Saturday, 29 September 2007

Posisi Iptek


POSISI IPTEK DALAM DAKWAH
Oleh : Supratman Zakir, S. Kom,. M. Pd


Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia
(Q.S. Ali Imran : 110)


A. PENDAHULUAN

Ilmu dan Teknologi berkembangan sejalan dengan kehidupan manusia itu sendiri. Tidak ada satu bagianpun dari kehidupan manusia yang luput dari sentuhan Ilmu dan Teknologi. Dengan bekal akal pikiran yang dimiliki, manusia senantiasa berinovasi menuangkan fantasi yang ada dalam pikirannya menjadi suatu realita yang berguna bagi kehidupan. Dalam banyak hal, inovasi teknologi lahir dari sebuah tantangan .

Teknologi berasal dari kata Yunani yaitu Teknikos yang berarti dibuat dengan Keahlian. Secara luas, teknologi meliputi semua manifestasi dalam arti materil yang lahir dari daya cipta manusia untuk membuat segala sesuatu yang bermanfaat guna mempertahankan kehidupannya. Teknologi bertopang kepada ilmu-ilmu alam dan eksakta yang mewujudkan ilmu-ilmu perencanaan, konstruksi, pengamanan, tepat guna. Sedangkan dalam teknik modern meliputi bidang Industri, manajemen, perekonomian, kedokteran, fisika/kimia nuklir, kebudayaan, kesenian, politik, sosiologi, dll.

Al-qur’an tidak sedikit berbicara tentang teknologi dalam konteknya dengan aktivitas manusia lainnya, karena memang semua yang ada di dunia ini bersumber dari Al-Qur’an.

Industri kapal Nabi Nuh lahir dari sebuah tantangan bagaimana menyelamatkan kaumnya yang beriman dari banjir besar, hingga sekarang teknologi perkapalan tersebut begitu berkembang dari kapal penangkap ikan, transportasi sampai ke Kapal Perang. Teknologi manufaktur Nabi Daud dan Dzulqarnaian berupa peleburan timah dan besi untuk securitas dan berbagai keperluan seperti pembuatan baja besi dan senjata. Suatu revolusi besar terjadi dalam peradaban manusia setelah ditemukannya logam dan besi yang digunakan untuk kemaslahatan manusia mulai dari peralatan yang kecil seperti jarum sampai pada pesawat super canggih seperti Hercules, F16, Concord, Sukhoi, dan lain sebagainya. Kemajuan teknologi kaca dan Marmer dimulai semenjak zaman Nabi Sulaiman, sementara teknologi Kelautan dijelaskan bagaimana Allah menganugerahkan samudra beserta isinya. Teknologi Antariksa juga kita temukan indikasinya dalam Al-Qur’an dalam Surat Ar-Rahman : 55, Allah menantang manusia untuk menejelajahi ruang angkasa dengan syarat manusia harus memiliki serta menguasai ilmu tentang itu. Semua yang dijelaskan Al-Qur’an merupakan rujukan bagi manusia untuk berupaya meningkatkan pengetahuanya dalam mengembangkan teknologi guna kemaslahatan dan kelangsungan kehidupan manusia itu sendiri. Akankah ilmu dan teknologi tersebut saat ini masih berorientasi pada “Realita yang Berguna” bagi kehidupan manusia ?.


B. PERMASALAHAN

Kemajuan Ilmu dan Teknologi begitu berkembang pesat. Manusia yang dianugerahkan Allah akal pikiran merupakan pelaku sekaligus objek dari teknologi itu sendiri, akan tetapi saat ini manusia hampir (sudah) tidak lagi berada pada posisi garis orbitnya. Hal tersebut karena manusia sudah merasa mampu merencanakan, memproses bahkan menciptakan apa yang ia rasakan (inginkan), sehingga lupa dengan kekuatan yang berada diatasnya (ALLAH). Manusia lebih mementingkan Kecerdasannya (Intelekktualitas/IQ) dan melupakan tugasnya sebagai hamba di dunianya (Spritualitas/SQ) serta lupa dengan sesamanya (Emosional/EQ).

Dengan perkembangan ilmu dan teknologi dan perubahan cara pandang manusia yang tidak lagi pada garis orbitnya, akankah ilmu dan teknologi tersebut masih berorientasi pada “Realita yang Berguna” bagi kehidupan kita ?. Mampukah kita berorientasi pada “Realita yang Berguna” bagi kehidupan terhadap ilmu yang kita miliki sehingga berada pada posisi orbitnya ?. Dimana Posisi Teknologi dalam Pergerakan Mahasiswa Islam ?


(Masih adakah dunia ini jika Matahari, Bulan dan Galaksi-galaksi tidak lagi
berada pada garis orbitnya …?)



C. PEMBAHASAN

Semenjak Allah menciptakan Adam, pertama kali yang diberikan kepadanya adalah Ilmu yaitu Allah mengajarkan Nabi Adam al-asmaa’ dimana tidak satupun ciptaan Allah yang diajarkan ilmu tersebut kecuali kepada Adam. Ini mengindikasikan kepada kita bahwa yang pertama harus dipelajari oleh manusia adalah pembelajaran disamping mengetahui Tuhannya (Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Q.S. Al-Mujadilah : 11). Setelah nabi Adam berada di bumi lalu berkembang biak, beliaupun mengajarkan ilmu kepada anak-anaknya diantaranya, kepada Habil diajarkan ilmu bercocok tanam (pertanian), kepada kepada Qabil beliau mengajarkan ilmu berternak (perternakan) sehingga kedua anak beliau berhasil pada bidangnya masing-masing.

Ilmu pengetahuan dan Teknologi senantiasa memperbaharui teori dan analisis yang lampau dan berlangsung terus menerus sesuai dengan kemajuan zaman. Sampai saat ini ilmu pengetahuan dan Teknologi masih dalam keadaan antara kurang dan lengkap, antara samar-samar dan jelas, antara keliru dan mendekati kebenaran. Pada mulanya ilmu pengetahuan bersifat perkiraan; kemudian meningkat menjadi meyakinkan. Tetapi kebenaran ilmu pengetahuan itu bersifat nisbi. Tidak jarang pula kaidah-kaidah ilmiah yang pada mulanya dianggap akurat dan benar, kemudian ternyata menjadi goyah; yang pada mulanya dianggap mantap, kemudian menjadi goncang.

Dewasa ini, perkembangn Iptek tak ada yang mampu menghalanginya, dengan Teknologi Informasi, manusia saat ini seolah tidak dibatasi oleh lautan yang luas gunung yang menjulang dan jarak yang jauh. Internet, sebuah teknologi spektakuler yang dilahirkan oleh manusia telah mampu merobah sifat, prilaku bahkan kebiasaan manusia itu sendiri. Manusia hampir (tidak)lagi ber-Ilah kepada sang Pencipta yang menciptakan teknologi tersebut, kita hampir kehilangan roh, jiwa bahkan jati diri diakibatkan hasil karya kita sendiri, diakibatkan ilmu yang kita miliki dan kita seolah telah bertuhan kepada hasil cipta dan ilmu yang kita miliki.

Mencermati perkembangan sejarah dalam kaitannya dengan IPTEK, sebagai Mahasiswa yang telah mengikrarkan diri sebagai Mahasiswa Islam, memiliki komitmen dalam pergerakan dan perjuangan, memiliki Visi dan Misi yang jelas, tentu kita tidak ingin terjebak dengan kondisi dan cara pandang kebanyakan orang terhadap Teknologi.

Sebagai insan yang mampu menganalisis, mencermati dan sebagai “decision maker”, kita selayaknya dan bahkan sudah merupakan suatu keharusan, untuk menggunakan teknologi-teknologi yang telah dilahirkan manusia tersebut untuk kepentingan dan kemaslahatan ummat. Kezaliman makin merajalela yang dicover oleh teknologi, teknologi fisika/kimia nuklir digunakan untuk pemusnah massal, teknologi informasi tidak hanya digunakan hanya untuk silaturrahmi dan percepatan informasi, tapi sudah lama digunakan untuk penipuan, media perampokan dan bahkan sebagai media kejahatan terkoodinir. Tidak sedikit kezaliman di Internet, tidak sedikit penipuan via alat komunikasi (telpon, HP). Teknologi Industri Baja tidak lagi hanya untuk membuat alat transfortasi seperti pesawat, mobil, kapal tapi sudah digunakan untuk senjata pemusnah dan lain sebagainya.

Kita tidak bisa menghindar dari Teknologi, karena teknologi bagaikan angin, tiada hambatan dan tiada rintangan. Tapi, kenapa kita harus menghindar ?. Bahkan, sebaliknya kita harus memanfaatkan teknologi tersebut sebagai alat pergerakan dan perjuangan, sebagai media pengcover propoganda-propoganda yang dilancar Neo-Zionisme dan Neo-Orientalisme.

Selama ini telah dibentuk sebuah opini, adanya pemisahan antara dunia (Iptek) dengan Akhirat, dan opini tersebut secara tidak sadar dibenarkan oleh kita sehingga terjadilah kondisi seperti yang sekarang ini. Dunia barat (non Islam) dengan Teknologi-teknologi canggihnya, rata-rata mereka hidup makmur, memiliki tingkat kemampuan SDM yang tinggi, tingkat Intelegensia yang tinggi tapi rendah dalam bidang Spritualitas. Dunia Islam sibuk dengan ilmu Akherat dan melupakan Ilmu dunia (Teknologi) dan kita bisa lihat Dunia Islam mana yang mampu membendung kehendak-kehendak dunia barat ? (Al-Haqqu Bila Nizaam Yughallibul Bathil Bin Nizaam).

Sampai saat ini kita hanya bisa didekte oleh mereka-mereka yang menguasai Teknologi, padahal kita punya kekuatan yang Maha Dahsyat, dalam diri kita ada semangat jihad yang tidak mereka miliki. Tapi sayang kita tidak memiliki Teknologi sehingga kita tetap berada dalam posisi yang lemah. Kita telah melupakan sejarah Industri kapal Nabi Nuh, kita telah melupakan sejarah industri senjata Nabi Daud, kita telah melupakan sejarah Ilmu Pertanian Anak Nabi Adam, kita telah melupakan sejarah kekuasaan Nabi Sulaiman. Sejarah hanya tinggal untuk dibaca tapi tidak lagi memberi atsar (dampak) dan motivasi kepada kita untuk berbuat.

Untuk mengimbangi propaganda-propoganda yang dilancarkan Neo-Zeonisme dan Neo-Orientalesme tersebut, kita lihat kembali cara pandang kita terhadap Teknologi.
1. Kita harus meghapus dikotomi Ilmu (Dunia & Akherat) dan dijadikan satu Formula yang sama-sama penting sebagai Pemimpin di dunia ini dan sebagai hamba-Nya
2. Kita harus mampu melihat bahwa Teknologi merupakan suatu media yang harus digunakan dalam pergerakan dan perjuangan dengan menguasai teknologi.

Untuk menghindari terjadinya Crime Technology atau kejahatan teknologi, perlu diseimbangkan antara Tingkat kemampuan Intelegensia (Intellectual Quotient-IQ), Tingkat kemampuan berinteraksi sesama manusia (Emotional Quotient-EQ) serta tingkat kempuan berkomunikasi dengan Tuhan (Spritual Quotient-SQ), sehingga Teknologi tidak lagi menjadi alat penghancur, pemusnah, penipuan bagi manusia tetapi teknologi akan kembali ke garis orbitnya yaitu “realita yang berguna” bagi kehidupan manusia.

Islam, agama yang universal, memiliki pandangan yang luwes, fleksibel terhadap Teknologi, bahkan merupakan anjuran dan tantangan bagi manusia untuk menguasai teknologi, dan untuk menghindarai dari timbulnya sifat manusia yang selalu merasa diri benar, besar dan meraka berkuasa sehingga apa yang telah diraihnya akan mendatangkan mudharat bagai yang lainnya maka islam telah memberi formula yang sangat ampuh diantara, Rukun Iman dan Islam (lampiran).

Selama ini kita hanya hafal akan Rukun Iman dan Rukun Islam tapi tidak pernah menggunakan rukun iman dan Islam tersebut sebagai barometer dalam memandang kehidupan khususnya yang berkaitan dengan Teknologi guna mengimbangi kemajuan Ilmu dan Teknologi.

Kita sudah berhasil, memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, tapi kita tidak memiliki loyalitas, komitmen, kejujuran dan kepekaan serta tingkat komunikasi kita dengan Tuhan rendah maka hati kita akan buta dan dari sinilah akan timbul orang-orang yang berkhianat, orang-orang yang lupa dengan sesamanya. Sebaliknya Tingkat Kemampuan Intelektualitasnya Tinggi, punya komitmen, punya loyalitas serta punya kepekaan yang tinggi tapi lupa dengan Tuhannya maka akan timbul orang-orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Tuhan yang akhirnya koruptor dan dictator akan mencuat. Begitu juga Tingkat kepekaan sesama sangat bagus, tingkat hubungan dengan Tuhan sangat tinggi tapi tidak memiliki tingkat kemampuan Intelegensia yang memadai maka akan timbul orang-orang petapa, yang melupakan kehidupan dunia, melupakan inovasi, melupakan perubahan, padahal sebaik-baiknya manusia adalah yang manusia yang bermanfaat bagi manusia yang lain. Manusia yang parupurna yaitu manusia yang memiliki tingkat Intelegensia yang memadai, tingkat kemampuan berinteraksi dengan sesama yang baik serta manusia yang memiliki hubungan dengan Tuhan yang harmonis. Manusia-manusia inilah yang akan mampu mengimbangi propaganda-propoganda yang dilancarkan oleh dunia non islam saat ini dan dimasa-masa akan datang.



D. KESIMPULAN
1. Mantapkan komitmen tiada hari tanpa belajar dan dakwah
2. Kuasai Teknologi untuk media pergerakan dan Perjuangan
3. Hilangkan Dikotomi pemisahan Ilmu dalam mempelajarinya dan mantapkan bahwa kedua-duanya harus dikuasai.
4. Jadikan Rukun Iman dan Rukun Islam sebagai barometer dalam proses pencapaian Ilmu dan teknologi
5. Tingkatkan Kemampuan Intelektul dengan terus belajar. Kemampuan berinteraksi dengan loyalitas, kejujuran, kepekaan sesama serta meningkatkan kualitas dan kuantitas kemampuan berhubungan dengan Allah.