeluarkan oleh siswa menghasilkan suasan pembelajarn yang nyaman dan menyenangkan akibat dari stimulus lingkungan yang dimanipulasi tersebut. Disamping ketiga hal diatas yang perlu diperhatikan dalam kontek peningkatan kompetensi siswa, maka kurikulum juga merupakan hal yang tidak terpisahkan dengan kompetensi siswa dalam pembelajaran.

Untuk mengimbangi peningkatan kemampuan siswa dalam kontek tingkah laku, maka kurikulum juga perlu menjadi perhatian sehingga siswa benar-benar memiliki kompetensi yang sangat memadai. Kurikulum saat ini, terutama kurikulum pendidikan nasional akan dikembangkan apa yang dinamakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau Competency based Curriculum.

Dalam konsep ini, kurikulum harus dikuasai oleh siswa setelah ia menyelesaikan satu unit pelajaran, satu satuan waktu dan satu satuan pendidikan. Materi kurikulum harus ditekankan pada mata pelajaran yang sanggup menjawab tantangan global dan perkembangan iptek yang sangat cepat. Disamping itu kurikulum yang dikembangkan harus berlandaskan pendidikan etika dan moral yang dikembangkan dalam mata pelajaran agama dan mata pelajaran lain yang relevan.

Selain itu kurikulum harus bersifat luwes, sederhana dan bisa menampung berbagai kemungkinan perubahan dimasa yang akan datang sebagai dampak dari perkembangan terknologi dan tuntutan masyarakat. Kurikulum hanya bersifat pedoman pokok dalam kegiatan pembelajaran siswa dan dapat dikembangkan dengan potensi siswa, keadaan sumber daya pendukung dan kondisi yang ada. Semua alternative solusi diatas tidak ada artinya jika tidak dimanajemeni atau dikelola dengan professional. Salah satunya adalah dengan menerapkan sistem manajemen berbasis sekolah, dimana pihak sekolah memiliki otoritas yang cukup untuk mengelola konsep-konsep yang akan diterapkan dalam rangka meningkatkan kompetensi siswa.

Masalah kurikulum, tujuan pendidikan, keputusan atau kebijakan sekolah, fasilitas yang akan digunakan, pengembangan SDM sekolah, pengaturan waktu dan biaya pendidikan, haruslah sepenuhnya dikelola oleh sekolah sehingga langkah-langkah teknis diatas dapat terwajud.

PENUTUP

Untuk meningkatkan kompetensi siswa ada beberap hal yang harus diperhatikan, diantaranya, ciri-ciri siswa antara lain, perbedaan perseorangan, kesiapan belajar dan motivasi yang dibarengi oleh pemanipulasian suasana pembelajaran menjadi lebih disukai oleh siswa sehingga dengan mempertimbangkan kondisi ini apa yang diharapkan sesuai dengan tujuan. Akan tetapi jika mensfesifikasi pendidikan kedalam tingkah laku sama dengan membatasi guru menjadi upaya untuk merubah tingkah laku siswa.

Pada hal, pendidikan tidak hanya sebatas tutorial yang akan mengakibatkan pendidikan kurang manusiawi dan terlalu mekanistik. Akan tetapi pendidikan lebih dari itu, dimana pendidikan memerlukan tingkat kecerdasan dan kebebasan berpikir yang tinggi, kompetensi dan moral atau tingkah laku yang kompleks untuk mengarunginya. Secara kelembagaan dalam rangka meningkatkan kompetensi siswa perlu sebuah sistem yang mampu mengakomodir tujuan tersebut. Salah satu bentuk dari system tersebut adalah manajemen berbasis sekolah yaitu sebuah sistem manajemen yang memberi keluasan kepada pihak sekolah untuk mengelola sekolah masing-masing menurut kebutuhan, kondisi, dan tuntutan lingkungan dimana sekolah tersebut berada.

DAFTAR BACAAN
Abu-Duhoui, Ibtisam, School Base Management, terjemahan Noryamin Aini, Suparto & Abas Al-Jauhari, cetPT. Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 2002
Dahar, Ratna Wilis, Teori-teori Belajar, Depdikbud Berkerjasama Dengan Dirjend Perguruan Tinggi, PPL Pendidikan Tenaga Kependidikan, Jakarta, 1989.
Gredler E. Bell Margaret, Belajar dan Membelajarkan, Terjemahan Munandir, CV, Rajawali, Jakarta, 1991
Sudjana, Nana, dkk, Teknologi Pengajaran, Sinar Baru Algesindo, Bandung, 2001
Sidi, Indra Djati, Menuju Masyarakat Belajar (Menggagas Paradigma Baru Pendidikan), Paramadina, Jakarta, 2001
Suryabrata, Sumadi, Psikologi Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1998
Snelbecker, Glenn. E, Learning Theory, Intructional Theory, and Psycoeducational Design, McGraw-Hill Book Company, United State of America, 1974
Tirtaradja, Umar, dkk, Pengantar Perndidikan, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 1998.