Sunday, 24 October 2010
Thursday, 29 October 2009
Goes to Kuala Lumpur & Singapore
Sabtu, 24 Oktober 2009, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Informatika kembali ke Tanah Air sepulang dari melakukan lawatan Studi Komparatif dan Misi Pariwisata ke Kuala Lumpur dan Singapore. Rombongan yang ketuai oleh Ketua Program Studi PTI Supratman Zakir, M. Pd., M. Kom berjumlah 34 orang mahasiswa dan 3 orang Dosen Pemdamping, Zakaria Aziz, M. Pd., dan Noviardi, ST., MA. Rombongan bertolak ke Kuala Lumpur Pada Hari Senin Tanggal 19 Oktober 2009 dengan Penerbangan Air Asia,
Selasa Tanggal 20 Oktober 2009, rombongan mengunjungu Fakulti Teknologi dan Sains Maklumat Universiti Kebangsaan Malaysia, kunjungan ini dilakukan dari Jam 09.00 sampai 13.00 Waktu Setempat, setelah kunjungan resmi rombongan menuju Kawasan Putra Jaya.
Rabu, 21 Oktober 200, rombongan bertolak ke Fakulti Saians Komputer dan Teknologi Maklumat, University of Malaya, acara berlangsung dari jam 09.00 s/d 13.00 waktu setempa. Setelah kunjungan resmi selesai rombongan berangkat menuju KLCC kawasan Menara Kembar (Petronas).Pada Jam 07.00 Malam rombongan bertolak ke Singapore.
Sekitar jam 08.00 waktu setempat rombongan sampai di Singapore. To be Continue untuk Mahasiswa angkatan 2008
Serah terima kenang-kenangangan kepada Pejabat Dekan Fakulti Teknologi dan Sains Maklumat Universiti Kebangsaan Malaysia Prof. Dr. Abdullah Mohd. Zin.
Lagi di Putra Jaya
di Singapore
Fhoto Bersama Pejabat Dekan Fakulti Computer Science & Teknologi Maklumat University of Malaya Prof. Dr. David Lee
Tuesday, 23 December 2008
Ketika Tradisi tanpa Evaluasi
“Untuk orang-orang yang merasa peduli”
Tulisan ini merupakan sebuah refleksi yang beranjak dari keinginan untuk menjadikan "kampusku" tidak lagi sebagai sebuah Perguruan Tinggi yang termarginalkan akan tetapi menjadi sebuah perguruan tinggi yang “orang” di dalamnya (Dosen – Mahasiswa – Karyawan) ” merasa bangga menjadi bagian dari "kampusku". Tapi keinginan tersebut makin hari makin terkikis, makin pupus dan hampir tenggelam ketika melihat kondisi, ketika melihat perilaku yang berkiblat pada “tradisi” tanpa adanya evaluasi apalagi edukasi.
Kondisi tersebut dicoba untuk diterobos dengan melakukan inovasi-inovasi dalam rangka membuka mata, telinga dan hati dengan maksud perilaku “tradisi” dapat berubah menjadi perilaku yang profesional dan proporsional. Tidak heran beberapa SDM “bergizi” istilah kami di kampus kita yang tercinta ini, satu persatu mulai menjauh, dan tidak menutup kemungkinan yang lain akan mengikuti jejak yang sama. Situasi ini jelas akan merugikan kita semua, terutama "kampusku" secara institusi.
Kondisi akan semakin parah jika komponen SDM masih memiliki pola pikir “PNS lama” – maju atau mundurnya "kampusku", gaji juga sebanyak itu – jika pola pikir ini telah dan masih akan menjadi pegangan, maka otomatis "kampusku" akan tetap seperti dulu, sekarang dan akan datang, dan parahnya akan “kuadrad” jika para pimpinan masih tetap mempertahankan kondisi dan “tradisi” ini.
Sebanarnya masih banyak orang-orang yang memiliki idealisme dan kompetensi untuk membesarkan "kampusku", akan tetapi komunikasi yang kurang, koordinasi yang tidak jelas, administrasi yang “kadaluarsa” itu semua menjadikan kita terhambat, terjebak dalam “guyonan” bahkan cemoohan “lapau”.
Refleksi di atas beranjak dari pengalaman, yang membuat rintihan dan gejolak hati sehingga akhirnya melahirkan jiwa pemberontakan. Hal itu dikarenakan “kebijakan - policy” tradisi, dan kalau boleh disebutkan dengan istilah “kebijakan usang” yang justru di kampus ini seolah kebijaka baru. Ingat, Kita sudah heterogen, memiliki pengalaman yang berbeda. Apakah kita harus “berkeringat” sehingga putus urat leher kita mempertahankan “tradisi” yang sebenarnya boleh kita katakan “kuno, usang, tidak update”, dan seperti telah diuraikan di atas hanya akan menjadi bahan “guyonan” bahkan “cemoohan”.
Sebenarnya masih banyak lagi kebijakan “tradisi” yang harus kita pertanyakan lagi, tapi dasar ngantuk sudah mendera, maka sampai disini dulu, dan sebentar lagi edisi mahasiswa akan hadir. Tunggu ya….!
Oh ya , yang terakhir nih, bulan November dan Desember adalah bulan kesukaan kampus kita, karena pada kedua bulan tersebut buanyak sekali kegiatan. Dosen pelatihan, mahasiswa pelatihan, pokoknya semuanya. Akhirnya kuliah terbangkalai.
Udah sekian dulu, semoga bermanfaat. Tetap semangat. Maju Kampusku
Wednesday, 6 August 2008
Polisiku....oh ....Polisiku - 2
pada salah satu jalan yang sebelumnya boleh lewat, saat itu tdk boleh dilewati. kejadian yang membuat citra polisi semakin buruk, kelam, jelek adalah ada beberapa orang polisi yang berdiri tepat dibawah rambu dilarangan lewat (karena memang masih dalam tahap sosialisasi).
lucunya, si Polisi sepertinya sengaja membiarkan saya untuk melewati jalan yang dilarang lewat, ketika saya sudah melewati jalan tersebut barulah si polisi memberhentikan saya, serta mengambil SIM dan STNK saya, lalu meminta uang Rp. 39.000.
akhirnya... terpaksa uang Rp. 40.000 lenyap di telan oleh polisiku....
apasih salahnya ketika kita tidak tahu, lalu memberitahu pengguna jalan untuk melewai jalan yang seharusnya dilewati, bukannya membiarkan lewat pada jalan yang dilarang lalu menilang dan meminta uang..????
Mana semboyan, mengayomi, melindungi, melayani masyarakat....???
BOHONG, PENIPU, PERAMPOK UANG RAKYAT
Polisiku....oh ....Polisiku
Kisah ini terjadi ketika kami Dinas luar kota (ke Kota Padang, kami dari Bukittinggi). ketika lewat depan Matahari Plaza Padang, kami di stop oleh dua orang polisi...oooo memang kiranya kami lupa menggunakan sabuk pengaman. habis... kami baru jalan sekitar 5-10 meter dari tempat kami berhenti.
setelah menanyakan prosedur baku (SIM, STNK), si Polisi (AFRINAL), mulai melakukan negosiasi dengan sopir kami, pertama si sopir minta pendapat kami. Ya..udah minta saja surat tilang, Si Polisi, tdk mau malah dia minta UANG Rp. 69.000., akhirnya si sopir konasultasi dengan kami lagi. Nggak usah minta saja surat tilang pesan kami sama sopir. Tapi akhirnya... mungkin si sopir tidak mau repot. sipolisi minta UANG rP. 50.000, tapi si sopir hanya memberi Rp. 25.000. dan itupun di terima oleh SI AFRINAL, si polisi kita.... polisis...polisi....!
Tuesday, 29 July 2008
Anakku suka memilih
Suatu ketika kami menyuruh anak kami Sefza Auma Tiang Alam untuk mengerjakan PR-nya. kebetulan ketika itu saya sedang capek-capeknya pulang kerja. ketika disuruh mengerjakannya dengan Bundanya, dia malah minta sama saya..
Sefza.. sama bunda aja ya..? kata bundanya. nggak... sefza pingin sama ayah..katanya.
akhirnya ya .. dia mengerjakan PR-nya sama saya.
suatu ketika lagi, Bundanya sedang sibuk buat Program Komputer, lalu saya memintanya untuk membaca Al-Qur'an. Sefza baca Al-Qur'an sama ayah ya.. Tidak... katanya..sefza mau sama Bunda.. waduuuuh..anakku.
Ayah...Allah dimana Yah..?
Kisah berikut terjadi setelah beberapa hari anakku "diwisuda" TK. Ayah.. katanya. Allah itu dimana sih..?. Allah itu selalu dekat kepada orang yang rajin Shalat, rajin mengaji, rajin belajar, jawab saya.
Sefzakan rajin belajar, tapi kok Sefza nggak pernah lihat Allah..? ketusnya lagi. Sayapun mulai bingung bagaimana menjawab pertanyaan tersebut yang sesuai untuk konsumsinya.
Sefza.. Allah itu tidak bisa kita lihat, tapi Allah bisa lihat kita, Allah itu Tuhan yang menciptakan kita semua, manusia, semua binatang, tumbuhan dan semua yang ada di Bumi. Anakku hanya diam... apakah dia mengerti atau tidak dengan jawaban saya
Sunday, 27 July 2008
Jangan bunuh Makhluk Allah
Suatu ketika anakku sedang mengejar kucing dan ingin melemparnya dengan batu, tapi tiba-tiba bundanya melarangnya, dengan berkata : Sefza, jangan dilempar nanti kucing itu mati bagaimana, kita tidak boleh membunuh makhluk Allah.
maka diapun tidak jadi melempar kucing tersebut, lalu dia langsung menghampiri bundanya.
Bunda...katanya, nyamuk itu makhluk Allah ya...?, ular itu apa juga makhluk Allah ya..?. Lalu bundanya menjawab.. iya itu semua makhluk Allah.
lalu dia bertanya lagi.. tapi kenapa kita boleh membunuh nyamuk...? dan ular kata teacher saya di sekolah juga boleh dibunuh
Setan Tidak Lari
Suatu hari saya mengajak anak saya Sefza Auma Tiang Alam untuk sholat Ashar, tapi dia maleeeees bangat..lalu Bundanya bilang, sefza kalo malas coba baca A'uzubillahiminas Syaithanirrajiim...
lalu dia membaca yang yang disuruh oleh bundanya.
tapi dasar anak kecil, lalu dia bilang..tuh.. setannya nggak lari.. sefza malas nih sholat, berarti setannya kan nggak lari...
kami berdua senyum-senyum sambil gelang kepala.
Ketika Anakku Bertanya

Tuesday, 6 May 2008
KNOWLEDGE DISCOVERY PROCESS
DISCOVERY PROCESS
Oleh : SUpratman Zakir
Knowledge Discovery from Database (KDD) merupakan tahapan atau fase yang menyertai tahapan numeric, seperti Preperasi data, pencarian hipotesis untuk digeneralisasi, formasi pola, evaluasi knowledge, representasi serta manajemen. Proses yang multi fase tersebut merupakan methodology yang sangat penting untuk menemukan pengetahuan dalam data yang sesungguhnya.
Teory Rough set merupakan basic bagi KDD dan digunakan dalam KDD. Istilah knowledge discovery in databases (KDD) dan data mining sering kali digunakan secara bergantian untuk menjelaskan proses penggalian informasi tersembunyi dalam suatu basis data yang besar. Sebenarnya kedua istilah tersebut memiliki konsep yang berbeda akan tetapi berkaitan satu sama lain. Dan salah satu tahapan dalam keseluruhan proses KDD adalah data mining. Proses KDD secara garis besar dapat dijelaskan sebagai berikut
Data Selection
Pemilihan (seleksi) data daru sekumpulan data operasional perlu dilakukan sebelum tahap penggalian informasi dalam KDD dimulai. Data hasil seleksi yang akan digunakan untuk proses data mining, disimpan dalam suatu berkas, terpisah dari basis data operasional.
Pre-processing/ Cleaning
Sebelum proses data mining dapat dilaksanakan, perlu dilakukan proses cleaning pada data yang menjadi fokus KDD.
Proses cleaning mencakup antara lain membuang duplikasi data, memeriksa data yang inkonsisten, dan memperbaiki kesalahan pada data, seperti kesalahan cetak (tipografi).
Juga dilakukan proses enrichment, yaitu proses “memperkaya” data yang sudah ada dengan data atau informasi lain yang relevan dan diperlukan untuk KDD, seperti data atau informasi eksternal.
Transformation
Coding adalah proses transformasi pada data yang telah dipilih, sehingga data tersebut sesuai untuk proses data mining. Proses coding dalam KDD merupakan proses kreatif dan sangat tergantung pada jenis atau pola informasi yang akan dicari dalam basis data
Data mining
Data mining adalah proses mencari pola atau informasi menarik dalam data terpilih dengan menggunakan teknik atau metode tertentu. Teknik, metode, atau algoritma dalam data mining sangat bervariasi. Pemilihan metode atau algoritma yang tepat sangat bergantung pada tujuan dan proses KDD secara keseluruhan.
Interpretation/ Evaluation
Pola informasi yang dihasilkan dari proses data mining perlu ditampilkan dalam bentuk yang mudah dimengerti oleh pihak yang berkepentingan. Tahap ini merupakan bagian dari proses KDD yang disebut dengan interpretation. Tahap ini mencakup pemeriksaan apakah pola atau informasi yang ditemukan bertentangan dengan fakta atau hipotesa yang ada sebelumnya.
Proses KDD secara garis besar memang terdiri dari 5 tahap seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Akan tetapi, dalam proses KDD yang sesungguhnya, dapat saja terjadi iterasi atau pengulangan pada tahap tahap tertentu. Pada setiap tahap dalam proses KDD, seorang analis dapat saja kembali ke tahap sebelumnya. Sebagai contoh, pada saat coding atau data mining, analis menyadari proses cleaning belum dilakukan dengan sempurna, atau mungkin saja analis menemukan data atau informasi baru untuk “memperkaya” data yang sudah ada.
KDD mencakup keseluruhan proses pencarian pola atau informasi dalam basis data, dimulai dari pemilihan dan persiapan data sampai representasi pola yang ditemukan dalam bentuk yang mudah dimengerti oleh pihak yang berkepentingan. Data mining merupakan salah satu komponen dalam KDD yang difokuskan pada penggalian pola tersembunyi dalam basis data.
Generalized Distribution Table and Rough Set System
GDT merupakan sebuah sistem induksi yang mudah untuk menemukan aturan-aturan pengklasifikasian dari database dengan data yang tidak lengkap dan tidak pasti (Zhong, dkk., 1998, Dong dkk., 1999a). Sistem tersebut didasarkan atas hibridisasi dari Tabel Distribusi Generalisasi (GDT, Generalization Distribution Table) dan metodologi Rough Set. Dari data pelatihan yang tidak lengkap, system GDT-RS dapat menghasilkan sekumpulan aturan dengan panjang deskripsi yang minimal (semi minimal), yang mempunyai kekuatan yang besar dan mencakup semua contoh-contoh.
Terdapat dua jenis atribut dalam sebuah database yaitu atribut kondisi dan atribut keputusan yang kadang disebut atribut kelas. Atribut kondisi digunakan untuk menggambarkan contoh-contoh yang memungkinkan dalam GDT, sedangkan atribut keputusan berhubungan dengan konsep-konsep (kelas-kelas) yang tergambar dalam sebuah aturan. Biasanya, sebuah atribut keputusan yang tunggal sudah merupakan semua yang dibutuhkan.
Sebuah GDT terdiri dari tiga komponen, yaitu contoh-contoh yang memungkinkan, generalisasi yang memungkinkan dari contoh-contoh, dan hubungan probabilitas antara contoh-contoh yang memungkinkan dan generalisasi-generalisasi yang memungkinkan.
Contoh-contoh yang memungkinkan, yang digambarkan di puncak baris GDT, ditetapkan oleh semua kombinasi yang memungkinkan dari nilai-nilai atribut dari suatu database. Generalisasi-generalisasi yang memungkinkan dari contoh-contoh, yang digambarkan oleh kolom kiri dari sebuah GDT, semuanya merupakan kasus-kasus yang memungkinkan dari generalisasi untuk semua contoh-contoh yang memungkinkan.
Hubungan-hubungan probabilitas antara contoh-contoh yang memungkinkan dan generalisasi-generalisasi yang memungkinkan , yang digambarkan dengan entri-entri Gij dari sebuah GDT yang diberikan, ditentukan dengan menggunakan distribusi probabilitas yang menggambarkan kekuatan hubungan antara contoh-contoh manapun dan generalisasi yang memungkinkan manapun. Distribusi utama diasumsikan menjadi seragam jika latar belakang pengetahuan tidak tersedia. Karena itu, hal ini dibatasi dengan
dimana Pij adalah j-th contoh yang memungkinkan, PG adalah i-th generalisasi yang memungkinkan, dan Npg adalah jumlah dari contoh-contoh yang memungkinkan yang memenuhi i-th generalisasi yang memungkinkan tersebut, contoh:
dimana Pgi{l} adalah nilai dari atribut l-th dalam generalisasi yang memungkinkan Pgi, dan nk adalah angka dari nilai-nilai dari atribut k-th. Pastinya, kita mempunyai EjGij =d1 untuk i apasaja.
Lebih jauh lagi, penemuan aturan tersebut dapat didesak oleh tiga tipe bias yang berhubungan dengan tiga komponen GDT, sehingga pengguna dapat memilih deskripsi-deskripsi konsep yang lebih umum dari sebuah level yang lebih tinggi atau konsep yang lebih khusus dari sebuah level yang lebih rendah, menyesuaikan kekuatan dari hubungan antara contoh-contoh dan generalisasinya, dan menentukan/memilih contoh-contoh yang memungkinkan (Zhong dkk., 1998).
Penyederhanaan Tabel Keputusan dengan GDT-RS
Proses penemuan aturan terdiri dari pemrosesan tabel keputusan termasuk seleksi dan pengurangan dari atribut-pelengkapan (fitur-fitur) yang relevan, dan penghasilan aturan keputusan yang tepat. Aturan-aturan keputusan yang relevan dapat disebabkan oleh aturan-aturan minimal (yaitu dengan panjang minimal dari sisi-sisi kirinya mengenai discernibility antara keputusan-keputusan) dengan menyetelnya (contohnya, menurunkan beberapa kondisi untuk mendapatkan aturan-aturan yang lebih general yang lebih baik dipredisposed untuk mengklasifikasian objek-objek yang baru walaupun objek-objek tesebut tidak mengklasifikasian dengan baik beberapa objek dari kumpulan pelatihan). Aturan –aturan yang relevan dapat disebabkan oleh kumpulan semua aturan-aturan yang minimal tersebut, atau dari sub-kumpulannya yang mencakup kumpulan objek-objek dari sebuah tabel keputusan yang diberikan. (Komorowski dkk., 1999; Pawlak dan Skowron, 1993). Sebuah pendekatan yang representatif untuk masalah dari generasi tersebut yang biasa disebut reducts relatif lokal dari atribut kondisi merupakan satu-satunya yang akan mewakili pengetahuan yang akan memelihara kedapatan dilihat antara objek-objek dengan menggunakan fungsi-fungsi kedapatan dilihat (Pawlak, 1991; Skowron dan Rauszer, 1992).
Jelas bahwa dengan menggunakan GDT satu contoh dapat dipasangkan dengan beberapa generalisasi-generalisasi yang memungkinkan, dan beberapa contoh-contoh dapat di generalkan ke dalam satu generalisasi yang memungkinkan. Penyederhanaan sebuah tabel keputusan dengan menggunakan sistem GDT-RS tersebut membawa pada satu kumpulan generalisasi minimal (atau sub-minimal) yang mencakup semua contoh-contoh. Tujuan utamanya adalah untuk menemukan sesuatu yang relevan (yaitu: minimal atau semi-minimal yang berkenaan dengan ukuran gambaran) yang mencakup tentang contoh-contoh yang masih membolehkan kita untuk memecahkan konflik-konflik antara aturan-aturan keputusan yang berbeda yang mengenali objek-objek baru. Langkah pertama dalam sistem GDT-RS untuk generasi aturan keputusan didasarkan pada penghitungan reduct-reduct relatif lokal dari atribut-atribut kondisi dengan menggunakan metode matrik kedapatan dilihat (Bazan dan Szczuka, 2000; pawlak, 1991; skowron dan Rauszer, 1992).
Lagipula, dari pada mencari atribut-atribut yang dapat dikeluarkan, lebih baik mencari atribut-atribut yang relevan yang menggunakan sebuah metode bottom-up. Contoh-contoh yang cocok dengan generalisasi apapun dengan keputusan yang berbeda-beda sebaiknya dicek dengan (6). Jika level suara lebih kecil daripada satu nilai treshold, seperti sebuah generalisasi dianggap sebagai sesuatu yang masuk akal. Jika tidak, generalisasi tersebut akan bertentangan.
Lebih jauh lagi, sebuah aturan dalam GDT-RS dipilih menurut prioritasnya. Prioritas tersebut dapat dibatasi dengan jumlah contoh-contoh yang dicakup oleh sebuah aturan (yaitu semakin banyak contoh-contoh yang dicakup, semakin tinggi prioritas tersebut), atau dengan kekuatan aturan (Zhong dkk., 1998).
Mencari Algoritma Untuk Satu Kumpulan Yang Optimal Dari atribut
Sekarang kita membuat outline ide mencari algoritma untuk satu kumpulan aturan yang dikembangkan (Dong dkk., 1999a) dan didasarkan atas metodologi GDT-RS. Kita menggunakan sebuah tabel keputusan sampel yang terlihat dalam Tabel 1 untuk menggambarkan ide tersebut. Biarkan suara menjadi sebuah nilai treshold.
Langkah 1. Buat GDT tersebut
Jika latar belakang pengetahuan sebelumnya tidak tersedia, distribusi suatu generalisasi terdahulu dikalkulasikan dengan menggunakan persamaan (1) dan (2).
Langkah 2. Pertimbangkan kelas-kelas ketidakdapatan dilihat menurut atribut kondisi kumpulan C (seperti U1, U3 dan U5 dalam database sampel dari Tabel 1) sebagai satu contoh, yang disebut contoh gabungan (seperti U1=[U1] IND (a,b,c) dalam tabel berikut). Kemudian generalisasi-generalisasi kemungkinan dapat dikalkulasikan dengan benar.
Langkah 3. Untuk contoh U’ gabungan apapun (seperti contoh U’ dalam contoh di atas), biarkan d(U’) menjadi kumpulan kelas-kelas keputusan terhadap contoh-contoh dalam yang mana U’ berada.
Langkah 4. Pilih satu contoh dari U’. Dengan menggunakan ide matriks kedapatan dilihat, buat sebuah vector kedapatan dilihat (yaitu, baris atau kolom mengenai U dalam matriks kedapatan dilihat) untuk u. Sebagai contoh, vector kedapatan dilihat untuk contoh u2:aobici adalah sebagai berikut:
Langkah 5. Hitung semua yang disebut reducts relatif lokal untuk contoh u dengan menggunakan fungsi kedapatan dilihat.
Langkah 6. Bangun aturan-aturan dari reducts lokal untuk contoh u, dan revisi kekuatan dari masing-masing aturan
Langkah 7. Pilih aturan-aturan terbaik dari aturan-aturan (untuk u) yang didapat dalam Langkah 6 berdasarkan prioritasnya (Zhong dkk., 1998).
Langkah 8. kemudian kembali ke Langkah 4. Kalau tidak, terus ke Langkah 9.
Langkah 9. Jika aturan manapun dipilih dalam Langkah 7 mencakup satu contoh dengan tepat , lalu BERHENTI, kalau tidak, dengan menggunakan metode dari Bagian 2.3, pilih satu kumpulan aturan-aturan minimal yang mencakup semua contoh dalam tabel keputusan.
Rough Set with Heuristics (RSH)
RSH adalah sebuah sistem untuk seleksi sub-kumpulan sebuah atribut. Ini didasarkan atas kumpulan-kumpulan yang sulit dengan Heuristik (Dong dkk., 1999b). Perkembangan RSH tersebut didasarkan atas observasi berikut: (i) sebuah database selalu mengandung banyak atribut yang tumpang tindih dan tidak penting untuk penemuan aturan; (ii) jika atribut-pelengkapan yang tumpang tindih ini tidak dibuang, tidak hanya kompleksitas waktu dari penemuan aturan akan meningkat tapi juga kualitas dari aturan-aturan yang ditemukan dapat turun secara signifikan.
Tujuan dari seleksi atribut adalah untuk menemukan sebuah sub-kumpulan optimal dari atribut-atribut menurut beberapa kriteria sehingga satu penggolong dengan kemungkinan keakuratan tertinggi dapat disebabkan oleh sebuah algoritma belajar induktif yang menggunakan informasi tentang data yang tersedia hanya dari atribut-atribut sub-kumpulan.
Beberapa konsep dari rough set yang berhubungan dengan seleksi atribut dalam pra-pemrosesan (Pawlak, 1991). Biarkan C dan D menunjukkan kondisi dan kumpulan-kumpulan atribut dari tabel keputusan T, secara berurutan. Daerah C-positif dari D merupakan kumpulan dari semua objek-objek dari semesta U yang dapat diklasifikasikan dengan kepastian untuk kelas-kelas U/D yang mempekerjakan atribut-atribut dari C, yaitu
Dimana CX menunjukkan perkiraan yang rendah dari kumpulan X tentang C, yaitu kumpulan dari semua objek dari U yang dapat diklasifikasikan dengan pasti sebagai elemen-elemen dari X berdasarkan pada atribut-atribut dari C.
Sebuah atribut dapat dikeluarkan dalam sebuah tabel keputusan T, jika = jika tidak, atribut c dapat dikeluarkan dalam T. Satu kumpulan atribut … disebut sebuah reduct dari C jika ini merupakan sebuah sub-kumpulan atribut minimal yang memelihara kondisi Lebih jauh, kumpulan dari semua atribut yang tidak dapat dikeluarkan dalam C ditunjukkan oleh CORE( C ). Kita mempunyai
Dimana RED (C) adalah kumpulan dari semua reducts C.
Kualitas dari suatu sub-kumpulan atribut R dalam GDT-RS bergantung pada kekuatan dari aturan-aturan yang ditemukan dengan menggunakan sub-kumpulan ini. Semakin tinggi kekuatannya semakin baik sub-kumpulannya. Mencari atribut-atribut yang bermanfaat untuk mendapatkan aturan-aturan dengan rata-rata sampul yang besar dan kekuatan didasarkan atas strategi seleksi yang digambarkan.
Wednesday, 12 December 2007
Lihat Foto aja dulu ya
Saturday, 29 September 2007
Posisi Iptek

Oleh : Supratman Zakir, S. Kom,. M. Pd
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia
(Q.S. Ali Imran : 110)
A. PENDAHULUAN
(Masih adakah dunia ini jika Matahari, Bulan dan Galaksi-galaksi tidak lagi
berada pada garis orbitnya …?)
C. PEMBAHASAN
1. Kita harus meghapus dikotomi Ilmu (Dunia & Akherat) dan dijadikan satu Formula yang sama-sama penting sebagai Pemimpin di dunia ini dan sebagai hamba-Nya
2. Kita harus mampu melihat bahwa Teknologi merupakan suatu media yang harus digunakan dalam pergerakan dan perjuangan dengan menguasai teknologi.
D. KESIMPULAN
1. Mantapkan komitmen tiada hari tanpa belajar dan dakwah
2. Kuasai Teknologi untuk media pergerakan dan Perjuangan
3. Hilangkan Dikotomi pemisahan Ilmu dalam mempelajarinya dan mantapkan bahwa kedua-duanya harus dikuasai.
4. Jadikan Rukun Iman dan Rukun Islam sebagai barometer dalam proses pencapaian Ilmu dan teknologi
5. Tingkatkan Kemampuan Intelektul dengan terus belajar. Kemampuan berinteraksi dengan loyalitas, kejujuran, kepekaan sesama serta meningkatkan kualitas dan kuantitas kemampuan berhubungan dengan Allah.
Friday, 28 September 2007
Perguruan Tinggi Non Akreditasi

NON AKREDITASI
(Solusi strategis dari Pandangan Pendekatan Sistem)
Oleh : Supratman Zakir
I. PENDAHULUAN
Kebanyakan di negara berkembang, Perguruan Tinggi belum sepenuhnya dikatakan sebagai “Instrumen Pembangunan” dalam arti yang sebenarnya, tetapi masih banyak menjadi “Simbol Pembangunan” itu sendiri. Stigma kian memasyarakat dan semakin kuat karena Perguruan Tinggi masih terlalu dikontrol oleh negara maju, Pemerintah atau pihak Yayasan (Perguruan Tinggi Swasta) sehingga ia sulit menjadi jati dirinya sendiri yang dikarenakan intervensi yang berlebihan dari pihak-pihak yang merasa berhak untuk ikut campur tangan.
Dari penjelasan di atas maka dapat diidentifikasi berapa permasalahan yang mengakibatkan beberapa atau bahkan banyak perguruan tinggi di Indonesia yang belum atau tidak terakreditasi atau hanya mendapat nilai “D” dengan artian perguruan tinggi tersebut dinilai tidak boleh beroperasi oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN).
II. KAJIAN TEORITIS
b. Konsep Dasar Akreditasi
BAN-PT berdiri pada tahun 1994, berlandaskan UU No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan PP No. 60 tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi. BAN-PT memiliki wewenang untuk melaksanakan sistem akreditasi pada pendidikan tinggi, baik untuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Perguruan Tinggi Swasta (PTS), Perguruan Tinggi Agama (PTA) dan Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) serta kerjasama dengan insitiusi pendidikan tinggi di dalam negeri, yang ditawarkan oleh institusi pendidikan tinggi dari luar negeri. http://www.ban-pt.or.id/.
c. Pengertian Sistem
Sedangkan menurut Mudyaharjo (1993, dalam Hamalik, 2002) sistem didefinisikan sebagai suatu kesatuan dari berbagai elemen atau bagian-bagian yang mempunyai hubungan fungsional dan berinteraksi secara dinamis untuk mencapai hasil yang diharapkan.
a. Rekrutmen melalui seleksi yang ketat
b. Pengembangan dosen melalui :
1. Tugas belajar (S2 atau S3)
2. Seminar / Lokakarya
3. Penelitian
c. Melengkapi Fasilitas
1. Ruang Kuliah
2. Perpustakaan
3. Laboratorium Teknologi Informasi
4. Laboratorium Penunjang
5. Perkantoran
6. Aula
d. Melalui Open Management yang objektif terhadap pihak yayasan dan transparan
Setelah alternatif diseleksi, ini semua akan tidak berarti bila tidak diimpelemtasikan dengan tindakan nyata.
7. Evaluasi
Setelah tahap impelemtasi maka untuk mengetahui keefektifan dan keefesienan harus dilakukan evaluasi terhadap proses problem solving
Kemungkinan untuk memodifikasi alternatif yang telah dipilih bila dibutuhkan
b. Analisa Keuntungan dan Kelemahan
KEUNTUNGAN
KELEMAHAN
1. Sistem Rekruitmen :
a. Terpilihnya dosen yang kualified, profesional dan pengembangan kedepan
b. Tersaringnya input yang berkualitas
2. Pengembangan Dosen
a. Tugas Belajar
Meningkatkan kualitas dosen
Mampu berkompetitif dengan PTN dan PTS lainya
b. Seminar / Lokakarya
Peningkatan Wawasan
Pertukaran Informasi
Kredit Point
Promosi
c. Penelitian
Penemuan baru
Informasi yang up to date
Pengembangan PT
Pengembangan Needs Assessment
-
II. Melengkapi Fasilitas
a. Kelancaran proses perkuliahan
b. Kemudahan mendapatkan referensi dan literatur
c. Pengujian, keterampilan, praktek
d. Promosi
e. Pelayanan Administrasi yang prima
f. Memperlancar kegiatan akademik
III. Sistem Yayasan
(Open Management)
a. Cepat maju
b. Dapat dipertanggung jawabkan secara moral dan material
c. Mudah melakukan pembinaan
d. Memfungsikan unsur akademisi
Membutuhkan Biaya / Waktu yang banyak
Proses Rumit
Tidak banyak tenaga yang tersedia sesuai dengan kualifikasi
Dana Besar
Waktu Panjang
Dana besar
Birokrasi agak rumit
-
Dana
Biaya
Lokasi
Tenaga Kerja
Dana
Waktu
Tenaga Profesional
Penyimpitan intervensi keluarga
Hilangnya unsur KKN
Tidak bisa menguasai segi akademik maupun segi finansial
Berkurangnya hak feto
Keputusan harus mengikut sertakan akademisi
c. Alternatif Pilihan dan Alasan Pemilihan
Open Management dari pihak yayasan sangat diperlukan, karena dengan Open Management akan mengurangi keragu-raguan, menepis ketidak percayaan masayarakat kepada pengelolaan administrasi pada Perguruan Tinggi tersebut, terutama hal-hal yang menyangkut manajemen dan pertanggung jawaban keuangan. Setelah itu pelaksanaan Open Management dapat memenuhi tuntutan perkembangan IPTEK dalam era Teknologi Informasi.
Beberapa model pendekatan dapat digunakan dalam pemecahan masalah seperti “System Approach” dari Aristotle, Total Quality Management dari Deming.
Perguruan tinggi yang belum terakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) supaya dapat merespons dengan serius beberapa system yang terkait dengan mutu, seperti system rekruitmen, fasilitas, kualitas tenaga pengajar/dosen serta manajen pengelolaan.
Ansyar, M, (2001), Kurikulum Menyonsong Otonomi Pendidikan di Era Globalisasi : Peluang, tantangan, dan Arah”, Forum Pendidikan, No. 2 (26), Juni 2001.
Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Konsep Akreditasi,
----------, Pengantar BAN-PT, http://www.ban-pt.or.id/id_konsep-akreditasi.htm, diakses tanggal 23 Mei 2007.
Dewi Padmo, (editor), Teknologi Pembelajaran - Upaya Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Sumber Daya Manusia, Universitas Terbuka, Jakarta, 2003
Dewi Salma Prawiradilaga & Eveline Siregar, Mozaik Teknologi Pendidikan, Prenada Media, Jakarta, Edisi I, 2004
IGAK Wardhani, Program Tutorial dalam Sistem Pendidikan Tinggi Terbuka dan Jarak Jauh. Jurnal Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh, 1(2), hal. 41-45.
Indra Djati Sidi, Menuju Masyarakat Belajar, Paramadina & PT. Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 2001
Ismail Pulungan , Manajemen Mutu Terpadu, PAU-PPAI-UT, Universitas Terbuka, Jakarta, 2001
Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, PT. Bumi Aksara, Jakarta, 2002
Paulina Panen, Pendidkan sebagai Sistem, PAU-PPAI-UT, Universitas Terbuka, Jakarta, 2001
Yusuf Hadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Prenada Media, Jakarta, Edisi I, 2004
Jadikan Kesedihan Penghiburmu

Kampus Ku Surga Ku...???

Tulisan ini hanya sebatas keinginan dari seorang anak manusia yang memiliki cita-cita terciptanya suasana dan iklim yang "menyejukkan" di kampus ku tercinta STAIN Bukittinggi. Hasrat tersebut timbul semenjak dioperasikannya Kampus II di Gurun Aur Kubang Putih Kab. Agam Sumatera Barat. Akankan hal tersebut dapat tercapai...???
Optimistis perlu tetap dipegang teguh, walaupun kondisi terjal yang harus dilalui. Kampus yang asri, halaman yang bersih, gedung yang bersih, pakaian mahasiswa dan dosen yang rapi, tegur sapa dan salam yang selalu dibudayakan..... akankah itu dapat kita nikmati..???
Semuanya tersebut akan dapat kita nikmati, jika semua elemen disini bersatu tangan, satu langkah dalam rangka menuju kampus yang madani. Kamar mandi dan toilet yang bersih, halaman yang sejuk tanpa sampah, gedung indah dan bersih.....Ku Yakin itu akan dapat kunikmati di Kampusku yang tercinta
Usaha Guru Mengatasi Anak yang Bermasalah dalam Belajar

ANAK YANG BERMASALAH DALAM BELAJAR
I. PENDAHULUAN
II. MENGAJAR
III. PERANAN GURU
Guru harus selalu membuat keputusan-keputusan bahan pelajaran dan metode mengajar. Keputusan-keputusan ini didasarkan atas banyaknya factor seperti bahan inti yang harus diajarkan, kemampuan murid dan apa yang diperlukan olehnya dan tujuan yang akan dicapai.
Murid tidak berhasil dengan sendirinya, melainkan dengan peran guru sebagai motivator. Ada beberpa pelajaran yang di sampaikan guru tidak menarik minat dan perhatian murid. Memulai memngajar dengan penuh semangatpun tidak merupakan jaminan bahwa minat dan konsentrasi murid dapat berlangsung lama.
Banyak keputusan yang dibuat guru berpengaruh terhadap motivasi murid. Cara memberikan nilai misalnya, dapat mendorong murid belajar lebih giat atau malah menjadikannya putus asa. Bahkan pelajaran yang dipilih yang sejalan dengan minat dan kemampuan murid dapat membantu mendorong mereka belajar. Maslahnya ialah bagaimanakah guru dapat mempertahankan minat dan perhatian murid selama proses belajar mengajar berlangsung.
Waktu yang di pergunakan guru untuk berinteraksi secara verbal dengan murid rata-rata antara 20 sampai 30persen setiap harinya. Selebihnya di pergunakan untuk kegiatan pengelolaan, seperti supervisi, organisasi pelajarn,menyiapkan ujian, memeriksa dan menilai pekerjaan murid, menghadiri rapat, mengadakan pertemuan dengan orang tua murid dan sebagainya.
4) Guru sebagai pemimpin
Meskipun guru harus menangani kebutuhan murid orang perorang, tetapi kenyataannya jarang berbuat demikian. Mengajar nyatanya adalah memimpin sekelompok murid. Guru yang efektif adalah pemimpin yang efektif, yaitu memanfaatkan potensi kelompok untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan individual. Dalam peranannya sebagai pemimpin kelompok, guru diharapkan menjadi wasit, pelerai kecemasan, detektif, pencegah timbulnya perasaan bermusuh dan frustasi, teman dan orang kepercayaan, pengganti orang tua, sumber kasih saying dan pemberi semangat.
Sebagai konselor, guru harus menjadi pengamat yang peka terhadap tingkah laku dan gerak gerik murid. Guru harus berusaha memberikan tanggapan yang konstruktif apabila murid mengalami kelesuan dalam belajar. Dia harus tahu apabila ada murid perlu dikonsultasikan kepada ahli kesehatan mental misalnya. Disetiap kelas tidak jarang murid mengadukan persoalan pribadinya kepada guru.
Guru diharapkan menjadi desainer yang dapat menata ruang kelas dengan baik sehingga menimbulkan suasana belajar yang kondusif.. Bukankah penataan ruangan kelas dapat membantu atau mengganggu proses belajar ? Perubahan tata ruang kelas itu mungkin saja tidak menyolok, seperti menggantungkan gambar di depan kelas atau menyuruh murid duduk dalam posisi lingkaran untuk keperluan diskusi dan sebagainya.
Guru juga berperan sebagai model atau contoh bagi muridnya. Gairah murid terhadap suatu mata pelajaran timbul karena pelajaran itu diberikan oleh guru yang penuh gairah dengan menggunakan metode demonstrasi. Sebaliknya gairah terhadap suatu mata pelajaran memudar karena mata pelajaran itu diberikan dengan metode ceramah yang gersang. Dengan demikian guru tersebut dengan sengaja berperan sebagai model. Demonstrasi dalam mata pelajaran fisika, kimia dan kesejahteraan keluarga adalah contah permodelan langsung (direct modeling). Tetapi dalam banyak hal yang lain, guru tidak begitu menyadari peranannya sebagai model. Sebagai contoh, guru selalu berperan sebagai model dalam mendemonstrasikan cara berfikir memecahkan masalah. Apabila guru dapat melibatkan muridnya berfikir melalui berbagai macam alternatif pemecahan masalah, besar kemungkinan muridnya menjadi sadar bahwa mereka mampu memecahkan masalah dalam berbagai macam situasi.
2) Kurang memadainya apresiasi guru terhadap tujuan asasi pendidikan.
3) Kurang terampil melakukan diagnosis
4) Tidak pandainya guru menggunakan metode mengajar yang baik dan cara yang mengelola kelas.
1) Sikap pribadi dan sikap social yang tidak konstruktif
2) Kurang percaya pada diri sendiri.
3) Emosi yang tidak stabil.
1) Faktor Intern
2) Faktor External
1) Menunjukkan prestasi yang rendah/di Bawah rata-rata yang dicapai oleh kelompok kelas
2) Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan. Ia berusaha dengan keras tetapi nilainya selalu rendah.
3) Lambat melaksanakan tuga-tugas belajar. Ia selalu tertinggal dengan kawan-kawannya dalam segala hal, misalnya dalam mengerjakan soal-soal latihan dsb.
4) Menunjukkan sikap yang kurang wajar seperti acuh tak acuh, berpura-pura dusta, dll.
5) Menunjukkan tingkah laku yang berlainan, misalnya mudah tersinggung, murung, pemarah, bingung, cemberut, kurang gembira, selalu sedih.
1) Memanggil dan menerima anak yang bermasalah dengan penuh kasih sayang
2) Dengan wawancara yang dialogis diusahakan dapat ditemukan sebab-sebab utama yang menimbulkan masalah.
3) Memahami keberadaan anak dengan sedalam-dalamnya
4) Menunjukkan cara penyelasaian masalah yang tepat untuk di renungkan oleh anak kemudian untuk dikerjakannya.
5) Menemukan segi-segi kelebihan anak agar kelebihan itu diaktualisisr guru megatasi kekurangannya
6) Menanamkan nilai-nilai spritual yang benar.
Feinberg. R, Mortimer, dkk, Psikologi Manajemen, alih bahasa R. Turman Sirait, Mitra Utama, Jakarta, 1994
Kartono, Kartini, Pemimpin dan Kepemimpinan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, cet. ke-VIII, 1998
Prasetya, Falsafah Pendidikan, Pustaka Setia, Jakarta, 1997
Siagian. P, Sondang, Manajemen Sumber Daya Manusia, Bumi Aksara, Jakarta, 1993
Sugiarto, Endar, Psikologi Pelayanan dalam Industri Jasa, PT. Gramedia Grafindo Persada, Jakarta, 1990
Sudjana, Nana, Teori-teori Belajar untuk Pengajaran, Fakultas Ekonomi Uiversitas Indonesia, Jakarta, 1991
Suryabrata, Sumadi, Psikologi Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, cet. ke-IX, 1998
Tirtaraja, Umar, dkk, Pengantar Pendidikan, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 1998
Thoha, Miftah, Kepemimpinan dalam Manajemen, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995
Wilis Dahar, Ratna, Teori-teori Belajar, Depdikbud Dirjend Pendidikan Tinggi PPL Pendidikan Tenaga Kependidikan, Jakarta, 1980
Manajemen Berbasis Sekolah

STRATEGI PENGEMBANGAN KOMPETENSI SISWA DENGAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
Oleh : Supratman Zakir, S. Kom., M. Pd
PENDAHULUAN
- Pengatahuan (Knowledge); otoritas keputusan berkaitan dengan kurikulum, tujuan dan sasaran pendidikan.
- Teknologi (Technology); otoritas mengenai srana dan prasaran pembelajaran
- Kekuasaan (Power); kewenangan dalam membuat keputusan.
- Material (Material); kewenangan mengenai penggunaan fasilitas, pengadaan dan peralatan alat-alat sekolah.
- Manusia (People) kewenangan atas keputusan mengenai sumber daya manusia, pengembangan profesionalisme dan dukungan terhadap proses pembelajaran.
- Waktu (Time); kewenangan mengalokasikan waktu
- Keuangan (Financial); kewenangan dalam mengalokasikan dana pendidikan.
- Penerimaan (admission); kewenangan untuk menentukan siswa mana yang akan diterima diseklolah.
- Penilaian (Assessment); kewenangan untuk menentukan berapa siswa yang akan dinilai.
- Informasi (Information); kewenangan untuk menseleksi data mengenai kinerja sekolah dan mempublikasikannya.
- Pendanaan (Funding); kewenangan untuk menentukan uang masuk bagi penerimaan siswa.
- Mendapatkan guru yang berkualitas
- Mencari terobosan baru untuk menandingi sekolah unggul
- Menaikkan standar pembelajaran
- Mereorganisasi kurikulum.
Akan tetapi pemecahan masalah yang pernah ditawarkan tersebut tidak menyentuh esensi permasalahan dunia pendidikan itu sendiri. Menurut Skinner satu hal yang perlu dilakukan untuk memecahkan kebuntuan tersebut adalah bagaimana guru bertanggung jawab mengembangkan pada siswa tingkah laku verbal (kompetensi) atau kemampuan siswa yang merupakan pernyataan keterampilan dan pengetahuan mata pelajaran.
Konkritnya Skinner menjelaskan yang harus dilakukan dalam rangka meningkatkan kemampuan siswa atau kompetensi siswa adalah : Membangun khazanah tingkah laku verbal dan non verbal yang menunjukkan hasil belajar.
Menghasilkan dengan kemungkinan yang besar, tingkah laku yang disebut minat, antusiasme dan motivasi untuk belajar.
Sehingga dengan tugas seperti ini pembelajaran itu berfungsi memperlancar pemerolehan pola-pola tingkah laku verbal dan non verbal yang perlu dimiliki setiap siswa. Menurut B. Weiner, dengan teori atribusinya, satu sumbangan penting untuk pendidikan adalah berkenaan dengan analisa terjadinya interaksi di kelas. Hal yang penting diperhatikan dalam interaksi di kelas dalam konteks proses pembelajaran serta dalam rangka meningkatkan kemampuan atau kompetensi siswa ialah ciri siswa, ciri-ciri siswa yang perlu dipertimbangkan ialah perbedaan perseorangan, kesiapan untuk belajar dan motivasi :
- Perbedaan Perseorangan, Dalam hal ini yang perlu diperhatikan ialah tingkat perkembangan siswa dan tingkat rasa harga diri siswa. Untuk mengimbangi adanya perbedaan perseorangan dalam proses pembelajaran dianatarany dapat dilakukan pengajaran dengan kelompok kecil (Cooperative Learning), tutorial, dan belajar mandiri serta belajar individual.
- Kesiapan untuk belajar Kesiapan seorang siswa dalam kegiatan pembelajaran sangat mempengaruhi hasil pembelajaran yang bermanfaat baginya. Karena belajar sifatnya kumulatif, kesiapan untuk belajar baru mengacu pada kapabilitas, dimana kesiapan untuk belajar itu meliputi keterampilan-keterampilan yang rendah kedudukannya dalam tata hirarki keterampilan intelktual.
- Motivasi, ciri khas dari teori-teori belajar ialah memperlakukan motivasi sebagai suatu konsep yang dihubungkan dengan asas-asas untuk menimbulkan terjadinya belajar pada diri siswa. Konsep ini memusatkan perhatian pada dilakukannya manipulasi lingkungan yang bisa mendorong siswa seperti membangkitkan perhatian siswa, mempelajari peranan peransang atau membuat agar bahan ajar menarik bagi siswa.
Ketiga hal diatas harus diperhatikan yang dibarengi dengan penciptaan suasan kelas yang menyenangkan sehingga tingkah laku, respon yang dikeluarkan oleh siswa menghasilkan suasan pembelajarn yang nyaman dan menyenangkan akibat dari stimulus lingkungan yang dimanipulasi tersebut. Disamping ketiga hal diatas yang perlu diperhatikan dalam kontek peningkatan kompetensi siswa, maka kurikulum juga merupakan hal yang tidak terpisahkan dengan kompetensi siswa dalam pembelajaran.
Untuk mengimbangi peningkatan kemampuan siswa dalam kontek tingkah laku, maka kurikulum juga perlu menjadi perhatian sehingga siswa benar-benar memiliki kompetensi yang sangat memadai. Kurikulum saat ini, terutama kurikulum pendidikan nasional akan dikembangkan apa yang dinamakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau Competency based Curriculum.
Dalam konsep ini, kurikulum harus dikuasai oleh siswa setelah ia menyelesaikan satu unit pelajaran, satu satuan waktu dan satu satuan pendidikan. Materi kurikulum harus ditekankan pada mata pelajaran yang sanggup menjawab tantangan global dan perkembangan iptek yang sangat cepat. Disamping itu kurikulum yang dikembangkan harus berlandaskan pendidikan etika dan moral yang dikembangkan dalam mata pelajaran agama dan mata pelajaran lain yang relevan.
Selain itu kurikulum harus bersifat luwes, sederhana dan bisa menampung berbagai kemungkinan perubahan dimasa yang akan datang sebagai dampak dari perkembangan terknologi dan tuntutan masyarakat. Kurikulum hanya bersifat pedoman pokok dalam kegiatan pembelajaran siswa dan dapat dikembangkan dengan potensi siswa, keadaan sumber daya pendukung dan kondisi yang ada. Semua alternative solusi diatas tidak ada artinya jika tidak dimanajemeni atau dikelola dengan professional. Salah satunya adalah dengan menerapkan sistem manajemen berbasis sekolah, dimana pihak sekolah memiliki otoritas yang cukup untuk mengelola konsep-konsep yang akan diterapkan dalam rangka meningkatkan kompetensi siswa.
Masalah kurikulum, tujuan pendidikan, keputusan atau kebijakan sekolah, fasilitas yang akan digunakan, pengembangan SDM sekolah, pengaturan waktu dan biaya pendidikan, haruslah sepenuhnya dikelola oleh sekolah sehingga langkah-langkah teknis diatas dapat terwajud.
PENUTUP
Untuk meningkatkan kompetensi siswa ada beberap hal yang harus diperhatikan, diantaranya, ciri-ciri siswa antara lain, perbedaan perseorangan, kesiapan belajar dan motivasi yang dibarengi oleh pemanipulasian suasana pembelajaran menjadi lebih disukai oleh siswa sehingga dengan mempertimbangkan kondisi ini apa yang diharapkan sesuai dengan tujuan. Akan tetapi jika mensfesifikasi pendidikan kedalam tingkah laku sama dengan membatasi guru menjadi upaya untuk merubah tingkah laku siswa.
Pada hal, pendidikan tidak hanya sebatas tutorial yang akan mengakibatkan pendidikan kurang manusiawi dan terlalu mekanistik. Akan tetapi pendidikan lebih dari itu, dimana pendidikan memerlukan tingkat kecerdasan dan kebebasan berpikir yang tinggi, kompetensi dan moral atau tingkah laku yang kompleks untuk mengarunginya. Secara kelembagaan dalam rangka meningkatkan kompetensi siswa perlu sebuah sistem yang mampu mengakomodir tujuan tersebut. Salah satu bentuk dari system tersebut adalah manajemen berbasis sekolah yaitu sebuah sistem manajemen yang memberi keluasan kepada pihak sekolah untuk mengelola sekolah masing-masing menurut kebutuhan, kondisi, dan tuntutan lingkungan dimana sekolah tersebut berada.
DAFTAR BACAAN
Abu-Duhoui, Ibtisam, School Base Management, terjemahan Noryamin Aini, Suparto & Abas Al-Jauhari, cetPT. Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 2002
Dahar, Ratna Wilis, Teori-teori Belajar, Depdikbud Berkerjasama Dengan Dirjend Perguruan Tinggi, PPL Pendidikan Tenaga Kependidikan, Jakarta, 1989.
Gredler E. Bell Margaret, Belajar dan Membelajarkan, Terjemahan Munandir, CV, Rajawali, Jakarta, 1991
Sudjana, Nana, dkk, Teknologi Pengajaran, Sinar Baru Algesindo, Bandung, 2001
Sidi, Indra Djati, Menuju Masyarakat Belajar (Menggagas Paradigma Baru Pendidikan), Paramadina, Jakarta, 2001
Suryabrata, Sumadi, Psikologi Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1998
Snelbecker, Glenn. E, Learning Theory, Intructional Theory, and Psycoeducational Design, McGraw-Hill Book Company, United State of America, 1974
Tirtaradja, Umar, dkk, Pengantar Perndidikan, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 1998.






