Friday, 28 September 2007

Perguruan Tinggi Non Akreditasi


PERGURUAN TINGGI DENGAN STATUS
NON AKREDITASI

(Solusi strategis dari Pandangan Pendekatan Sistem)
Oleh : Supratman Zakir


I. PENDAHULUAN

Bila dilihat kondisi objektif Pendidikan Tinggi hari ini, terjadi kenaikan kuantitas yang tajam baik dalam hal jumlah mahasiswa, dosen, maupun tenaga administratif. Kondisi ini telah membawa dampak pada pengelolaan Perguruan Tinggi kearah pengelolaan secara kuantitatif sehingga mendorong tumbuhnya universitas atau mass university yang “kuantitatifisme” yang pada gilirannya akan menimbulkan beragam permasalahan diantaranya sulitnya menegakkan etika akademis seperti :1). Jumlah dosen dan mahasiswa yang terlalu besar akan memperlemah hubungan keakraban yang pada akhirnya sulit untuk membentuk dan menghidupkan suasana ilmiah. 2). Terdapat persaan bangga, baik dari kalangan dosen maupun mahasiswa yang tergabung dalam universitas besar karena prestasi teman sejawatnya yang terkemuka (bukan dirinya) yang ditopang keterkaitan akademis dan masyarakat ilmiah lebih luas. 3). Harapan masyarakat terhadap Perguruan Tinggi atau universitas akan output yang berprestasi dan berdedikasi. 4). Setelah diadakan penilaian ternyata banyak Perguruan Tinggi yang belum terakreditasi atau masih mendapat nilai “D” dalam artian sebenarnya tidak boleh beropersi. 5). Perguruan Tinggi menjadi lahan bisnis yang konsumtif yang menawarkan gelar-gelar simbolik. 6). Manajemen yang amburadul membuat kualitas (mutu ilmiah) Perguruan Tinggi terpuruk lebih dalam.

Melihat hal tersebut di atas tenyata tidak sedikit Perguruan Tinggi di Indonesia baik Perguruan Tinggi Negeri Umum maupun Perguruan Tinggi Negeri bidang keagamaan yang belum terakriditasi apalagi perguruan Tinggi Swasta. Hal ini berarti begitu banyak perguruan tinggi yang tidak boleh beroperasi dalam penilaian BAN. (http://www.ban-pt.or.id)
Kebanyakan di negara berkembang, Perguruan Tinggi belum sepenuhnya dikatakan sebagai “Instrumen Pembangunan” dalam arti yang sebenarnya, tetapi masih banyak menjadi “Simbol Pembangunan” itu sendiri. Stigma kian memasyarakat dan semakin kuat karena Perguruan Tinggi masih terlalu dikontrol oleh negara maju, Pemerintah atau pihak Yayasan (Perguruan Tinggi Swasta) sehingga ia sulit menjadi jati dirinya sendiri yang dikarenakan intervensi yang berlebihan dari pihak-pihak yang merasa berhak untuk ikut campur tangan.

Manajemen yang tertutup (close management) sering kali menjadi kendala kemajuan bagi sebuah Perguruan Tinggi, karena kekuatan finansial lebih unggul dari kualitas Perguruan Tinggi itu sendiri. Kepemimpinan yang bersifat kekeluargaan dan fasilitas yang kurang diperhatikan sering menjadi sorotan BAN dalam penilaian yang akhirnya menjatuhkan vonis non Akreditasi atau hanya memberi nilai “D” pada Perguruan Tinggi yang bersangkutan.
Dari penjelasan di atas maka dapat diidentifikasi berapa permasalahan yang mengakibatkan beberapa atau bahkan banyak perguruan tinggi di Indonesia yang belum atau tidak terakreditasi atau hanya mendapat nilai “D” dengan artian perguruan tinggi tersebut dinilai tidak boleh beroperasi oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN).

Beberapa aspek yang menjadi acuan bagi BAN dalam melakukan penilaian dalam proses akreditasi perguruan tinggi adalah sebagai berikut : 1). Kualitas Lulusan, 2) Profesionalisme dosen dan Karyawan, 3) Fasilitas (Sarana dan Prasarana, 4). Dana, 5). Manajemen, 6). Gaya Kepemimpinan, 7). Birokrasi, 8.) Yayasan keluarga, 9). Lingkungan, 10). Input Mahasiswa, 11). Kurikulum dan 12). Penggunaan Teknologi Informasi. (http://www.ban-pt.or.id/)

Dari beragam aspek di atas, seyogyanya dapat dikaji peraspek secara mendalam dan konfrehensif. Akan tetapi dalam artikel ini hanya membahas secara umum yang kiranya dapat meyentuh semua aspek yang menjadi bahan acuan bagi BAN dalam menilai sebuah perguruan tinggi untuk mendapatkan status akreditasi yang menyatakan kredibelitas perguruan tinggi yang bersangkutan.

II. KAJIAN TEORITIS

a. Perguruan Tinggi

Pendidikan tinggi merupakan suatu proses dimana pembelajar atau mahasiswa dianggap sebagai keluaran (output) yang mempunyai nilai atau harga (value) dalam pasaran kerja, dan keberhasilan itu sering diukur dengan tingkat penyerapan lulusan dalam masyarakat dan kadang-kadang diukur juga dengan tingkat penghasilan yang mereka peroleh dalam karirnya sehingga Perguruan tinggi sering diartikan sebagai penghasil tenaga kerja yang bermutu (qualified manpower).

Barnet (1992) dalam http://www.ban-pt.or.id/id_konsep-akreditasi.htm (diakses tanggal 23 Mei 2007) menjelaskan bahwa Perguruan tinggi sebagai organisasi pengelola pendidikan yang efisien. Dalam pengertian ini perguruan tinggi dianggap baik jika dengan sumber daya dan dana yang tersedia, jumlah mahasiswa yang lewat proses pendidikannya (throughput) semakin besar.

Dari beberapa pengertian di atas dapat dipahami bahwa Indikator sukses kelembagaan terletak pada cepatnya pertumbuhan jumlah mahasiswa dan variasi jenis program yang ditawarkan. Rasio mahasiswa-dosen yang besar dan satuan biaya pendidikan setiap mahasiswa yang rendah dipandang sebagai ukuran keberhasilan perguruan tinggi.

b. Konsep Dasar Akreditasi

Akreditasi dipahami sebagai penentuan standar mutu serta penilaian terhadap suatu lembaga pendidikan (dalam hal ini pendidikan tinggi) oleh pihak di luar lembaga pendidikan itu sendiri. (http://www.ban-pt.or.id/id_konsep-akreditasi.htm.

Penilaian tersebut, khususnya di Indonesia dilakukan oleh sebuah badan yang independen yaitu, Badan Akreditasi Nasional (BAN) dan di perguruan tinggi disebut dengan BAN-PT.
BAN-PT berdiri pada tahun 1994, berlandaskan UU No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan PP No. 60 tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi. BAN-PT memiliki wewenang untuk melaksanakan sistem akreditasi pada pendidikan tinggi, baik untuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Perguruan Tinggi Swasta (PTS), Perguruan Tinggi Agama (PTA) dan Perguruan Tinggi Kedinasan (PTK) serta kerjasama dengan insitiusi pendidikan tinggi di dalam negeri, yang ditawarkan oleh institusi pendidikan tinggi dari luar negeri.
http://www.ban-pt.or.id/.

Fungsi utama BAN-PT menurut peraturan perundangan yang ada (UU RI No. 20 tahun 2003, PP RI No. 60/1999, SK Menteri Pendidikan Nasional No. 118/U/2003), pada dasarnya adalah: membantu Menteri Pendidikan Nasional dalam pelaksanaan salah satu kewajiban perundangannya, yaitu penilaian mutu perguruan tinggi, yaitu Perguruan Tinggi Negeri, Kedinasan, Keagamaan, dan Swasta. Tugas utama tersebut meliputi (1) meningkatkan mutu pendidikam tinggi, (2) memperkenalkan serta menyebarluaskan "Paradigma Baru dalam Pengelolaan Pendidikan Tinggi", dan (3) meningkatkan relevansi, atmosfir akademik, pengelolaan institusi, efisiensi dan keberlanjutan pendidikan tinggi. (Tadjudin, 2000 dalam http://www.ban-pt.or.id/)


c. Pengertian Sistem

Menurut Hamalik (2002) Sistem secara teknis berarti seperangkat komponen yang saling berhubungan dan berkerja sama untuk mencapai suatu tujuan. Dan pendidikan merupakan sebuah system.
Sedangkan menurut Mudyaharjo (1993, dalam Hamalik, 2002) sistem didefinisikan sebagai suatu kesatuan dari berbagai elemen atau bagian-bagian yang mempunyai hubungan fungsional dan berinteraksi secara dinamis untuk mencapai hasil yang diharapkan.

Dari definisi di atas suatu sistem yang lain akan muncul karena mimiliki elemen-elemen tersendiri, dimana elemen tersebut juga merupakan sebuah system tersendiri. Artinya sebuah system dapat terdiri dari sub system–sub system yang pada gilirannya sampai kepada sebuah system yang amat besar dan dinamakan dengan supra sistem.

d. Pendekatan sistem

Pendekatan system dalam pendidikan merupakan satu cara yang memandang pendidikan secara menyeluruh dan sistemik, tidak parsial atau fragmatis. Pendidikan sebagai suatu system merupakan satu kesatuan yang utuh, dengan bagian bagian-bagiannya yang berinteraksi satu sama lain.

Pendekatan system mengandung dua aspek, yaitu aspek filosofis dan aspek proses. Aspek filosofis merupakan pandangan hidup yang mendasari sikap siperancang system yang terarah pada realita. Sedangkan apek proses meruapakan suatu proses dari implementasi system yang telah dirancang.


e. Beberapa Model pendekatan Masalah

Dalam pemecahan masalah beberapa model dapat digunakan di antaranya model System Approach yang ditawarkan oleh Aristotle (Ismail Pulungan, 2001). System Approach terdiri dari delapan langkah yaitu Analisis kebutuhan (Needs), Penentuan Tujuan (objective), Analisis hal-hal yang mendasar (Constraint), Pemilihan beberapa alternative (Alternative), pemilihan alternative (select), Penerapan Alternatif (Implement), Evaluasi program (Evaluate) dan memodifikasi program jika diperlukan (Modify).

Model Aristotle di atas banyak digunakan dalam pemecahan masalah sehingga model tersebut sangat di kenal dengan “model pendekatan system”.

Selain model Aristotle, Deming menawarkan sebuah model yang dinamakan dengan “Total Quality Management” . TQM terdiri dari Perencanaan (Plan), Pelaksanaan (Do), Aksi (Act) dan Penilaian (Check). (Ismail Pulungan, 2001)


III. PEMBAHASAN

a. Pemecahan Masalah

Bagaimana Perguruan Tinggi yang belum terakreditasi atau hanya mendapat nilai “D” dari BAN-PT keluar dari masalah ini ?. untuk menjawab pertanyaan tesbut perlu adanya solusi yang tepat untuk menyelesaikannya. Beberapa langkah yang dapat ditempuh oleh Perguruan Tinggi dapat mempedomani langkah yang kemukakan oleh Lehman pada simposium 1967 (dalam Ismail Pulungan, 2001) yang diadopsi dari teori Aristotle yang mengemukakan pendekatan-pendekatan beberapa system malalui delapan langkah pendekatan :

1. Menentukan Needs

Untuk langkah pertama adalah menentukan kebutuhan apa yang dibutuhkan oleh Perguruan Tinggi yang bekum terakreditasi atau hanya mendapat nilai “D” sehingga perguruan tinggi yang bersangkutan dapat kembali beroperasi dan selalu meningkatkan status akreditasinya dikemudian hari

2. Penjabaran Objektif

Setelah mengetahui needs maka ditentukan dahulu “real need” (kebutuhan nyata) mana yang mungkin dipenuhi dan mana yang tidak mungkin terpenuhi. Tentu tujuan utama adalah solusi terhadap nilai Perguruan Tinggi

3. Mempelajari Konstrain

Perencanaan dapat saja berubah, oleh karena itu akan tidak salah konstrain (hal-hal yang mendasar) dipelajari terlebih dahulu dalam menelusuri solusi masalah, seperti faktor internal dan eksternal Perguruan Tinggi

4. Menyiapkan Alternatif

Banyak alternatif yang bisa diambil, tapi semua itu belum tentu dapat dikerjakan.


5. Seleksi

Setelah beberapa alternative diambil maka penyeleksian juga perlu dilakukan, dalam hal ini alternatif yang diajukan setelah penyeleksian adalah :
a. Rekrutmen melalui seleksi yang ketat
b. Pengembangan dosen melalui :
1. Tugas belajar (S2 atau S3)
2. Seminar / Lokakarya
3. Penelitian
c. Melengkapi Fasilitas
1. Ruang Kuliah
2. Perpustakaan
3. Laboratorium Teknologi Informasi
4. Laboratorium Penunjang
5. Perkantoran
6. Aula
d. Melalui Open Management yang objektif terhadap pihak yayasan dan transparan


6. Implementasi
Setelah alternatif diseleksi, ini semua akan tidak berarti bila tidak diimpelemtasikan dengan tindakan nyata.


7. Evaluasi
Setelah tahap impelemtasi maka untuk mengetahui keefektifan dan keefesienan harus dilakukan evaluasi terhadap proses problem solving

8. Modifikasi
Kemungkinan untuk memodifikasi alternatif yang telah dipilih bila dibutuhkan

b. Analisa Keuntungan dan Kelemahan

KEUNTUNGAN
KELEMAHAN
1. Sistem Rekruitmen :
a. Terpilihnya dosen yang kualified, profesional dan pengembangan kedepan
b. Tersaringnya input yang berkualitas

2. Pengembangan Dosen
a. Tugas Belajar
— Meningkatkan kualitas dosen
— Mampu berkompetitif dengan PTN dan PTS lainya

b. Seminar / Lokakarya
— Peningkatan Wawasan
— Pertukaran Informasi
— Kredit Point
— Promosi
c. Penelitian
— Penemuan baru
— Informasi yang up to date
— Pengembangan PT
— Pengembangan Needs Assessment
-
II. Melengkapi Fasilitas
a. Kelancaran proses perkuliahan
b. Kemudahan mendapatkan referensi dan literatur
c. Pengujian, keterampilan, praktek
d. Promosi
e. Pelayanan Administrasi yang prima
f. Memperlancar kegiatan akademik

III. Sistem Yayasan
(Open Management)
a. Cepat maju
b. Dapat dipertanggung jawabkan secara moral dan material
c. Mudah melakukan pembinaan
d. Memfungsikan unsur akademisi


— Membutuhkan Biaya / Waktu yang banyak
— Proses Rumit
— Tidak banyak tenaga yang tersedia sesuai dengan kualifikasi
— Dana Besar
— Waktu Panjang
— Dana besar
— Birokrasi agak rumit




-
— Dana
— Biaya
— Lokasi
— Tenaga Kerja

— Dana
— Waktu
— Tenaga Profesional

— Penyimpitan intervensi keluarga
— Hilangnya unsur KKN
— Tidak bisa menguasai segi akademik maupun segi finansial
— Berkurangnya hak feto
— Keputusan harus mengikut sertakan akademisi


c. Alternatif Pilihan dan Alasan Pemilihan
Open Management dari pihak yayasan sangat diperlukan, karena dengan Open Management akan mengurangi keragu-raguan, menepis ketidak percayaan masayarakat kepada pengelolaan administrasi pada Perguruan Tinggi tersebut, terutama hal-hal yang menyangkut manajemen dan pertanggung jawaban keuangan. Setelah itu pelaksanaan Open Management dapat memenuhi tuntutan perkembangan IPTEK dalam era Teknologi Informasi.


IV. KESIMPULAN DAN SARAN
Beberapa model pendekatan dapat digunakan dalam pemecahan masalah seperti “System Approach” dari Aristotle, Total Quality Management dari Deming.

Untuk meninjau permasalahan pendidikan maka tidak dapat dilakukan secara pragmatis dan parsial, akan tetapi harus dilihat secara integral dan utuh sehingga dapat menemukan solusi yang menyeluruh, lengkap dan holistik .
Perguruan tinggi yang belum terakreditasi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) supaya dapat merespons dengan serius beberapa system yang terkait dengan mutu, seperti system rekruitmen, fasilitas, kualitas tenaga pengajar/dosen serta manajen pengelolaan.


DAFTAR KEPUSTAKAAN



Ansyar, M, (2001), Kurikulum Menyonsong Otonomi Pendidikan di Era Globalisasi : Peluang, tantangan, dan Arah”, Forum Pendidikan, No. 2 (26), Juni 2001.
Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Konsep Akreditasi,
http://www.ban-pt.or.id/id_konsep-akreditasi.htm, diakses tanggal 23 Mei 2007.
----------, Pengantar BAN-PT,
http://www.ban-pt.or.id/id_konsep-akreditasi.htm, diakses tanggal 23 Mei 2007.
Dewi Padmo, (editor), Teknologi Pembelajaran - Upaya Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Sumber Daya Manusia, Universitas Terbuka, Jakarta, 2003
Dewi Salma Prawiradilaga & Eveline Siregar, Mozaik Teknologi Pendidikan, Prenada Media, Jakarta, Edisi I, 2004
IGAK Wardhani, Program Tutorial dalam Sistem Pendidikan Tinggi Terbuka dan Jarak Jauh. Jurnal Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh, 1(2), hal. 41-45.
Indra Djati Sidi, Menuju Masyarakat Belajar, Paramadina & PT. Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 2001
Ismail Pulungan , Manajemen Mutu Terpadu, PAU-PPAI-UT, Universitas Terbuka, Jakarta, 2001
Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, PT. Bumi Aksara, Jakarta, 2002
Paulina Panen, Pendidkan sebagai Sistem, PAU-PPAI-UT, Universitas Terbuka, Jakarta, 2001
Yusuf Hadi Miarso, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Prenada Media, Jakarta, Edisi I, 2004

Jadikan Kesedihan Penghiburmu


Kuingat ......
ketika kesedihan menjadi sahabatku
ketika kesedihan selalu setia menemaniku
keteka kesedihan selalu hadir dalam detak jantungku

tapi....
senyum tetap ada dibibirku
hatiku tetap kaya
kaya akan nikmat Tuhan
Kusyukuri karena aku masih bisa merasa sedih
Kusyukuri karena aku masih bisa menangis
Kusyukusi karena aku masih bisa tersenyum

Kawan...
Ingatkah engkau, ketika kita ingin masak tapi tidak memiliki beras
Ingatkah engkau, ketika kita ingin makan, tidak ada yang dimakan
Ingatkah engkau, ketika anak kita ingin minum susu, dibujuk dengan air putih
Ingatkah engkau, ketika anak kita ingin jajan, dibujuk dengan bualan kosong

tapi......
Ingatkah engkau, senyum tetap menghiasi bibir kita
Ingatkah engkau, tawa tetap setia keluar dari mulut kita
karena kita telah sepakat, menjadikan kesdihan sahabat kita..

Kawan...
Lihatlah, saudara kita yang tidak mampu makan, padahal makanan banyak
Lihatlah, saudara kita yang tidak mampu tidur diatas kasur yang empuk
Lihatlah, saudara kita yang haus di atas air yang melimpah
Lihatlah, saudara kita yang miskin di atas uang yang melimpah.

Kawan...
Lihatlah, Saudara kita yang tidak makan hari ini
Lihatlah, saudara kita yang tidak minum hari ini
Lihatlah, anak saudara kita yang hanya minum air mentah
Lihatlah, kawan.....

Kampus Ku Surga Ku...???



Tulisan ini hanya sebatas keinginan dari seorang anak manusia yang memiliki cita-cita terciptanya suasana dan iklim yang "menyejukkan" di kampus ku tercinta STAIN Bukittinggi. Hasrat tersebut timbul semenjak dioperasikannya Kampus II di Gurun Aur Kubang Putih Kab. Agam Sumatera Barat. Akankan hal tersebut dapat tercapai...???

Optimistis perlu tetap dipegang teguh, walaupun kondisi terjal yang harus dilalui. Kampus yang asri, halaman yang bersih, gedung yang bersih, pakaian mahasiswa dan dosen yang rapi, tegur sapa dan salam yang selalu dibudayakan..... akankah itu dapat kita nikmati..???

Semuanya tersebut akan dapat kita nikmati, jika semua elemen disini bersatu tangan, satu langkah dalam rangka menuju kampus yang madani. Kamar mandi dan toilet yang bersih, halaman yang sejuk tanpa sampah, gedung indah dan bersih.....Ku Yakin itu akan dapat kunikmati di Kampusku yang tercinta

Usaha Guru Mengatasi Anak yang Bermasalah dalam Belajar


USAHA GURU DALAM MENGATASI
ANAK YANG BERMASALAH DALAM BELAJAR


I. PENDAHULUAN

Mengajar itu memang rumit. Bukan saja guru harus tahu banyak tentang bahan pelajaran dan menguasainya, tetapi juga harus faham tentang murid-muridnya dan proses belajar-mengajar. Kecuali itu guru juga harus memiliki atau mengembangkan bakat untuk mengajar – suatu aspek seni. Bukan saja guru harus mengajar di depan kelas, tetapi juga menyiapkan dan mendesain bahan pelajaran, memberikan tugas-tugas, menilai proses dan hasil belajar murid, merencanakan kegiatan-kegiatan lain dan menegakkan disiplin. Disamping itu guru harus menyimpan dan memelihara catatan-catatan tentang muridnya, mengatur dan mengelola kelas, mengembangkan kegiatan-kegiatan belajar, berbicara kepada orang tua murid dan bahkan melakukan kegiatan bimbingan dan konselling bagi murid-muridnya.


Mengajar ialah melatih keterampilan, menyampaikan pengetahuan, membentuk sikap dan memindahkan nilai-nilai. Mengajar adalah membuat perubahan pada diri murid. Mengajar dapat dilakukan dengan cara ceramah, persuasi, demonstrasi, membimbing dan mengarahkan usaha dan aktifitas murid atau dengan kombinasi cara tersebut. Mengajar dapat hanya melibatkan pengetahuan dan keterampilan guru sendiri atau dapat memanfaatkan bahan-bahan yang telah disiapkan oleh pihak lain seperti film, perangkat komputer, manusia sumber aau kombinasi antara bakat, keterampilan dan pengetahuan yang telah dimiliki murid.

II. MENGAJAR

Mengajar dikatakan efektif apabila meliputi tiga langkah, yaitu langkah sebelum mengajar, langkah pelaksanaan mengajar, dan langkah sesudah mengajar. Langkah sebelum mengajar, meliputi, menentukan tujuan pengajaran, baik tujuan jangka panjang maupun jangka pendek. Langkah pelaksanaan mengajar, langkah ini berupa pelaksanaan strategi-strategi yang telah dirancang untuk membawa murid mencapai tujuan pengajaran. Langkah ini meliputi komunikasi, kepemimpinan, motivasi dan kontrol (pembinaan disiplin dan pengelolaan). Langkah sesudah mengajar langkah ini berupa pengukuran dan penilaian hasil mengajar sehubungan dengan tujuan yang telah ditetapkan guru sebelum mengajar. Dari proses penilaian ini dapat diketahui efektif tidaknya proses mengajar, tepat tidaknya tujuan pengajaran, seberapa tinggi tingkat kesiapan murid, tetap tidaknya strategi mengajar yang digunakan dan bahkan derajat relevansi dan ketepatan prosedur penilaian yang ditempuh.

III. PERANAN GURU

Peranan guru yang dianggap penting adalah :

1) Guru sebagai Pembuat keputusan
Guru harus selalu membuat keputusan-keputusan bahan pelajaran dan metode mengajar. Keputusan-keputusan ini didasarkan atas banyaknya factor seperti bahan inti yang harus diajarkan, kemampuan murid dan apa yang diperlukan olehnya dan tujuan yang akan dicapai.

2) Guru sebagai motivastor
Murid tidak berhasil dengan sendirinya, melainkan dengan peran guru sebagai motivator. Ada beberpa pelajaran yang di sampaikan guru tidak menarik minat dan perhatian murid. Memulai memngajar dengan penuh semangatpun tidak merupakan jaminan bahwa minat dan konsentrasi murid dapat berlangsung lama.
Banyak keputusan yang dibuat guru berpengaruh terhadap motivasi murid. Cara memberikan nilai misalnya, dapat mendorong murid belajar lebih giat atau malah menjadikannya putus asa. Bahkan pelajaran yang dipilih yang sejalan dengan minat dan kemampuan murid dapat membantu mendorong mereka belajar. Maslahnya ialah bagaimanakah guru dapat mempertahankan minat dan perhatian murid selama proses belajar mengajar berlangsung.

3) Guru sebagai Menejer
Waktu yang di pergunakan guru untuk berinteraksi secara verbal dengan murid rata-rata antara 20 sampai 30persen setiap harinya. Selebihnya di pergunakan untuk kegiatan pengelolaan, seperti supervisi, organisasi pelajarn,menyiapkan ujian, memeriksa dan menilai pekerjaan murid, menghadiri rapat, mengadakan pertemuan dengan orang tua murid dan sebagainya.

4) Guru sebagai pemimpin
Meskipun guru harus menangani kebutuhan murid orang perorang, tetapi kenyataannya jarang berbuat demikian. Mengajar nyatanya adalah memimpin sekelompok murid. Guru yang efektif adalah pemimpin yang efektif, yaitu memanfaatkan potensi kelompok untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan individual. Dalam peranannya sebagai pemimpin kelompok, guru diharapkan menjadi wasit, pelerai kecemasan, detektif, pencegah timbulnya perasaan bermusuh dan frustasi, teman dan orang kepercayaan, pengganti orang tua, sumber kasih saying dan pemberi semangat.

5) Guru sebagai konselor
Sebagai konselor, guru harus menjadi pengamat yang peka terhadap tingkah laku dan gerak gerik murid. Guru harus berusaha memberikan tanggapan yang konstruktif apabila murid mengalami kelesuan dalam belajar. Dia harus tahu apabila ada murid perlu dikonsultasikan kepada ahli kesehatan mental misalnya. Disetiap kelas tidak jarang murid mengadukan persoalan pribadinya kepada guru.

6) Guru sebagai insinyur atau perekayasa lingkungan
Guru diharapkan menjadi desainer yang dapat menata ruang kelas dengan baik sehingga menimbulkan suasana belajar yang kondusif.. Bukankah penataan ruangan kelas dapat membantu atau mengganggu proses belajar ? Perubahan tata ruang kelas itu mungkin saja tidak menyolok, seperti menggantungkan gambar di depan kelas atau menyuruh murid duduk dalam posisi lingkaran untuk keperluan diskusi dan sebagainya.

7) Guru sebagai Model
Guru juga berperan sebagai model atau contoh bagi muridnya. Gairah murid terhadap suatu mata pelajaran timbul karena pelajaran itu diberikan oleh guru yang penuh gairah dengan menggunakan metode demonstrasi. Sebaliknya gairah terhadap suatu mata pelajaran memudar karena mata pelajaran itu diberikan dengan metode ceramah yang gersang. Dengan demikian guru tersebut dengan sengaja berperan sebagai model. Demonstrasi dalam mata pelajaran fisika, kimia dan kesejahteraan keluarga adalah contah permodelan langsung (direct modeling). Tetapi dalam banyak hal yang lain, guru tidak begitu menyadari peranannya sebagai model. Sebagai contoh, guru selalu berperan sebagai model dalam mendemonstrasikan cara berfikir memecahkan masalah. Apabila guru dapat melibatkan muridnya berfikir melalui berbagai macam alternatif pemecahan masalah, besar kemungkinan muridnya menjadi sadar bahwa mereka mampu memecahkan masalah dalam berbagai macam situasi.


IV. PROBLEM-PROBLEM YANG DIHADAPI GURU

Semakin meluasnya tujuan pendidikan, maka akan semakin menambah beban tanggung jawab guru dan menimbulkan problem serius bagi pelaksanaan oekerjaannya. Adapun factor penyebab timbulnya kesulitan yang dihadapi guru di dalam kelas dan pada situasi lain di sekolah adalah sebagai beikut :

1) Kurang memadainya pengetahuan guru tentang murid
2) Kurang memadainya apresiasi guru terhadap tujuan asasi pendidikan.
3) Kurang terampil melakukan diagnosis
4) Tidak pandainya guru menggunakan metode mengajar yang baik dan cara yang mengelola kelas.

Tetapi secara fundamental, problem yang dihadapi guru meruapakan akibat dari :
1) Sikap pribadi dan sikap social yang tidak konstruktif
2) Kurang percaya pada diri sendiri.
3) Emosi yang tidak stabil.

Kecakapan mengajar yang efektif dan sikap yang baik tidaklah diperoleh secara kebetulan saja. Pengalaman kerja mungkin merupakan factor yang penting, tetapi bertahun-tahun mengajar bisa saja malah menambah rumit kesulitan terdahulu keculi apabila guru dipersiapkan dengan baik sebelumnya.


V. KESULITAN BELAJAR ANAK

Aktifitas belajar bagi setiap individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit mengadakan konsentrasi.

Demikian antara lain kenyataan yang sering kita jumpai pada setiap murid dalam proses belajar mengajar. Setiap individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar murid. Dalam keadaan murid tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut “kesulitan belajar”

Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan factor intelegensi yang rendah (kelainan mental), akan tetapi dapat juga disebabkan oleh factor non intelegensi. Dengan demikian, IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar. Karena itu, dalam rangka memberikan bimbingan yang tepat kepada murid, maka guru perlu memahami masalah yang berhubungan dengan kesulitan belajar.

Faktor penyebab kesulitan belajar
1) Faktor Intern
2) Faktor External

Faktor intern, disebabkan oleh dua hal, Pertama sebab yang bersifat fisik, yaitu (1) karena sakit (2) karena kurang sehat (3) karena cacat tubuh. Kedua sebab kesulitan belajar karena rohani, yaitu (1) Intelegensi (2) Bakat (3) Minat (4) Motifasi (5) factor kesehatan mental (6) tipe khusus seorang murid.

Faktor external, disebabkan oleh tiga hal, Pertama Faktor Keluarga, yaitu (1) factor orang tua (2) Suasana rumah/keluarga (3) keadaan ekonomi keluarga. Kedua Faktor Sekolah, yaitu (1) guru (2) factor alat (3) Kondisi gedung (4) kurikulum (5) waktu sekolah dan disiplin kurang. Ketiga Faktor Mass Media dan lingkungan social, yaitu TV, Surat Kabar Majalah, Buku Komik, teman bergaul, lingkungan tetangga, aktivitas dalam masyarakat.


VI. ANAK BERMASALAH

Seorang murid dikategorikan sebagai anak yang bermasalah apabila ia menunjukkan gejala penyimpangan perilaku yang lazim di lakukan oleh anak-anak pada umumnya. Penyimpangan perilaku ada yang sederhana ada juga yang ekstrim. Penyimpangan perilaku yang sederhana, misalnya mengantuk, suka menyendiri, terlambat datang. Sedangka ekstrim adalah sering membolos, memeras teman, tidak sopan.


VII. MENGENAL MURID YANG BERMASALAH BELAJAR

Beberapa gejala pertanda adanya kesulitan belajar antara lain :
1) Menunjukkan prestasi yang rendah/di Bawah rata-rata yang dicapai oleh kelompok kelas
2) Hasil yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan. Ia berusaha dengan keras tetapi nilainya selalu rendah.
3) Lambat melaksanakan tuga-tugas belajar. Ia selalu tertinggal dengan kawan-kawannya dalam segala hal, misalnya dalam mengerjakan soal-soal latihan dsb.
4) Menunjukkan sikap yang kurang wajar seperti acuh tak acuh, berpura-pura dusta, dll.
5) Menunjukkan tingkah laku yang berlainan, misalnya mudah tersinggung, murung, pemarah, bingung, cemberut, kurang gembira, selalu sedih.


VIII. USAHA MENGATASI ANAK BERMASALAH

Secara sistematis, langkah-langkah yang perlu diambil dalam usaha mengatasi anak bermasalah adalah :
1) Memanggil dan menerima anak yang bermasalah dengan penuh kasih sayang
2) Dengan wawancara yang dialogis diusahakan dapat ditemukan sebab-sebab utama yang menimbulkan masalah.
3) Memahami keberadaan anak dengan sedalam-dalamnya
4) Menunjukkan cara penyelasaian masalah yang tepat untuk di renungkan oleh anak kemudian untuk dikerjakannya.
5) Menemukan segi-segi kelebihan anak agar kelebihan itu diaktualisisr guru megatasi kekurangannya
6) Menanamkan nilai-nilai spritual yang benar.


DAFTAR BACAAN


Feinberg. R, Mortimer, dkk, Psikologi Manajemen, alih bahasa R. Turman Sirait, Mitra Utama, Jakarta, 1994

Kartono, Kartini, Pemimpin dan Kepemimpinan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, cet. ke-VIII, 1998

Prasetya, Falsafah Pendidikan, Pustaka Setia, Jakarta, 1997

Siagian. P, Sondang, Manajemen Sumber Daya Manusia, Bumi Aksara, Jakarta, 1993

Sugiarto, Endar, Psikologi Pelayanan dalam Industri Jasa, PT. Gramedia Grafindo Persada, Jakarta, 1990

Sudjana, Nana, Teori-teori Belajar untuk Pengajaran, Fakultas Ekonomi Uiversitas Indonesia, Jakarta, 1991

Suryabrata, Sumadi, Psikologi Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, cet. ke-IX, 1998

Tirtaraja, Umar, dkk, Pengantar Pendidikan, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 1998


Thoha, Miftah, Kepemimpinan dalam Manajemen, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995

Wilis Dahar, Ratna, Teori-teori Belajar, Depdikbud Dirjend Pendidikan Tinggi PPL Pendidikan Tenaga Kependidikan, Jakarta, 1980

Manajemen Berbasis Sekolah



STRATEGI PENGEMBANGAN KOMPETENSI SISWA DENGAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH
Oleh : Supratman Zakir, S. Kom., M. Pd



PENDAHULUAN


Dunia pendidikan Indonesia saat ini setidaknya menghadapi empat tantangan besar yang kompleks. Pertama, tantangan untuk meningkatkan nilai tambah (Added value), yaitu bagaimana meningkatkan nilai tambah dalam rangka meningkatkan produktivitas, pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, sebagai upaya untuk memelihara dan meningkatkan pembangunan yang berkelanjutan.
Kedua, tantangan untuk melakukan pengkajian secara komprehensif dan mendalam terhadap terjadinya transformasi (perubahan) struktur masyarakat, dari masyarakat yang agraris ke masyarakat industri yang menguasai teknologi dan informasi, yang implikasinya pada tuntutan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM).
Ketiga, tantangan dalam persaingan global yang semakin ketat,yaitu bagaimana meningkatkan daya saing bangsa dalam meningkatkan karya-karya yang bermutu dan mampu bersaing sebagai hasil penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (Ipteks).
Keempat, munculnya kolonialisme baru di bidang iptek dan ekonomi menggantikan kolonialisme politik. Dengan demikian kolonialisme kini tidak lagi berbentuk fisik, melainkan dalam bentuk informasi. Berkembangnya teknologi informasi dalam bentuk computer dan internet, sehingga bangsa Indonesia sangat bergantung kepada bangsa-bangsa yang telah lebih dulu menguasai teknologi informasi. Inilah bentuk kolonialisme baru yang menjadi semacam virtual enemy yang telah masuk keseluruh pelosok dunia ini. Kemajuan ini harus dapat diwujudkan dengan proses pembelajaran yang bermutu dan menghasilkan lulusan yang berwawasan luas, professional, unggul, berpandangan jauh ke depan (Visioner), memiliki percaya dan harga diri yang tinggi. Untuk mewujudkan hasil diatas diperlukan strategi yang tepat, diantaranya adalah bagaimana strategi mengembangkan kompetensi siswa berdasarkan kemampuan, sikap, sifat serta tingkah laku siswa sehingga membuat siswa menyenangi proses pembelajaran.
Peningkatkan kompetensi siswa tidak bisa dipandangan secara pragmatis, terpisah dari bagian-bagiannya yang utuh. Peningkatan kompetensi siswa harus dilihat secara pendekatan sistem, menyeluruh, utuh dan tidak terpisah-pisah dari bagian-bagiannya sehingga dapat dilihat progress reports terhadap laju perkembangan kompetensi siswa seperti yang diharapkan. Selain dari pada itu, pengembangan kompetensi siswa dengan konsep pendekatan system terutama system manajemen berbasis sekolah akan sangat mudah dan efektif untuk mengevaluasi system apa yang perlu ditinjau, dimodifikasi ataupun dirobah menurut kebutuhan. Manajemen berbasis sekolah merupakan sebuah sistem yang memberikan hak atau otoritas khusus kepada pihak sekolah untuk mengelola sekolah sesuai dengan kondisi, lingkungan dan tuntutan ataupun kebutuhan masyarakat dimana sekolah tersebut berada.
Berdasarkan analisa diatas, bagaimanakah wujud masyarakat Indonesia baru yang seharusnya ?. Jawabannya adalah masyarakat yang berpendidikan (Educated Sociaty). Oleh karena itu setiap lembaga pendidikan, khususnya dalam menghadapi masa depan harus ditujukan pada reformasi kelembagaan secara total, agar pendidikan nasional memiliki kemampuan untuk melaksanakan peran, fungsi dan misinya secara optimal.
KAJIAN TEORI
a. Kompetensi
Kompetensi meliputi pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai, sikap dan minat. Dalam konsep pelatihan yang berbasis kompetensi dijelaskan bahwa kompetensi merupakan gabungan antara kerterampilan, pengetahuan dan sikap. Kompetensi digunakan untuk melakukan penilaian terhadap standar, memberikan indikasi yang jelas tentang keberhasilan dalam kegiatan pengembangan, membentuk sistem pengembangan dan dapat digunakan untuk menyusun uraian tugas seseorang.
Standar kompetensi disusun sedemikian rupa mengacu kepada kesepakatan internasional tanpa harus mengabaikan berbagai aspek dan budaya yang bersifat lokal atau nasional. Standar konpetansi yang telah ada hendaknya dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak terutama dunia pendidikan dalam hal peningkatan kemampuan dasar siswa serta penyusunan kurikulum.
b. Manajemen Berbasis Sekolah
Menurut Malen, Ogawa & Kranz, 1990 dalam Abu-Duhou manajemen berbasis sekolah secara konseptual dapat digambarkan sebagai suatu perubahan formal struktur penyelenggaraan, sebagai suatu bentuk desentralisasi yang mengindentifikasikan sekolah itu sendiri sebagai unit utama peningkatan serta bertumpu pada redistribusi kewenangan.
Manajemen sekolah yang selama ini terstruktur dari pusat telah menghambat kran komunikasi atau setidaknya terjadinya distorsi informasi antara pusat dan daerah, sehingga menimbulkan mis- implementation pada tataran riil di sekolah. Hal inilah yang menjadi bahan dilahirkannya sebuah system manajemen yang mampu menanggulangi permasalah tersebut, yaitu suatu manajemen yang diberi kewenangan penuh kepada sekolah untuk mengatur dirinya sendiri dalam batas-batas yang rasional.
Candoli, 1995 dalam Abu-Duhou, menjelaskan bahwa Manajemen berbasis sekolah merupakan suatu cara untuk "memaksa" sekolah mengambil tanggung jawab atas apa yang terjadi menurut justifikasi sekolah. Konsep ini menerangkan bahwa ketika sekolah diberi tanggung jawab penuh dalam mengembangkan program-program kependidikannya yang bertujuan melayani kebutuhan-kebutuhan para "stakeholder" maka pihak sekolah akan "dipaksa" untuk memenuhi kebutuhan-kebetuhan tersebut.
c. Otoritas Sekolah Dalam Manajemen Berbasis Sekolah
Secara khusus hal-hal yang di desentralisasikan adalah yang secara langsung berhubungan dengan para peserta didik, seperti keputusan tentang program pendidikan, alokasi waktu, dan kurikulum. Tetapi menurut Caldel dan Spinks, 1992 dalam Abu-Duhou, membagi beberapa hal yang menjadi otoritas sekolah dalam MBS, diantaranya yaitu :
  1. Pengatahuan (Knowledge); otoritas keputusan berkaitan dengan kurikulum, tujuan dan sasaran pendidikan.
  2. Teknologi (Technology); otoritas mengenai srana dan prasaran pembelajaran
  3. Kekuasaan (Power); kewenangan dalam membuat keputusan.
  4. Material (Material); kewenangan mengenai penggunaan fasilitas, pengadaan dan peralatan alat-alat sekolah.
  5. Manusia (People) kewenangan atas keputusan mengenai sumber daya manusia, pengembangan profesionalisme dan dukungan terhadap proses pembelajaran.
  6. Waktu (Time); kewenangan mengalokasikan waktu
  7. Keuangan (Financial); kewenangan dalam mengalokasikan dana pendidikan.
Sedangkan Thomas, 1997 dalam Abu-Duhou, mengelompokkan kewenagan sekolah dalam manajemen berbasisi sekolah dalam empat hal, yaitu :
  1. Penerimaan (admission); kewenangan untuk menentukan siswa mana yang akan diterima diseklolah.
  2. Penilaian (Assessment); kewenangan untuk menentukan berapa siswa yang akan dinilai.
  3. Informasi (Information); kewenangan untuk menseleksi data mengenai kinerja sekolah dan mempublikasikannya.
  4. Pendanaan (Funding); kewenangan untuk menentukan uang masuk bagi penerimaan siswa.
PEMBAHASAN
a. Kompetensi Siswa
Untuk merespon bebagai kondisi sebagaimana yang telah diuraikan pada pendahuluan di atas, maka salah satu kebutuhan yang sangat penting adalah tersedianya system pendidikan dan pelatihan yang mampu menghasilkan SDM yang berkualitas setara dengan standar internasional. Untuk melaksanakan system pendidikan yang baik dibutuhkan suatu standar kompetensi yaitu kemampuan yang harus dimiliki oleh seseorang untuk melakukan pekerjaan sebagai patokan kinerja yang diharapkan.
Salah satu bentuk system pendidikan yang mampu meningkatkan kompetensi siswa adalah system manajemen berbasis sekolah yang memberi hak sepenuhnya atau otonomi kepada sekolah untuk mengelola sekolah sesuai dengan kondisi, lingkungan dan kebutuhan tempat dimana sekolah berada.
b. Strategi Pengembangan Kompotensi Siswa
Dunia pendidikan dewasa ini yang semakin banyakj menghadapi tantangan, salah satu diantaranya ialah bahwa pendidikan itu berlangsung dalam latar lingkungan yang dibuat-buat, karena pendidikan itu harus membina tingkah laku yang berguna bagi individu dimasa akan datang dan bukan waktu sekarang. Akibat dari latar lingkungan yang dibuat adalah terjadinya suasana pembelajaran yang tidak menyenangkan.
Masalah lain yang dihadapi dunia pendidikan adalah sekolah masih menggunakan cara yang bersifat aversif, dimana para siswa menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya terutama untuk menghindari stimulus-stimulus aversif seperti kecaman guru, ejekan dimuka kelas, menghadap kepala sekolah jika tidak membuat tugas di rumah. Untuk memecahkan masalah untuk perbaikan pendidikan itu pernah diusulkan beberapa pemecahan masalah yang diantaranya :
  1. Mendapatkan guru yang berkualitas
  2. Mencari terobosan baru untuk menandingi sekolah unggul
  3. Menaikkan standar pembelajaran
  4. Mereorganisasi kurikulum.

Akan tetapi pemecahan masalah yang pernah ditawarkan tersebut tidak menyentuh esensi permasalahan dunia pendidikan itu sendiri. Menurut Skinner satu hal yang perlu dilakukan untuk memecahkan kebuntuan tersebut adalah bagaimana guru bertanggung jawab mengembangkan pada siswa tingkah laku verbal (kompetensi) atau kemampuan siswa yang merupakan pernyataan keterampilan dan pengetahuan mata pelajaran.

Konkritnya Skinner menjelaskan yang harus dilakukan dalam rangka meningkatkan kemampuan siswa atau kompetensi siswa adalah : Membangun khazanah tingkah laku verbal dan non verbal yang menunjukkan hasil belajar.
Menghasilkan dengan kemungkinan yang besar, tingkah laku yang disebut minat, antusiasme dan motivasi untuk belajar.


Sehingga dengan tugas seperti ini pembelajaran itu berfungsi memperlancar pemerolehan pola-pola tingkah laku verbal dan non verbal yang perlu dimiliki setiap siswa. Menurut B. Weiner, dengan teori atribusinya, satu sumbangan penting untuk pendidikan adalah berkenaan dengan analisa terjadinya interaksi di kelas. Hal yang penting diperhatikan dalam interaksi di kelas dalam konteks proses pembelajaran serta dalam rangka meningkatkan kemampuan atau kompetensi siswa ialah ciri siswa, ciri-ciri siswa yang perlu dipertimbangkan ialah perbedaan perseorangan, kesiapan untuk belajar dan motivasi :

  1. Perbedaan Perseorangan, Dalam hal ini yang perlu diperhatikan ialah tingkat perkembangan siswa dan tingkat rasa harga diri siswa. Untuk mengimbangi adanya perbedaan perseorangan dalam proses pembelajaran dianatarany dapat dilakukan pengajaran dengan kelompok kecil (Cooperative Learning), tutorial, dan belajar mandiri serta belajar individual.
  2. Kesiapan untuk belajar Kesiapan seorang siswa dalam kegiatan pembelajaran sangat mempengaruhi hasil pembelajaran yang bermanfaat baginya. Karena belajar sifatnya kumulatif, kesiapan untuk belajar baru mengacu pada kapabilitas, dimana kesiapan untuk belajar itu meliputi keterampilan-keterampilan yang rendah kedudukannya dalam tata hirarki keterampilan intelktual.
  3. Motivasi, ciri khas dari teori-teori belajar ialah memperlakukan motivasi sebagai suatu konsep yang dihubungkan dengan asas-asas untuk menimbulkan terjadinya belajar pada diri siswa. Konsep ini memusatkan perhatian pada dilakukannya manipulasi lingkungan yang bisa mendorong siswa seperti membangkitkan perhatian siswa, mempelajari peranan peransang atau membuat agar bahan ajar menarik bagi siswa.

Ketiga hal diatas harus diperhatikan yang dibarengi dengan penciptaan suasan kelas yang menyenangkan sehingga tingkah laku, respon yang dikeluarkan oleh siswa menghasilkan suasan pembelajarn yang nyaman dan menyenangkan akibat dari stimulus lingkungan yang dimanipulasi tersebut. Disamping ketiga hal diatas yang perlu diperhatikan dalam kontek peningkatan kompetensi siswa, maka kurikulum juga merupakan hal yang tidak terpisahkan dengan kompetensi siswa dalam pembelajaran.

Untuk mengimbangi peningkatan kemampuan siswa dalam kontek tingkah laku, maka kurikulum juga perlu menjadi perhatian sehingga siswa benar-benar memiliki kompetensi yang sangat memadai. Kurikulum saat ini, terutama kurikulum pendidikan nasional akan dikembangkan apa yang dinamakan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau Competency based Curriculum.

Dalam konsep ini, kurikulum harus dikuasai oleh siswa setelah ia menyelesaikan satu unit pelajaran, satu satuan waktu dan satu satuan pendidikan. Materi kurikulum harus ditekankan pada mata pelajaran yang sanggup menjawab tantangan global dan perkembangan iptek yang sangat cepat. Disamping itu kurikulum yang dikembangkan harus berlandaskan pendidikan etika dan moral yang dikembangkan dalam mata pelajaran agama dan mata pelajaran lain yang relevan.

Selain itu kurikulum harus bersifat luwes, sederhana dan bisa menampung berbagai kemungkinan perubahan dimasa yang akan datang sebagai dampak dari perkembangan terknologi dan tuntutan masyarakat. Kurikulum hanya bersifat pedoman pokok dalam kegiatan pembelajaran siswa dan dapat dikembangkan dengan potensi siswa, keadaan sumber daya pendukung dan kondisi yang ada. Semua alternative solusi diatas tidak ada artinya jika tidak dimanajemeni atau dikelola dengan professional. Salah satunya adalah dengan menerapkan sistem manajemen berbasis sekolah, dimana pihak sekolah memiliki otoritas yang cukup untuk mengelola konsep-konsep yang akan diterapkan dalam rangka meningkatkan kompetensi siswa.

Masalah kurikulum, tujuan pendidikan, keputusan atau kebijakan sekolah, fasilitas yang akan digunakan, pengembangan SDM sekolah, pengaturan waktu dan biaya pendidikan, haruslah sepenuhnya dikelola oleh sekolah sehingga langkah-langkah teknis diatas dapat terwajud.

PENUTUP

Untuk meningkatkan kompetensi siswa ada beberap hal yang harus diperhatikan, diantaranya, ciri-ciri siswa antara lain, perbedaan perseorangan, kesiapan belajar dan motivasi yang dibarengi oleh pemanipulasian suasana pembelajaran menjadi lebih disukai oleh siswa sehingga dengan mempertimbangkan kondisi ini apa yang diharapkan sesuai dengan tujuan. Akan tetapi jika mensfesifikasi pendidikan kedalam tingkah laku sama dengan membatasi guru menjadi upaya untuk merubah tingkah laku siswa.

Pada hal, pendidikan tidak hanya sebatas tutorial yang akan mengakibatkan pendidikan kurang manusiawi dan terlalu mekanistik. Akan tetapi pendidikan lebih dari itu, dimana pendidikan memerlukan tingkat kecerdasan dan kebebasan berpikir yang tinggi, kompetensi dan moral atau tingkah laku yang kompleks untuk mengarunginya. Secara kelembagaan dalam rangka meningkatkan kompetensi siswa perlu sebuah sistem yang mampu mengakomodir tujuan tersebut. Salah satu bentuk dari system tersebut adalah manajemen berbasis sekolah yaitu sebuah sistem manajemen yang memberi keluasan kepada pihak sekolah untuk mengelola sekolah masing-masing menurut kebutuhan, kondisi, dan tuntutan lingkungan dimana sekolah tersebut berada.

DAFTAR BACAAN
Abu-Duhoui, Ibtisam, School Base Management, terjemahan Noryamin Aini, Suparto & Abas Al-Jauhari, cetPT. Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 2002
Dahar, Ratna Wilis, Teori-teori Belajar, Depdikbud Berkerjasama Dengan Dirjend Perguruan Tinggi, PPL Pendidikan Tenaga Kependidikan, Jakarta, 1989.
Gredler E. Bell Margaret, Belajar dan Membelajarkan, Terjemahan Munandir, CV, Rajawali, Jakarta, 1991
Sudjana, Nana, dkk, Teknologi Pengajaran, Sinar Baru Algesindo, Bandung, 2001
Sidi, Indra Djati, Menuju Masyarakat Belajar (Menggagas Paradigma Baru Pendidikan), Paramadina, Jakarta, 2001
Suryabrata, Sumadi, Psikologi Pendidikan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1998
Snelbecker, Glenn. E, Learning Theory, Intructional Theory, and Psycoeducational Design, McGraw-Hill Book Company, United State of America, 1974
Tirtaradja, Umar, dkk, Pengantar Perndidikan, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 1998.

Local Website


PEMANFAATAN LOCAL WEBSITE :
SEBUAH PENDEKATAN INOVASI DALAM PEMBELAJARAN

Supratman Zakir, S. Kom., M. Pd





I. PENDAHULUAN


Pendidikan merupakan hak asasi manusia yang paling mendasar dan bersifat universal. Di Indonesia, kesempatan untuk memperoleh pendidikan di jamin dalam UUD 1945.
Tantangan dunia pendidikan di Indonesia saat ini adalah menyediakan suatu system pendidikan yang mampu menawarkan kualitas pendidikan yang baik bagi upaya pembentukan suatu bangsa yang kuat dan cerdas. Akan tetapi system pendidikan di Indonesia selama ini cenderung terlihat lebih berorientasi dan terfokus pada input pendidikan dan prosesnya. Proses dan Input pendidikan seperti kurikulum, sarana dan prasarana memang sangat penting bagi keberhasilan pembelajaran, akan tetapi akan lebih bijak jika hal-hal yang menentukan keberhasilan sebuah pembelajaran dilihat dari sebuah system menyeluruh yang terdiri dari beberapa sub system terutama kualitas lulusan.
Memenuhi hak asasi warga negara untuk memperoleh pendidikan haruslah terkait dengan mutunya. Dan untuk keperluan tersebut diperlukan adanya system pengendalian dan penjamin mutu pendidikan yang salah satunya dengan penerapan beberapa alternative pendekatan dalam proses pembelajaran seiring dengan upaya pemenuhan sarana dan prasarana yang memerlukan biaya yang besar.
Beberapa pemborosan dalam pembiayaan system pendidikan di Indonesia sampai saat ini masih terjadi walaupun sebagian -orang – kelompok- masih megganggap hal tersebut merupakan sebuah investasi bagi masa depan bangsa. Pembangunan gedung sekolah yang megah, penetaran guru, pencetakan buku menelan biaya yang tidak sedikit, dan hal tersebut akan sia-sia jika tidak menghasilkan lulusan yang bermutu dan kehilangan maknanya. Dengan demikian diperlukan beberapa perubahan salah satunya dengan system pendekatan pembelajaran dalam rangka peningkatan mutu dan penghematan biaya.
Beberapa perubahan dalam pendekatan proses pengajaran dan pembelajaran terjadi akibat dari perubahan era industri ke era Teknologi informasi. Diantaranya ialah perubahan focus dari pada pembelajaran yang berpusat guru kepada pembelajaran yang berpusatkan pebelajar. Dalam hal ini pebelajar menjadi focus aktifitas pembelajaran yang berorientasikan kepada proses penemuan berdasarkan kepada pendekatan teori konstrutivisme.
Upaya dalam peningkatan kualitas lulusan harus dilakukan melalui konsep, strategi yang matang dan kebijaksanaan yang tegas tanpa melupakan pendidikan yang murah dan merata. Hal lain yang juga penting adalah kesadaran bahwa pendidikan harus dilihat sebagai masalah angsa, bukan masalah individu atau keluarga.

a. Website

Website merupakan dokumen-dokumen dalam bentuk elektronik yang saling dikaitkan dengan teknik dan cara tertentu (Tim Berners Lee dalam Raymond MCLeod, Jr)
Beberapa istilah memiliki arti yang sama dengan website diantara adalah : Homepage, Hypertext Webpage, World Wide Web (WWW), walaupun dengan deskripsi dan bahasa yang berbeda digunakan akan tetapi memiliki maksud yang sama.
Local Website berarti dokumen yang berbentuk elektronik dan saling dikaitkan antara satu dengan yang lainnya yang dapat diakses dalam jaringan local seperti Local Area Network (LAN) dan juga dapat diakses dalam computer tanpa jaringan (Stand Alone).
Local Website dapat dirancang khusus guna dimanfaatkan dalam proses pembelajaran. Dalam perancangan website memang membutuhkan beberapa keahlian teknis, seperti keahlian menggunakan software desain (Dream Weaver, Frontpage, Corel Draw, dll)

b. Manfaat Local Website
Secara umum penerapan Local Website dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
  1. 1. Peningkatan produktifitas, melalui Local Website waktu untuk penyampaian materi seperti menulis di papan tulis dapat direduksi atau dikurangi sehingga mahasiswa, dosen dapat lebih banyak berdiskusi atau konsultasi
  2. Fleksibelitas, Local Website sangat fleksibel untuk pengulangan ke materi yang belum sepenuh dikuasai atau bahkan dapat dilanjutkan ke materi selanjutnya jika sebuah materi sudah dikuasai serta
  3. Interaktif, local website dapat dirancang interaktif dengan memasukkan media audio, video, grafis, warna sehingga proses pembelajaran lebih menarik
  4. Dapat diciptakan interaksi yang bersifat real time seperti chatting, dan Net Meeting
  5. Dapat direvisi dan dikembangkan dengan lebih mudah dan cepat karena tidak tercetak dalam media seperti kertas.
  6. Materi pembelajaran atau model akan lebih konsisten, sistematis dan terorganisir sehingga mempermudah siswa mengikuti modul-modul pebelajaran.



III. PEMBAHASAN

a. Desain Local Website

Pada tahap awal Local Website dapat saja dirancang oleh Change Agent sebagai orang yang mendifusikan inovasi tersebut dan berkerja sama dengan beberapa pihak terkait diantaranya adalah Dosen mata kuliah.
Local Website dirancang dengan menggunakan kombinasi dari beberapa software atau program, seperti : Macromedia Dreamwaever MX, Macromedia Flash MX, Macromedia Firework MX, Adobe Photoshop, Corel Draw, dan Corel Photopaint.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam perenacangan adalah, bagaimana wajah atau interface dan layout dari website betul-betul familiar dengan user yang akan menggunakannya, sehingga sangat simple dan praktis dalam pemakaiannya. Walaupun akan dipakai oleh user yang belum pernah menggunakan computer sekalipun.

b. Peralatan yang dibutuhkan

Dalam penggunaan Local Website dibutuhkan ruangan laboratorium computer yang dapat menampung beberapa mahasiswa. Tidak harus setiap mahasiswa menggunakan satu unit computer, bisa saja satu unit computer digunakan oleh 3 orang mahasiswa akan tetapi idealnya satu unit computer untuk 2 orang mahasiswa.

Spesifikasi computer dalam hal ini tidak begitu dituntut yang "high tech". Komputer dengan tipe Pentium I 233 Mhz, Memory 32 Megabyte, Hard disk 1,2 GB sudah cukup untuk penerapan inovasi ini dan akan lebih baik jika spesifikasi computer melebihi spesifikasi di atas.

Dengan pemanfaatan Local Website dalam proses pembelajaran, setidaknya fasilitas yang ada dapat dimanfaatkan dengan optimal disamping akan meningkatkan kinerja baik dari mahaiswa dalam belajar maupun dosen dalam mengajar.

Untuk meyakinkan pihak-pihak di ITP seperti Rektor, Dekan, Ketua Jurusan, Kepala Laboratorium dan para dosen, penulis menggunakan beberapa cara diantaranya :

  1. Menghubungi teman penulis yang kebutulan menjadi dosen di ITP dan juga mengajar dalam mata kuliah bidang computer untuk berkonsultasi dan meminta bantuan untuk mendifusikan hal ini dengan cara mengkomunikasikan dengan dosen-dosen lain.
  2. Mendekati dosen-dosen yang sebidang dengan penulis yaitu yang berlatar belakang computer.
  3. Membuat brosur yang berisi Keuntungan, manfaat dan keunggulan dari Local Website.
  4. Membuat Brosur yang berisi khusus layout Local Website
  5. Meminta waktu pada pihak ITP untuk bertemu langsung dengan Rektor, Dekan, Ketua Jurusan dan Kepala Laboratorium Komputer dalam mengkomunikasikan inovasi ini.

Setelah mendapat persetujuan untuk diuji coba, beberapa hal yang perlu dilakukan adalah :

  1. Mengadakan seminar tentang pemanfatan Local Website berkerja sama dengan BEM ITP, dan meminta bantuan beberapa supplier Komputer untuk menjadi sponsor dan donatur.
  2. Membuat Spanduk besar tentang rencana seminar tersebut dan didukung oleh sponsor.
  3. Menyebarkan brosur ekslusif sekitar tentang Local Website disaat seminar berlangsung. Pencetakan brosur ekslusif dengan dana dari donatur yang sekaligus sebagai sponsor dengan konsekuensi-konsekuensi yang disepakati seperti pencantuman nama dan logo perusahaan donatur.

Setelah kegiatan seminar, penulis sebagai inovator meminta feedback dari pihak ITP sekaligus mohon waktu untuk dilaksanakannya ujicoba perdana atas inovasi ini. Dalam hal ini beberapa hal yang perlu dipertimbangkan adalah :

  1. Berkonsultasi dengan dosen yang mata kuliah-nya diujicobakan.
  2. Mempersipakan atau memeriksa ulang website yang telah dirancang, untuk menghindari hal-hal teknis yang tidak diinginkan, seperi link yang putus dan lain sebagainya.
  3. Disaat uji coba dapat dilakukan oleh penulis sebagai inovator atau juga oleh dosen yang bersangkutan. Jika oleh dosen yang bersangkutan maka perlunya pemahaman yang mendalam sampai kemasalah-masalah teknis disamping masalah pemahaman materi. Untuk ini maka dilakukan konsultasi dengan dosen tersebut sebelum dilakukan uji coba.

Setelah dilakukan ujicoba maka penulis tetap berusaha mendekati pihak-pihak yang kiranya dapat memperkuat inovasi yang penulis bawa. Adapun pihak-pihak tersebut adalah dosen-dosen berlatar belakang yang hamper sama dengan penulis, seperti bidang computer, bidang komunikasi dan teknik informasi dan terutama teman penulis yang terlibat langsung dalam prose pembelajaran di ITP.

III. KESIMPULAN

Penggunaan teknologi computer dalam proses pembelajaran sangat mendukung meningkatnya kinerja mahasiswa dalam belajar dan dosen dalam mengajar sehingga diharapkan akan menghasilkan lulusan yang memiliki kualitas seperti yang diharapkan.
Penggunaan Local Website dalam proser pembelajaran diantaranya merupakan solusi alternative saat ini dalam pemanfaatan fasilitas laboratorium computer yang selama ini hanya digunakan untuk praktek belaka.

Referensi :

Alan Chute, Melody Thompson and Burton Hancock, The McGrow-Hill Handbook of Distance Learning, 1999

http://www.ut.ac.id

http://www.utm.ac.my

Padmo, Dewi (editor), Teknologi Pembelajaran - Upaya Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Sumber Daya Manusia, Universitas Terbuka, Jakarta, 2003

Smith, Belinda, Using The Internet to Conduct Training, Performance in Practise, ASTD, 1996

White Ken W., et al, The Online Teaching Giude, Allyn and Bacon, Boston, 2000

Wardhani, IGAK, Program Tutorial dalam Sistem Pendidikan Tinggi Terbuka dan Jarak Jauh. Jurnal Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh, 1(2), hal. 41-45.